Kamis, 24 Oktober 2013

MAKAM BATU AMPAR PAMEKASAN MADURA

KISAH BUJU’ BATU AMPAR, MADURA
Sejarah singkat Pesarean Buju’ Batu Ampar
Inilah kisah yang meluruskan tentang animo masyarakat akan kebenaran silsilah keturunan Auliya’ / Pemuka agama dilingkungan Buju’ Batu ampar. Semata-mata untuk mengembalikan kesadaran kita tentang nilai kebesaran Allah SWT. Seperti yang terdapat di Pesarean Buju’ Batu ampar ini adalah kekasih-kekasih Allah yang telah mendapatkan karomah atas kemurahan rahmat dan hidayah-NYA. Kisah ini semoga menjadi teladan serta penuntun bagi kaum muslimin dan muslimat dalam sebuah perjalanan menuju cita-cita mulia, guna menjadi INSAN KAMIL yang memegang teguh, menjaga serta memelihara kemurnian islam hingga hari yang dijanjikan ( kiamat ). Wallahu a’lam Bisshawab. KH.Ach.Fauzy Damanhuri.

Silsilah Auliya’ Batu Ampar, Madura

§ Sayyid Husein, berputra :

a. Syekh Abdul Manan / Buju’ Kosambi
b. Syekh Abdul Rohim / Buju’ Bire

§ Syekh Abdul manan / Buju’ Kosambi, berputra…

§ Syekh Basyaniah / Buju’ Tumpeng, berputra…

§ Syekh Abu Syamsudin ( Su’adi ) / Buju’ Latthong, berputra 3 :
a. Syekh Husein, berputra : ( ket. Dibawah )
b. Syekh Lukman berputra : Syekh Muhammad Yasin
c. Syekh Syamsudin, berputra : Syekh Buddih

§ Syekh Husein, berputra…

§ Syekh Muhammad Ramly, berputra..

§ KH. Damanhuri, berputra / putri 10 :

1. KH. Amar Fadli
2. KH. Mukhlis
3. KH. Romli
4. KH. Mahalli
5. KH. Kholil
6. KH. Abdul Qodir
7. KH.Ach. Fauzy Damanhuri
8. KH. Ainul Yaqin
9. Nyai Hasanah
10. Nyai Zubaidah

Sayyid Husein

Disuatu desa diwilayah Bangkalan, tersebutlah seorang pemuka agama Islam yang bernama Sayyid Husein. Beliau mempunyai banyak pengikut karena ketinggian ilmu Agamanya. Selain akhlaknya yang berbudi luhur, beliau juga memiliki banyak karomah karena kedekatannya dengan sang Kholiq.Beliau sangat dihormati pengikutnya dan semua penduduk disekitar bangkalan.Namun bukan berarti beliau lepas dari orang yang membencinya. Disebabkan karena mereka iri dengan kedudukan beliau dimata masyarakat saat itu.Hingga suatu hari ada seseorang penduduk yang iri dengki dan berniat buruk mencelakai dan menghancurkan kedudukan Sayyid Husein. Orang itu merekayasa cerita fitnah, bahwa Sayyid Husein bersama pengikutnya telah merencanakan pemberontakan dan ingin menggulingkan kekuasaan raja Madura. Alhasil cerita fitnah ini sampai ditelinga sang Raja. Mendengar kabar itu Raja kalang-kabut dan tanpa pikir panjang mengutus panglima perang bersama pasukan untuk menuju kediaman Sayyid Husein.Sayyid Husein yang saat itu sedang beristirahat langsung dikepung dan dibunuh secara kejam oleh prajurit kerajaan.Mereka melakukan hal itu tanpa pikir panjang dan disertai bukti yang kuat. Akhirnya Sayyid Husein yang tidak bersalah itu wafat seketika itu juga dan konon jenazahnya dikebumikan diperkampungan tersebut.

Selang beberapa hari dari wafatnya Sayyid Husein, Raja mendapat berita yang mengejutkan dan sungguh mengecewakan, serta menyesali keputusannya yang sama sekali tidak didasari bukti-bukti yang kuat. Berita tadi mengabarkan bahwa sebenarnya Sayyid Husein tidak bersalah, karena sesungguhnya beliau telah difitnah.Karena sangat menyesali perbuatannya, Raja Bangkalan memberikan gelar kepada beliau dengan sebutan Buju’ Banyu Sangkah ( Buyut Banyu Sangkah ). Dan tempat peristirahatan beliau terletak dikawasan Tanjung Bumi, Bangkalan.

Sayyid Husein wafat dengan meninggalkan dua orang putra. Yang pertama bernama Abdul Manan dan yang kedua bernama Abdul Rohiim. Kedua putra beliau ini sepakat untuk pergi menghindari keadaan dikampung tersebut. Syekh Abdul Rohim lari menuju Desa Bire ( Kabupaten Bangkalan ), dan menetap disana sampai akhir hayat beliau. Dan akhirnya beliau terkenal sebagai Buju’ Bire ( Buyut Bire ).
Wallahu a’lam

Syekh Abdul Manan ( Buju’ Kosambi )

Lain halnya dengan Syekh Abdul Manan. Beliau pergi mengasingkan diri dan menjauh dari kekuasaan Raja Bangkalan. Hari demi hari dilaluinya dengan sengsara dan penuh penderitaan. Beliau sangat terpukul sekali kehilangan orang yang sangat dikasihinya.Hingga akhirnya beliau sampai disebuah hutan lebat ditengah perbukitan diwilayah Batu ampar ( Kabupaten Pamekasan ). Dihutan inilah akhirnya beliau bertapa / bertirakat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.Dalam melaksanakan hajatnya beliau memilih tempat dibawah Pohon Kosambi. Syahdan tapa beliau ini berlangsung selama 41 tahun. Saat memulai tapa itu beliau berumur 21 tahun. Hingga akhirnya beliau ditemukan anak seorang penduduk desa ( Wanita ) yang sedang mencari kayu dihutan.

Singkat cerita akhirnya Syekh abdul Manan dibawa kerumahnya. Dari hubungan tersebut, timbullah kesepakan antara orang tua si anak tersebut untuk menjodohkan Syekh abdul Manan dengan salah seorang putrinya. Sebagai tanda terima kasih, beliau memilih si sulung sebagai istrinya, walaupun dalam kenyataannya sisulung menderita penyakit kulit. Anehnya terjadi keajaiban di hari ke 41 pernikahan mereka.Saat itu juga sang istri yang semula menderita penyakit kulit tiba-tiba sembuh seketika. Dan bukan hanya itu kulitnya bertambah putih bersih dan cantik jelita, sampai-sampai kecantikannya tersiar kemana-mana.Dan konon kabarnya pula bahwa Raja Sumenep mengagumi dan tertarik akan kecantikan istri Syekh Abdul manan ini.

Dari pernikahan ini, beliau dikarunia seorang putra yang bernama Taqihul Muqadam, setelah itu menyusul pula puta kedua yang diberi nama Basyaniah. Setelah bertahun-tahun menjalankan tugasnya sebagai Khalifah, akhirnya beliau wafat dengan meninggalkan dua orang putra. Jenazahnya dimaqamkan di Batu Ampar dan terkenal dengan julukan Buju’ Kosambi. Dan putra pertama beliau juga saat wafat jenazahnya dikebumikan didekat pusaranya. Wallahu a’lam

Syekh Basyaniah ( Buju’ Tumpeng )

Putra kedua Syekh Abdul manan yang bernama Basyaniah inilah yang mengikuti jejak ayahanda. Beliau senang bertapa dan cenderung menjauhkan diri dari pergaulan dengan masyarakat. Dan beliau juga selalu menutupi karomahnya.Ketertutupan beliau ini semata-mata bertujuan untuk menjaga keturunannya kelak dikemudian hari agar menjadi insan kamil atau manusia sempurna dan sholeh melebihi diri beliau serta menjadi khalifah yang arif dimuka bumi.

Dalam menjalani hajatnya beliau bertapa dan memilih tempat disuatu perbukitan yang terkenal dengan nama Gunung Tompeng yakni suatu bukit sepi dan sunyi yang penuh dengan tanda-tanda kebesaran Illahi. Bukit tersebut terletak kurang lebih 500 m arah barat daya ( antara Barat-Selatan ) dari Desa batu Ampar.

Saat wafatnya beliau meninggalkan seorang putra yang bernama Su’adi atau terkenal dengan sebutan Syekh Abu Syamsudin dan mendapat julukan Buju’ Latthong. Sedang jenazah Syekh Basyaniah dikebumikan berdekatan dengan pusara Ayahanda. Beliau akhirnya mendapat julukan Buju’ Tumpeng. Wallahu a’lam


http://ketut99cell.blogspot.com/2012/05/makam-batu-ampar-madura-buju-batu-ampar.html

Syaikh Abd al-Haq Bandyalwi

Mahkota para ahli hukum Islam - Syaikh Abd al-Haq Bandyalwi Hafidahullah dari Pakistan:

"Taj al-Fuqaha" (mahkota ahli hukum Islam), Allamah Syaikh Abd al-Haq Bandyalwi mungkin adalah "terbesar otoritas ilmiah diterima" hidup di antara Ahl al-Sunnah kalangan ulama saat ini di Pakistan. Pada usia sembilan puluh (90) ia memandangi lautan ulum dan irfan ayah terhormatnya "Faqih al-Asr" (ahli hukum yang paling menonjol di jamannya) Yar Muhammad Bandyalwi فقيه العصر استاذ العلماء العلامة يار محمد بنديالوي (w. 1947CE) yang adalah guru yang paling diingat dan diterima menguasai ilmu-ilmu Islam dan rasional, "Malikul ulama" (Raja ulama) Syaikh Ata Muhamad Bandyalwi ملك العلماء عطا محمد بنديالوي (d.1991CE) dan grand-mahasiswa Allamah Fazle-Haq Khayarabdi (1857CE) رحمهم الله اجمعين.
Mereka menyadari ilmiah tradisi isnad ( link guru siswa ) Pakistan menyadari bahwa Madrasah dari Bandyal (Distrik Khushab , Punjab ) adalah pembawa bendera dari Allamah Fazl - e Haq Khairabadi ini ( w. 1857CE ) silsilah dari khayrabadiyah dalam mengajar . Ini telah menghasilkan dalam jumlah banyak ulama besar selama 100 tahun terakhir ( didirikan oleh Allamah Yar Muhammad di 1910CE ) sekitar dua ratus 200 yang menjadi guru terbesar Pakistan menanamkan ilmu-ilmu Islam dan mengeluarkan fatwa seperti sharih Bukhari Allamah Ghulam Rasul Rizvi , rekan Muhammad Chishti , Allamah Ghulam Rasool Saidi , Allamah Abd al - Hakeem Sharaf Qadri ( salah satu guru saya ) , Allamah Ghulam Muhammad Tonswi ( di bawah siapa saya studyied ) , Ghulam Muhammad Sharaqpuri , Keadilan rekan Muhammad Karam Shah dll Semua yang Sufiya utama dan rekan sahibs Pakistan akan mengirim anak-anak mereka ke madrasah dari Bandyal untuk mencapai Silsilah Khayrabadiyah ( link ke Allamah Fazle Haq ) dan itulah mengapa kita menemukan kepribadian utama Shareef Sayyal , Golra Shareef , Baseerpur Shareef , Sultan - e - Bahu Jahng Shareef ( Pir Sultan Mu'azhzham ) adalah mahasiswa dari Bandyal Madrasah .
Allamah Abd al-Haq Bandyalwi, berkat hidup ini Silsilah Khayarabadiyah, adalah guru tercapai penuh menjadi dewasa dari semua ilmu ditransmisikan dan rasional, yang diajarkan dan tersembunyi. Ia belajar di bawah ayahnya terhormatnya, kemudian di bawah "Malikul ulama" Ata Muhammad Bandyalwi, "Muhaddise Azam Paksitan" Allamah Sardar Ahamd Qadiri dan Allamah Muhammad Deen Badhoowale (yang terakhir adalah juga guru dari jurusan seperti Huzur Syaikh al-Islam Shah Qamarudeen Siyalwi dan Hazrat Sayyid Zubair Shah Chakwal). Syaikh itu taqwa & wisdome terlihat dari jauh dan pengetahuan dan pemeriksaan ulum telah menjadi subyek dari ratusan ulama selama bertahun-tahun. Tidak ada keraguan bahwa ia adalah tanda hidup para pendahulu kita yang mulia dan ensiklopedi berjalan dari ilmu.
Alhamdulillah, dengan duas jenis yang ditawarkan oleh orang tua dan guru saya, Syekh menerima saya dan rekan saya Allamah Sayyid Gazanfar Shah Sahib dari Shahdarah Lahore, kalangan mahasiswa terkecil nya di Madrasah Bandyal pada hari Minggu 11 Maret - 17 Rabi al-Thani 1433H tahun lalu. Allahu akbar! Dia membacakan kepada kami awal dari kompilasi Hadis "Mishkat al-Masabeeh" dan berikan kami dengan jubbahs dan khilafat di pertemuan pribadinya.

The Silsilah Khayrabadiyah (dari bawah ke atas):

4. Allamah Fazle Haq Khayrabadi (rahimahullah)
3. llamah Hidayatullah Jawnpuri (rahimahullah)
2. Faqih al-Ashar, Yar Muhammad Bandyalwi (rahimahullah)
1. Huzur Sayyidi Taj al-Fuqaha, Abd al-Haq Bandyalwi (hafizahullah)
Jalur ini menghubungkan saya untuk Allamah Fazl-e-Haq Khayrabadi melalui hanya 3 orang, alhmadulillah, kemungkinan rantai terpendek saat ini. Saya diberkati dengan khilafat (izin) di dalam silsilah Saabriyyah Chishtiya Haji Imdadullah Makki melalui Syaikh menghubungkan saya dengan legenda terhormat melalui hanya 2 orang yang juga sesingkat mungkin tautan hari.

Semoga Allah SWT membuat ijazah ini pembuka bagi saya di Pengadilan Ilahi, membawa saya lebih dekat dengan Noble Habeeb SallalAllahu alaihi wa sallam dan merefleksikan tajalliyaat dan Barakaat dalam hidup saya dan akhirat, amiin. Semoga semua teman-teman dari Allah SWT diberi imbalan yang terbaik dari penghargaan. Semoga kita semua diberikan kasih, adab dan ishq dari awliya, amiin.
Terlampir adalah gambar majlis kita dengan Syekh di Madrasah dari Bandyal (Tajul Fuqaha, Abdul Haq Bandyalwi, semoga Allah SWT menjaganya).

- Syaikh Monawar Ateeq Hafidahullah




KYAI TELINGSING

Sebelum berdirinya Kerajaan Islam di Demak, terjadilah kejadian yang menggemparkan di daerah Kudus. Peristiwa itu terjadi pada diri Kanjeng Sunan Sungging. Pada suatu hari Kanjeng Sunan Sungging bermain layang-layang tersiratlah niat beliau untuk melihat dan berkeliling Wilayah Nusantara. Maka mulailah beliau merambat melalui benang layang-layang yang sedang melayang diangkasa. Pada waktu Kanjeng Sunan Sungging sampai ditengah-tengah angkasa, putuslah benang tersebut dan melayanglah beliau bersama layang-layang tersebut hingga sampai ke Tiongkok. Selang beberapa tahun, Kanjeng Sunan Sungging mempersunting seorang gadis Tiongkok. Dalam beberapa tahun kemudian hamillah istri tersebut dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama The Ling Sing. Setelah The Ling Sing menginjak dewasa, maka ayahandanya Kanjeng Sunan Sungging memberi petuah kepada anak tersebut. Apabila engkau ingin menjadi orang yang mulia di dunia dan akherat, maka ikutilah jejakku. Apakah yang ayahanda maksudkan ? Pergilah kau ke Kudus yang termasuk wilayah Nusantara, disanalah aku pernah berdiam. Maka berangkatlah The Ling Sing ke Kudus. Setelah ia sampai ketempat yang dituju, maka mulailah The Ling Sing menyiapkan diri untuk membenahi sekelilingnya dan berdakwah. Dimana pada waktu itu masyarakat Kudus masih kuat memeluk agama hindu. The Ling Sing yang lebih terkenal dengan sebutan Kyai Telingsing yang telah lama berdakwah telah lanjut usia dan ingin segera mencari penggantinya. Pada suatu hari Kyai Telingsing berdiri sambil menengok kekanan dan kekiri. (bahasa Jawa Ingak-Inguk) seperti mencari sesuatu. Tiba-tiba Sunan Kudus muncul dari arah selatan, dan secara tiba-tiba Sunan Kudus membangun masjid dalam waktu yang amat singkat, bahkan ada yang mengatakan masjid itu muncul dengan sendirinya. Berhubung dengan hal tersebut desa tempat masjid tersebut berdiri dinamakan desa Nganguk dan masjidnya dinamakan masjid nganguk wali. Akhirnya kedua tokoh tersebut bekerja sama dalam mengembangkan dakwah di Kudus. Dan dengan taktik dan siasat dari Kyai Telingsing dan Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) akhirnya berhasillah cita-cita keduanya untuk menyebarkan Islam di Kudus. Pada suatu hari Sunan Kudus akan kedatangan rombongan tamu dari Tiongkok. Maka dipanggillah Kyai Telingsing untuk membuat sebuah kenang-kenangan kepada tamu tersebut. Oleh Kyai telingsing dibuatlah sebuah kendi yang bertuliskan indah di dalamnya. Setelah kendi tersebut jadi, maka segera diberikan kepada Sunan Kudus. Sunan Kudus setelah melihat kendi yang menurutnya kurang bagus dan biasa-biasa saja yang tidak pantas untuk dihadiahkan kepada tamu dari Tingkok tersebut, wajahnya berubah sinis dan menerimanya dengan kurang berkenan dan dilemparlah kendi tersebut. Setelah kendi tersebut pecah, terdapatlah lukisan yang indah, dimana ditengah-tengahnya tertulis kalimat syahadat. Seketika itu terperanjatlah beliau menunjukkan kekagumanya, sehingga beliau menyadari, betapa kyai Telingsing adah seorang yang memiliki karomah. Diantara sabda dari Kyai Telingsing, “Sholat Sacolo Saloho Donga sampurna", artinya : Sholat adalah sebagai do’a yang sempurna Lenggahing panggenan Tersetihing ngaji artinya : Menempatkan diri pada sesuatu yang benar, suci dan terpuji. Beliau kini makamnya di kampung sunggingan-Kudus. Ada sebagian orang yang mengatakan kalau beliau adalah seorang pemahat yang masuk dalam aliran Sun Ging. Dari nama Sun Ging inilah kemudian terjadi kata Nyungging yang artinya memahat atau mengukir, dan dari kata Sung Ging itu pulalah terjadi namanya Sungingan sampai sekarang ini. ( H. Zawawi Mufid)

http://zulfanioey.blogspot.com/2012/01/kyai-telingsing.html

Kiai Munawar Kholil

Wariskan Pesantren untuk Umat

”AULADIHI, wauladi auladi wal muslimin ila yaumil qiyamah”. Demikian sepenggal wasiat Almarhum Kiai Munawar Kholil kepada delapan anaknya sebelum wafat pada Juli lalu. Menurut Aslamuddin (39), putra ketiganya, pesan itu hingga kini masih dipegang teguh anak cucunya. ”Pesan Kiai Munawar jika diterjemahkan berarti, semua diwakafkan untuk anak cucu dan semua kaum muslimin hingga hari kiamat,” kata Gus Aslam, sapaan akrab Aslamuddin.

Lantas apa yang diwakafkan Kiai Munawar kepada umat Islam? Sebidang tanah yang di atasnya berdiri Masjid Jami’ Baiturrahman, pondok pesantren, Madrasah Al Maram, serta kediamannya.

Tanah dan bangunan yang diwakafkan luasnya mencapai kurang lebih 8.000 m2. Letaknya di bantaran Sungai Lusi Desa Menduran, Kecamatan Brati Grobogan. Bangunan tersebut memiliki keunikan, karena semuanya dikerjakan sendiri oleh Kiai Munawar dengan bantuan para santri sejak 1971. Seakan tidak kenal lelah, kiai sepuh itu terus berkarya hingga menjelang wafatnya belum lama ini. Dia, sesekali masih terlihat nukang di usianya yang saat itu sudah mencapai kepala tujuh.

Cinta Rasulullah

Selain meninggalkan bangunan rumah, madrasah, dan pesantren, untuk syiar Islam di Grobogan, Kiai Munawar tidak lupa meninggalkan pesan untuk selalu mencintai dzuriyah rasul (keluarga Rasulullah). Menurut Ketua Jamaah Burdah Ahbabul Mustofa Cabang Grobogan tersebut, kecintaan itu diungkapkan Kiai Munawar melalui jalinan silaturahmi dengan para habib. Menurut Aslamuddin, kecintaan abahnya terhadap dzuriyah rasul dimulai ketika bertemu Habib Husein Bin Hasan Alaydrus dari Solo pada 1980-an.

Kiai Munawar yang merupakan besan KH Abdullah Faqih, pengasuh Ponpes Langitan Tuban itu, bahkan mendirikan Jamiyyah Thariqoh Alawiyin yang di dalamnya dibacakan beberapa ratib (doa) untuk mempertebal rasa kecintaannya terhadap keluarga Baginda Nabi. Di antaranya bacaan ratibul attas, ratibul hadad, ratibul idrus, dan ratibul muhdlar. ”Semua doa bersumber dari habib yang merupakan keturunan langsung Rasulullah,íí terangnya.

Tak hanya itu, Kiai Munawar juga membangun puluhan kamar khusus bagi habib yang singgah di tempatnya. Selain itu juga disediakan kamar untuk sejumlah tokoh masyarakat, pejabat, dan ulama sepuh. Layaknya penginapan, kamar dilengkapi dengan taman dan sejumlah fasilitas. Kamar-kamar itu kerap pula digunakan menginap sejumlah tokoh masyarakat, pejabat, dan ulama sepuh.

Apalagi saat digelar acara Haul KH Kafiluddin, tamu bisa mencapai ratusan orang. KH Kafiluddin adalah ulama Madura cikal bakal Desa Menduran yang makamnya terletak di lingkungan pondok.

Selain puluhan kamar, dibangun pula sebuah benteng kokoh sepanjang 80 m dengan ketebalan 1,75 m. Benteng melindungi masjid dari gempuran Sungai Lusi jika airnya meluap. 


Oleh Hari Santoso
Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA Jumat, 14 September 2007
http://ahlussunahwaljamaah.wordpress.com/manakib/kiai-munawar-kholil/

Kiai Khalil Abu Ammar

Tidak Tidur Sepanjang Malam Demi Mentelaah Kitab

Latar belakang kelahiran Nama sebenar beliau ialah Ma'sum bin Muzayyin dan berasal dari Lasem Jawa Tengah, Indonesia. Lasem dikenali sebagai Tiongkok kecil kerana merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa. Beliau dilahirkan pada awal tahun 1990an, namun tanggal kelahiran beliau tidak dapat dipastikan secara tepat. Penukaran nama kepada Muhammad Khalil adalah kerana mengambil tabarruk guru yang dikasihinya yang bernama Kiai Khalil Bengkalan yang berasal dari Pulau Madura Jawa Timur. Maka masyhurlah nama beliau di Malaya pada ketika itu dengan nama Kiai Khalil Bin Abu Ammar. Sementara ayahnya iaitu Kiyai Muzayyin, menukar nama kepada Kiai Abu Ammar selepas menunaikan haji di Mekah al-Mukarramah. Ini kerana telah menjadi adat masyarakat Jawa akan menukar nama yang baru setelah menunaikan haji. Ia juga berkemungkinan tabarruk nama panggilan baru dengan tanah suci Mekah yang penuh barakah. Pendidikan awal Beliau mula belajar di Pesantren Rembang dan kemudian berpindah ke Pesantren Pati, dan akhir sekali di Tebu Ireng Jombang Jawa Timur. Dikatakan pada awal pengajiannya, beliau selalu cuai dalam belajar. Sikap beliau tersebut sampai kepada pengetahuan bapanya, lalu beliau dipanggil pulang dan diserahkan tugas memelihara kambing ternakan. Setelah melalui tugasan tersebut, maka beliau menyedari bahawa peritnya sebagai penggembala kambing. Ekoran itu, beliau memohon kepada ayahnya untuk kembali meneruskan pembelajaran di pondok. Di Pondok Tebu Ireng , beliau telah berguru dengan Kiai Hasyim Asy'ari. Kiai Hasyim Asy'ari adalah seorang ulama terkenal di Indonesia dan merupakan salah seorang pengasas Nahdhatul Ulama (NU). Di samping itu, Kiai Khalil turut berguru dengan Kiai Khalil Bengkalan/Madura, iaitu ulama yang diambil tabarruk namanya.Kiai Khalil Bengkalan/Madura merupakan guru kepada Kiai Hasyim Asy'ari sewaktu beliau belajar di daerah Madura. Namun terjadi satu peristiwa pelik di mana Kiai Khalil Bengkalan datang untuk berguru dengan bekas anak muridnya di Tebu Ireng. Puas ditolak namun Kiai Khalil Bengkalan tetap dengan pendiriannya untuk berguru dengan Kiai Hasyim Asy'ari. Akhirnya permintaannya itu dipersetujui beliau. Kiai Khalil Bengkalan/ Madura adalah seorang yang mahir dalam pelbagai ilmu, terutama dalam ilmu Nahu, Sorof, Balaghah, Fiqh dan lain-lain. Hasil perguruan ulama yang dibicarakan ini dengan Kiai Khalil Bengkalan/Madura tersebut, beliau mempunyai kemahiran yang agak luar biasa dalam ilmu nahu bahasa Arab. Antara kitab yang menjadi kebiasaan dalam kelasnya ialah kitab Alfiah. Hal ini turut diperakui sendiri oleh Sheikh Mahmud al-Bukhari, yang menyatakan bahawa kemahirannya mendatangkan syahid dalam masalah nahu Arab, sehingga digelar sebagai Khalil Imran. Menurut Ustaz Ahmad Mukhit, iaitu Mu'allim Indra Wangsa, menyatakan bahawa Kiai Khalil belajar hanya tiga tahun sahaja. Namun dalam masa tersebut beliau dikurung oleh gurunya dan menghabiskan seluruh masanya untuk mempelajari pelbagai ilmu. Dikatakan beliau tidak tidur sepanjang malam untuk mentelaah kitab-kitab sehingga menjelang Subuh. Bahkan, beliau juga dikatakan mendapat ilmu secara ladunni. Karya penulisan Kiai Khalil bin Abu Ammar juga menghasilkan karya-karya penulisan yang banyak. Boleh dikatakan hampir kesemua karya penulisan beliau adalah berasal daripada tulisan tangan beliau sendiri. Berdasarkan penemuan karya penulisan tersebut, dilihat beliau banyak menghasilkan karya-karya dalam bidang-bidang tertentu iaitu ilmu nahu bahasa Arab, ilmu Falak, ilmu Qawa'id Fiqh dan sebagainya. Kewafatan Ketika berusia lebih 70 tahun, beliau kembali ke rahmatullah pada penghujung tahun 1978 selepas menunaikan haji bersama isteri, Nyai Salbiah dan anak perempuan mereka, Hajah Sofiyyah di Mekah. Jasadnya telah disembahyangkan di hadapan Kaabah dan dikebumikan di perkuburan Ma'la.

Sumber:Utusan Malaysia, ruangan Ulama Nusantara, 15 Disember 2008
http://zulfanioey.blogspot.com/2012/02/kiai-khalil-abu-ammar-tidak-tidur.html

Kyai Kasan (Sayyid Abu Bakar Alaydrus )

Salah satu riwayat menyebutkan bahwa pada zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia, salah satu pahlawan yaitu Pangeran Diponegoro memiliki pasukan yang bermarkas di Desa Ngasinan, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Pasukan tersebut dipimpin oleh seorang panglima perang bernama Tanggono Puro dengan seorang penasehat bernama Kyai Kasan Wirodikromo. 
Kyai Kasan sendiri mempunyai nama asli Sayyid Abu Bakar Alaydrus. Pasukan tersebut berhasil melakukan tugasnya yaitu memutus jalur hubungan Belanda Jawa Tengah dan Jawa Timur dari daerah Lasem hingga Pacitan walaupun hanya dalam waktu tiga hari. Oleh Pangeran Diponegoro pasukan itu diberi gelar “MALANG NEGORO”. Walaupun hanya tiga hari, namun momen tersebut menunjukkan eksistensi perjuangan rakyat Indonesia pada umumnya dan perjuangan Pangeran Diponegoro pada khususnya. Sedangkan Tanggono Puro dan Kyai Kasan dimakamkan di Desa Ngasinan, Kecamatan Padangan. Hingga saat ini masyarakat setempat menjuluki Tanggono Puro sebagai Mbah Malang Negoro.

Written By Hamba Allah
http://sobomakam.blogspot.com/2012/12/makam-mbah-malang-negoro.html

Kyai Gede


Makamnya di Kecamatan Kotawaringin Lama, selalu diziarahi. Dialah Kyai Gede, tokoh penyebar agama Islam di Kab Kotawaringin Barat 
Makamnya Tiga Meter
Komplek makam yang tidak jauh dari komplek Astana Al Noorsari, nampak tak berbeda dari kubah lainnya yang mungkin pernah kita saksikan. Namun yang satu ini terlihat kokoh dan permanen, karena baru direnovasi. Tambahan, begitu memasuki ruangan, kita pasti langsung terkesima.
Bagaimana tidak, antara dua makam yang terdapat di dalam kubah, ada perbedaan yang sangat mencolok menyangkut ukuran. Jika yang satunya berukuran normal, lainnya memiliki panjang hampir tiga meter. Dan makam berukuran lebih panjang inilah tempat persemayaman terakhir Kyai Gede, tokoh penyebar agama Islam di Kotawaringin.
"Kuburannya memang panjang sekali, tidak seperti orang pada umumnya, sekitar tiga meteran. Sedang kubur yang satunya adalah makam salah seorang pengikut setianya," ujar pengurus kubah, Abdullah Sani.
Itu pun imbuhnya, berdasar cerita posisi tubuh Kyai Gede saat dimasukkan dalam peti dan liang lahat, harus dilipat sampai tiga kali agar muat. Bahkan seperti penuturan Ahmad Yusuf (60 th) pemelihara Astana Al Noorsari, jarak antara kedua puting susu Kyai Gede tidak kurang dari tujuh kilan atau setara 1,5 meter.
Itulah, karena ukuran tubuhnya yang tinggi besar, masyarakat percaya kalau Masjid Djami Kotawaringin yang hingga kini masih berdiri kokoh, adalah buah adi karya Kyai Gede.
"Masjid Djami berdasar cerita dibangun Kyai Gede di pedalaman, kemudian dibawanya langsung sendiri ke Kotawaringin," papar Abdullah Sani.
Tokoh penyebar agama Islam yang hidup semasa dengan raja pertama Kotawaringin, Pangeran Adipati Anta Kasuma, memperkenalkan Islam hingga ke pedalaman dan hulu-hulu sungai. Bahkan menurut buku "Sekilas mengenang lahirnya Kerajaan Kotawaringin dan Kabupaten Kotawaringin Barat" yang diterbitkan Humas dan Penerangan Setwilda Kobar 2001, Kyai Gede sudah lebih dahulu berada di daerah ini ketika Pangeran Adipati dan rombongan masih berusaha membangun kota baru.
Berdasar penuturan Gusti Rasyidin yang masih keturunan Raja Kotawaringin ke VII Gusti Sultanul Baladuddin Gelar Pangeran Ratu Begawan, Kyai Gede juga dianggap berperan dalam proses pembentukan dan pendirian kerajaan.
"Menurut Kyai Gede, biar rakyat tidak membayar upeti lagi ke Kerajaan Banjar, baiknya mereka mendirikan kerajaan atau kesultanan," ujar Rasyidin. Dan peran Kyai Gede oleh Pangeran Adipati sangat dihargai sehingga kemudian menduduki jabatan sebagai Mangkubumi kerajaan hingga wafatnya yang diperkirakan tahun 920-an H.
Dua Versi 
Namun menyangkut asal muasal Kyai Gede, ada dua versi sejarah yang sampai ke masyarakat. Versi pertama persis seperti yang dipercaya masyarakat umum dan disampaikan Abdullah Sani juga tertera di dalam kubah, mengatakan Kyai Gede berasal dari Demak dan masuk ke Kotawaringin tahun 1595. Versi lainnya, tokoh ini murni penduduk asli Kotawaringin, bukannya berasal dari Demak.
Berdasar catatan sejarahnya, Abdullah Sani memaparkan kalau Kyai Gede adalah ulama yang berasal dari Demak. Namun karena sikap membangkangnya, akhirnya diusir dan dibuang dari kerajaan. Oleh Raja Demak ketika itu, Kyai Gede beserta pengikutnya dilarang melakukan peperangan pada hari Jumat.
Namun perintah raja ini malah tak diindahkan. Ketika melakukan peperangan, pasukannya kalah. Akhirnya dia harus menanggung konsekuensinya, di buang jauh dari kerajaan dan akhirnya terdampar di Kerajaan Banjar setelah sebelumnya sempat melalui Gresik.
Pada masa itu, kerajaan Banjar dibawah kekuasaan Pangeran Suriansyah yang sebelum masuk Islam bergelar Pangeran Suryanata. Oleh Pangeran Suriansyah, Kyai Gede dengan didampingi khatib Dayan diutus untuk menyebarkan Islam ke Kotawaringin Barat, kala itu tahun 1595 M.
Dengan pengikut tak kurang dari 40 orang disertai khatib Dayan, berangkatlah Kyai Gede menyusuri Sungai Arut hingga ke pedalaman Sungai Lamandau dan Balantik, Nanga Bulik, Sukamara. Dalam perjalanannya menyebarkan Islam, akhirnya Kyai Gede bertemu dengan Pangeran Adipati Anta Kasuma putra Sultan Musta'inubillah Raja Kerajaan Banjar. Selanjutnya berdirilah kerajaan Kotawaringin dengan Kyai Gede sebagai Mangkubumi pertamanya mendampingi Pangeran Adipati Anta kasuma.
"Ini dapat dibuktikan dengan adanya tulisan berbahasa Jawa yang tertera pada beduk yang ada di Masjid Djami Kotawaringin," jelas Abdullah Sani.
Sementara versi lain, seperti dipaparkan Gusti Djendro Suseno, Kyai Gede tidak lain adalah Kyai Gade putra asli Kotawaringin, bukan berasal dari Demak. Dari catatan sejarah yang dimilikinya, Kyai Gade dan Pangeran Adipati Anta Kasuma keberadaannya tidaklah sejaman.
"Berabad-abad jaraknya, dan ini bisa dibuktikan dengan penelusuran sejarah mulai Sultan Suriansyah berkuasa yang kemudian katanya mengutus Kyai Gede ke Kotawaringin," jelas Djendro Suseno. Dan dia tak menampik kalau Masjid Djami Kotawaringin dapat dijadikan bukti keberadaan Kyai Gede atau Gade. Masjid yang menurutnya memang dibangun Kyai Gede, benar memiliki sebuah beduk bertuliskan huruf Jawa.
"Kebetulan saya bisa membaca huruf Jawa, dan terbukti kalau Kyai Gade tidaklah sejaman dengan Pangeran Adipati Anta Kasuma, Raja pertama Kerajaan Kotawaringin," ujar Djendro yang juga masih keturunan Kerajaan Mataram dari garis ibu.
Dan bukti lain lanjutnya, berdasar kebiasaan, seorang ulama atau penyebar agama Islam di daerah ini biasa disebut "Syekh". Sedang gelar Kyai biasa diperuntukkan bagi seseorang yang memiliki keahlian atau ilmu di bidang tertentu.
Di belakang makam Kyai Gede pun menurut Djendro, terdapat semacam batu pemujaan terhadap nenek moyang atau menhir. Menhir ini sebagai petunjuk bahwa dahulunya Kyai Gede adalah orang Kotawaringin yang dulunya juga penganut agama nenek moyang. Sejalan perubahan waktu, batu pemujaan ini pun mengalami perubahan nama sesuai dengan orang-orang sekitarnya.
"Orang penganut agama nenek moyang menyebut lain dan yang beragama Islam menyebut lain juga sesuai keyakinannya. Padahal obyeknya sih sama saja," tandasnya.
Keberadaan Kyai Gede sebagai penduduk asli Kotawaringin semakin diperkuat dengan banyaknya peziarah bukan dari kalangan muslim semata, tapi juga dari penduduk yang bukan beragama Islam. Yang menurut Djendro Suseno, tentu ini mereka lakukan karena merasa memiliki hubungan darah dengan beliau.
--------------------------------------------
Nama Beliau Abdul Qadir Assegaf
Berdasar pengetahuan yang dimilikinya, Abdullah Sani begitu meyakini kalau sesungguhnya tokoh penyebar agama Islam di Kotawaringin ini, memang berasal dari Demak, lain tidak.
"Beliau yang bernama asli Abdul Qadir Assegaf berasal dari Demak, kemudian ke Gresik dan langsung ke Kerajaan Banjar," ujar Abdullah Sani, sembari menunjukkan peta perjalanan Kyai Gede yang terdapat di dalam kubah. Ketika ditanya apakah Kyai Gede memiliki keturunan, Abdullah Sani yang baru beberapa bulan lalu menggantikan penjaga makam yang telah meninggal, Kyai Gede sendiri sepengetahuannya, begitu meninggalkan Demak dan menjejakkan kakinya di Kotawaringin, tidak pernah lagi melangsungkan pernikahan.
"Istri beliau ya Nyai Gede dan tetap berada di Demak ketika Kyai Gede di buang dan kemudian terdampar di Kerajaan Banjar," tukasnya sembari menyanggah kalau Kyai Gede pernah melangsungkan pernikahan dengan penduduk setempat.
Sedang keberadaan Kyai Gede selanjutnya, menurut Abdullah, bersama Khatib Dayan dan 40 orang pengikut, oleh Sultan Suriansyah diperintahkan menyebarkan agama Islam ke arah Barat yaitu Kotawaringin. Hingga akhirnya bertemu Pangeran Adipati Anta Kasuma yang ingin mendirikan kerajaan dan berdirilah Kerajaaan Kotawaringin tahun 1598 M.
"Ini dapat dibuktikan dengan adanya tulisan berbahasa Jawa yang tertera pada beduk yang ada di Masjid Djami Kotawaringin," jelas Abdullah Sani.



Maulana Sayid Abdussalam Kyai Gede Penatas Angin Pekalongan Pukangan

Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari

Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari lahir tahun 1754 dan wafat tahun 1904. Dimakamkan di pemakaman keluarga yang dikelola oleh ahli waris beliau di Jalan raya Nglames, Madiun, Jawa Timur. Jarak perjalan  dari pusat kota adalah 30 menit. Ambil arah menuju Magetan (apabila melewati Pabrik Gula, lurus saja), makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari berada di kanan jalan dengan plang makam sebagai petunjuk jalan makam.
Letak makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari berada di belakang makam umum dan terletak di samping Mesjid. Makam yang terjaga keasrian dan ketenangannya serta berada di cungkup yang nyaman, membuat kusyuk doa - doa yang kita panjatkan. Di areal makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari terdapat keturunan beliau. Menurut Eyang Sri Koeswati Soegiarso, ahli waris makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari makam tersebut dipindahkan dari makam beliau ke Nglames, Jawa Timur dikarenakan tanah makam yang lama dijadikan tanggul bengawan Madiun.
Makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari yang didirikan diatas tanah hak milik Ir, Soegiarso Padmopranoto oleh kantor Agraria Kabupaten Madiun untuk difungsikan sebagai makam pengganti dengan seijin Bupati Madiun. Makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari di Nglames, Madiun merupakan makam keluarga yang dijaga oleh seorang juru kunci yang rumahnya berada tidak jauh dari makam. Makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari selalu dalam keadaan terkunci


Kisah Karomah Anas bin Malik dan Umar bin Khottob ra

Sosok Anas bin Malik ra sangatlah sederhana. Anas bin Malik sbg seorang sahabat banyak sekali memiliki kekurangan. Anas adalah orang yg tdk memiliki keahlian, apalagi dalam hal berperang serta dikenal kurang pintar. Namun Umar bin Khattab malah memberikan Anas kepercayaan utk selalu mendampinginya dlm melakukan perjalanan mensyiarkan syariat islam.

Dibalik kekurangannya itu, Anas ternyata seorang yg taat dlm beribadah. Selain itu kebaikan hati yg ia miliki menjadikan Umar semakin mempercayainya. Suatu hari umar mengajak anas untuk mendampinginya melakukan perjalanan menuju suatu daerah. “Anas bin Malik, maukah kau menemaniku melakukan perjalanan?” tanya umar pd anas yg sedang berdzikir. Ternyata anas diam tdk menjawab pertanyaan umar. Shg umar bergegas meninggalkan anas krn mengira tdk mau menemaninya.

DIKEPUNG PERAMPOK
Jauh sudah perjalanan umar dlm melakukan perjalanan, tapi tanpa disadari umar, anas sudah berada dibelakangnya. Anas yg sudah ketinggalan jauh tiba2 berada didekat umar. Umar yg baru menyadari itu langsung tercengang krn kaget. “Sejak kapan kau berada dibelakangku?” tanya umar pd anas
“Aku mulai berangkat menyusulmu seusai sholat asar dan aku melihat bayanganmu, akhirnya aku ada dibelakangmu “ jawab anas dg lugunya.

Betapa umar makin terkejut, karena ia berangkat sudah sehari sebelumnya, tepatnya seusai sholat malam ia baru memulai perjalanan. Ia yakin perjalanan yg ia tempuh sudah sangat jauh. Tapi anas yg baru saja berangkat langsung bisa menyusulnya. Walaupun umar terkagum2 menyadari keajaiban itu, umar hanya hanya diam dan tersenyum sendiri.

Pada perjalanan malam, sampailah mereka ditempat yg sangat sepi dan gelap. Mereka memutuskan utk beristirahat. Tdk lama beristirahat, tiba2 ada lima perampok. Anas yg tdk memiliki keahlian apapun sangat kebingungan, krn tdk tahu harus melakukan apa utk menyelamatkan umar. Akhirnya anas mengajak umar utk menaiki kuda dan mengendalikan kudanya sekencang2nya. Namun, perampok itu jg menaiki kudanya dan lebih kencang dari mereka berdua. Perampok itu terus mengejar umar dan anas.

Sampai akhirnya perampok itu berhasil menyusul anas dan umar. Perampok itu mengeluarkan pisau utk menodong. Anas yg kala itu berdoa terus agar bisa melakukan sesuatu utk menyelamatkan umar, secara tiba2 kuda perampok itu langsung berhenti dan tdk mau digerakkan. Ternyata doa anas adalah, “Ya ALLAH, aku mohon hentikan kuda perampok itu”.

BERKUDA DI LAUT
Anas dan umar terus menunggangi kuda dg sangat kencang dan mereka tdk memperhatikan jalan yg mereka lewati, sampai akhirnya mereka tersesat disuatu tempat yg sudah tdk ada jalan dan didepannya hanya ada laut. Belum sempat umar menuturkan satu kata pun pd anas, anas langsung bertanya, “Kenapa berhenti hai wahai umar?”
“Bagaimana aku bisa menjalankan kuda ini, jika jalan yg harus kita lewati adalah laut” jawab umar
“InsyaALLAH kita bisa melewati jalan ini, Bismillah” tutur anas sambari menjalankan kudanya menyebarangi laut yg berada didepannya.
Umar pun langsung mengikuti anas dan betapa terkejutnya umar, karena ia dan anas benar2 bisa melewati lautan yg luas itu. Kuda terus berjalan seolah terbang diatas lautan. Setibanya didaratan, umar meminta anas utk beristirahat.
“Baiklah umar, kita istirahat disini, aku jg sangat lelah” jawab anas
Sewaktu anas pergi utk mencari buah2an, umar terkejut setelah menyentuh kaki kudanya yg tetap kering meski melewati lautan, “Sungguh keajaiban” tutur umar dalam hati. 

(Kisah Hikmah, 2011)
http://walijo.com/kisah-karomah-anas-bin-malik-dan-umar-bin-khottob-ra/

KISAH AMUK HANTARUKUNG

Hantarukung adalah nama sebuah perkampungan yang termasuk dalam Desa Wasah Hilir di Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan sekarang. Di Desa Wasah Hilir, tepatnya di perkampungan Hantarukung yang berjarak 7 km dari Kandangan ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan ini, dulu pada tahun 1899 telah terjadi pertumpahan darah perlawanan terhadap Belanda. Amok Hantarukung adalah (perang amuk yang dilakukan penduduk di kampung Hantarukung) yang merupakan perlawanan bagian dari Perang Banjar terhadap penjajahan Belanda. Perlawanan ini dipelopori oleh seorang penduduk bernama Bukhari. Ia seorang kelahiran Hantarukung pada tahun 1850, yang sejak masa muda hingga dewasanya mengikuti orang tuanya pindah ke Puruk Cahu di hulu Sungai Barito. Sejak Sultan Muhammad Seman menggantikan ayahnya Pangeran Antasari sebagai pimpinan perjuangan Perang Banjar di daerah Puruk Cahu, Bukhari adalah seorang yang setia mengabdikan dirnya. Ia seorang yang dipercaya sebagai “Pemayung Sultan “ (pangawal). Ia dikenal di lingkungan keluarga raja dan masyarakat di sekitarnya sebagai seorang yang mempunyai ilmu kesaktian dan kekebalan.
           Kelebihan-kelebihan Bukhari tersebut menyebabkan ia dan adiknya bernama Santar mendapat tugas untuk menyusun dan memperkuat barisan perlawanan rakyat terhadap Belanda di daerah Hulu Sungai. Dengan membawa surat resmi dari Sultan Muhammad Seman, Bukhari dan adiknya Santar datang ke Hantarukung untuk menyusun suatu pemberontakan rakyat terhadap Pemerintah Belanda. Kedatangan Bukhari diterima hangat oleh penduduk Hantarukung. Dengan bantuan Pangerak Yuya, Bukhari berhasil mengorganisir kekuatan rakyat untuk melawan Belanda. Konon berita tentang Bukhari kebal terhadap senjata pernah dibuktikannya kepada masyarakat. Ketika tubuhnya ditutupi dengan karung goni, ketika di tombak atau diparang tubuhnya tidak ada luka. Ilmu kebalnya juga diajarkannya kepada mereka yang bersedia menjadi pengikutnya. Bahkan beberapa pengikutnya yang ketika dicoba juga kebal terhadap senjata. Karena itulah dalam waktu singkat sebanyak 25 orang penduduk telah menyatakan diri sebagai pengikutnya, dan dibawah pimpinan Bukhari dan Santar siap untuk melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda. Gerakan Bukhari ini bahkan kemudian mendapat dukungan dari penduduk dari desa tetangga, yakni selain dari Desa Wasah Hilir juga Desa Hamparaya dan Desa Ulin.
           Penduduk tiga desa tersebut tidak bersedia lagi melakukan keja rodi membuat “garis” (sungai) yang menghubungkan Sungai Amandit dan Sungai Nagara. Selain itu mereka menyatakan juga tidak mau lagi membayar pajak.
Sikap penduduk dan tindakan Pangerak Yuya yang tidak mau menurunkan kuli (penduduk pekerja) untuk menggali “garis” antara Sungai Amandit dan Sungai Nagara tersebut, kemudian dilaporkan Pembekal Imat kepada kiai (pejabat Belanda) di Kandangan. Tetapi karena yang bersangkutan sedang tidak ada di tempat, Pembekal melaporkannya kepada kontrolir Belanda yang juga ada di Kandangan.
           Penguasa Belanda sangat marah mendengar berita itu. Pada tanggal 18 September 1899 berangkatlah rombongan penguasa Belanda yang terdiri dari kontrolir dan adspirant beserta lima orang Indonesia (opas dan pembekal) yang setia kepada Belanda. Dengan menaiki kereta kuda dan diikuti yang lainnya kontrolir datang ke Hantarukung menemui Pangerak Yuya
           Pangerak Yuya yang telah bekerja sama dengan Bukhari untuk melawan Pemerintah Belanda tersebut, ketika dipanggil oleh kontrolir, keluar dari rumahnya dengan sebuah tombak dan parang tanpa sarung. Setelah terjadi tanya jawab mengapa penduduku tidak lagi mengerjakan irakan menggali “garis” Amandit-Nagara, tiba-tiba muncul ratusan penduduk di bawah pimpinan Bukhari dan Santar sambil mengucapkan “salawat nabi” maju ke arah kontrolir dengan senjata tombak, serapang dan lain-lainnya. Dalam peristiwa itu telah terbunuh kontrolir, adspirant serta seorang anak buahnya. Sementara 4 orang lainnya sempat melarikan diri.
           Peristiwa tanggal 18 September 1899 ini terkenal dengan nama Pemberontakan Amok Hantarukung yang dipelopori oleh Bukhari, seorang yang secara resmi diperintahkan oleh Sultan Muhammad Seman dengan mengirimnya ke kampung asal kelahiranya Hantarukung. Terbunuhnya kontrolir dan adspirant Belanda tersebut segera sampai kepada pejabat-pejabat Belanda di Kandangan. Kemarahan pihak Belanda tidak dapat terbendung lagi. Keesokan harinya pada hari Senin tanggal 19 September 1899 sekitar pukul 13.00 pasukan Belnda datang untuk mengadakan pembalasan terhadap penduduk. Penduduk Hantarukung telah menyadari pula peristiwa yang akan terjadi. Beratus-ratus penduduk di bawah pimpinan Bukhari, Santar dan Pengerak Yuya siap dengan senjata mereka di pinggiran hutan dan keliling danau menanti pasukan Belanda.
           Ketika sampai di kampung Hantarukung di suatu awang persawahan, melihat keadaan sepi, Kapten Belnda melepaskan tembakan peringatan agar penduduk menyerah. Pada waktu itulah Bukhari bersama-sama Haji Matamin dan Landuk maju sambil mengucapkan “Allahu Akbar” berulang-ulang. Tindakan Bukhari tersebut diikuti para pengikutnya yang sudah siap untuk berperang. Pertempuran sengit terjadi. Bukhari, Haji Matamin, Landuk dan Pangerak Yuya gugur ditembus peluru Belanda. Setelah melihat pemimpin-pemimpin mereka terbunuh, penduduk lari menyelamatkan diri. Begitulah dalam peristiwa dua hari di Hantarukung tersebut, telah terbunuh dari pihak Belanda adalah kontrolir, adspirant, dan seorang pembatunya. Sementara dari pihak penduduk telah gugur sebagai pahlawan Bukhari, Haji Matamin, Landuk dan Pangerak Yuya.
           Pertiwa ini berlanjut dengan terjadinya pembersihan secara kejam oleh Belanda terhadap penduduk Hantarukung, Desa Hamparaya, Ulin, Wasah Hilir, dan Simpur. Penangkapan segera dilakukan oleh militer Belanda. Mereka yang ditangkapi tersebut berjumlah 24 orang, yakni: Hala, Hair, Bain, Idir, Sahintul, Haji Sanadin, Fakih, Unin, Mayasin, Atma, Alas, Tanang, Tasim, Bulat, Sudin, Matasin, Yasin, Usin, Sahinin, Unan, Saal, Lasan, Atnin, dan Santar. Tercatat kemudian yang mati dalam penjara adalah: Hala, Hair, Bain, dan Idir. Sedangkan yang mati digantung adalah: Sahintul, Haji Sanadin, Fakih, Unin, Mayasin, Atma, Alas, Tanang, dan Tasin. Mereka yang dibuang ke luar daerah adalah: Bulat, Sudin, Matasin, Yasin, Usin, Sahinin, Unan, Saal, Lasan, Atnan, dan Santar.
           Jenazah Bukhari, Landuk dan Haji Matamin dimakamkan di Desa Parincahan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), yang dikenal sebagai “Makam Tumpang Talu”, karena jasad mereka bertiga dimakamkan bersama dalam satu makam. Makam ini sejak tahun 1980 telah mendapat biaya pemeliharaan dari Direktorat Peninggalan Sejarah dan Purbakala. Sedangkan 9 orang yang dihukum gantung oleh Belanda, mereka ada beberapa yang dimakamkan di Pekuburan Bawah Tandui di kampung Hantarukung, sebagian lagi dimakamkan di Pekuburan Telaga Gajah di Desa Hamparaya, Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Propinsi Kalimantan Selatan. (Naskah bagian dari Sejarah Perlawanan Rakyat terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Kalimantan Selatan

http://kisahlawas.blogspot.com/p/blog-page.html

Kisah Akasyah R.a

Ketika saat ajal Rasulullah SAW datang menggamit, maka Rasulullah SAW meminta Bilal untuk melaungkan azan memanggil para sahabat untuk berkumpul. Setelah kaum Muhajirin dan Ansar berkumpul, naiklah Rasulullah SAW ke atas mimbar. Dengan linangan air mata, maka berkhutbah Rasulullah SAW :

Sesungguhnya aku ini Nabi mu. Yang menyeru mu ke arah jalan Allah. Anggaplah diri ku sebagai saudara mu. Anggaplah diri ku sebagai bapa mu. Andainya ada di kalangan kamu yang merasa teraniaya oleh ku, bangkitlah diri mu sekarang untuk menuntut qisas kepada ku, sebelum aku dituntut qisas di akhirat. Tiada di kalangan para sahabat yang berdiri. Baginda mengulangi ayatnya untuk kali kedua. Masih tidak ada seorang pun yang berdiri untuk menuntut qisas dari Rasulullah SAW. Lalu baginda mengulangi lagi ayatnya untuk kali ketiga. Maka berdirilah seorang pemuda, Akasyah bin Muhsin. Dia berjalan dan berdiri betul-betul di depan Rasulullah SAW lalu berkata :

Demi Allah, ayah dan ibu ku menjadi tebusan mu Ya Rasulullah. Andainya tidak engkau ulangi kata-kata mu sebanyak tiga kali, takkan mungkin aku berani menuntut hak ku terhadap diri mu..Ya Rasulullah, Ingatkah kau sewaktu peperangan Badar, unta ku dan unta mu bergerak beiringan..? Pernah ketika aku turun dari unta ku untuk mencium peha mu, engkau telah terpukul bahgian rusuk ku dengan cambuk pemukul unta. Aku tidak tahu apakah kau sengaja memukul diri ku atau kau tidak sengaja. Namun aku harap hak ku menuntut qisas diterima oleh mu.Maka aku menuntut qisas dari mu untuk memukul rusuk mu dengan cambuk pemukul unta.Terkejut seluruh para sahabat atas permintaan Akasyah. Mereka menyifatkan tindakan Akasyah itu di luar batas sopan serta mengaibkan Rasulullah SAW. Namun Rasulullah SAW dengan tenang akur dengan permintaan Akasyah.

Maka Rasulullah SAW meminta Bilal ke rumah Fatimah untuk mengambil cambuk pemukul untanya. Setelah diambil, cambuk tersebut diserahkan kepada Rasulullah SAW. Lantas Rasulullah SAW menghulurkan cambuk tersebut kepada Akasyah. Perlakuan Akasyah diperhatikan oleh Abu Bakar dan Umar. Maka tampillah mereka berdua berdiri antara Rasulullah SAW dan Akasyah seraya berkata : Wahai Akasyah. Kami ini sahabat rapat Rasulullah SAW. Pukullah kami berdua sepuas hati mu. Bebaskanlah Rasulullah SAW dari qisas mu. Tapi kata-kata Abu Bakar dibidas oleh Rasulullah SAW. Duduklah kamu berdua wahai Abu Bakar dan Umar. Allah tahu kedudukan kamu berdua di akhirat. Biarlah aku menanggung akibat dari perbuatan ku sendiri.
Lantas Sayyidina Ali bangkit dari duduknya dan berdiri didepan Akasyah seraya berkata : Wahai Akasyah, andainya pada fikiran mu Abu Bakar dan Umar bukan di kalangan keluarga Rasulullah, maka aku sebagai menantu Rasulullah berdiri didepan mu. Pukullah aku sepuas hati mu. Pukullah aku dengan tangan mu. Deralah diri ku sepuas hati mu.Tapi jangan kau pukul Rasulullah
Berkata Rasulullah SAW :

Hai Ali, mundurlah kau dari Akasyah. Allah tahu kedudukan mu di sisi ku. Biarlah ku tanggung akibat perbuatan ku. Kerana aku takut qisas di akhirat yang lagi dahsyat. Kemudian tampil pula dua beradik, Hassan dan Hussein. Cucu kesayangan Rasulullah SAW. Mereka berkata :

Wahai Akasyah, bukankah sudah kau tahu bahwa kami ini cucu kandung kepada Rasulullah. Qisaslah kami, bererti engkau telah mengqisas Rasulullah. Bebaskanlah Rasulullah dan ambillah kami sebagai pengganti.
Berkata Rasulullah SAW kepada cucu2 baginda :

Wahai cucu penyejuk mata ku. Duduklah kalian berdua. Ini bukannya sesuatu yang boleh diwariskan kepada mu. Biar ku tanggung hasil perbuatan ku.

Kemudian Rasulullah SAW memalingkan mukanya dan bersemuka dengan Akasyah, lalu baginda berkata : Wahai Akasyah, pukullah aku jika kau berhasrat menuntut qisas.
Berkata Akasyah :
Wahai Rasulullah, sewaktu engkau memukulku, aku dalam keadaan tidak berbaju. Dengan tenang, Rasulullah menanggalkan kancing bajunya dan meleraikan bajunya ke lantai masjid. Menangislah para sahabat melihat begitu daif Rasulullah diperlakukan oleh Akasyah.
Apabila terlihat Akasyah akan tubuh putih Rasulullah SAW, perlahan-lahan dihampirinya, diusap perlahan dan dicium belakang Rasulullah SAW. Tubuh Rasulullah SAW didekap erat dengan penuh kasih sayang dengan linangan air mata sambil berkata :
Wahai Rasulullah. Roh ku menjadi tebusan buat diri mu. Siapakah aku yang tergamak mengqisas kekasih Allah. Aku bukanlah sahabat mu yang hampir, tetapi sahabat mu yang jauh. Hidup ku dipinggir kota. Sabdaan mu hanya ku dengar dihujung lidah para sahabat bukan terus dari lidah mu. Aku sengaja memohon mengqisas diri mu agar dapat ku pertemukan kulit tubuh ku dengan kulit tubuh mu yang mulia agar dengannya nanti Allah akan memelihara diri ku dari menjadi bahan bakaran api neraka.
Rasulullah SAW membalas dakapan Akasyah dan berkata :
Ketahuilah wahai para sahabat. Barangsiapa ingin melihat penghuni syurga, lihatlah pada peribadi pemuda ini. Seluruh umat Islam di Kota Madinah bersorak melaungkan takbir menyambut berita gembira. Walaupun di awal suasana penuh emosi, namun ianya ditakdirkan merupakan berita gembira buat Akasyah kerana Rasulullah SAW telah mengisyaratkan bahawa dirinya adalah penghuni syurga..
Begitulah pengorbanan para sahabat kepada Rasulullah SAW. Apakah pengorbanan kita kepada sahabat kita sudah setimpal dengan pengorbanan sahabat Rasulullah SAW.. ???.Begitulah mulianya kehidupan seorang hamba yang Allah ciptakan di dunia ini. Walau dirinya hamba, namun Baginda  Muhammad Bin Abdullah Bin Abdul Mutalib SAW itulah semulia-mulia manusia yang pernah hidup di muka bumi ini …. TIDAK CINTAKAH ENGKAU KEPADANYA ?..Rasulullah SAW, walau dirinya maksum, masih dia menuntut qisas (hukum) dari orang yang dia TIDAK PERNAH ZALIMI. Kita … berapa ramai di antara kita yang berani mengaku kesalahan dan kesilapan lalu menuntut maaf dan qisas ?
Seharian beribu dosa yang kita lakukan sama ada dosa dengan makhluk mau pun dengan Allah …. kita masih lagi merasakan diri kita ini sudah aman dan selamat dari api neraka.. Lebih malang … kita SEDAR yang kita lakukan itu maksiat dan kemungkaran … tapi kita sengaja memfitnah orang lain agar maksiat yang kita lakukan itu tertutup dari kaca mata masyarakat. Tidak takutkah kita dengan azab neraka Allah ?

Inilah wajah-wajah kita yang sebenar…...




Kisah Akasyah (2)

Pada suatu hari pedang Akasyah bin Muhsin al-Usdi terpatah, beliau pun segera mengadu hal kepada Baginda, maka oleh Baginda diserahkan kepada Akasyah sebatang kayu, sabda Baginda: “Ayuh berperanglah kau dengan’benda ini”. Sebaik sahaja beliau mengambilnya dari Rasulullah dan diacu-acukan dengannya, tiba-tiba, ianya bertukar menjadi sebilah pedang panjang waja besinya, bermata putih dan tajam. Beliau berperang dengannya hinggalah Allah memberi kemenangan kepada kaum muslimin. Pedang itu dikenal dengan “al-A’wn” bererti pertolongan, pedang itu kekal bersama beliau dengannya beliau menghadiri pertempuran-pertempuran hinggalah beliau syahid di dalam peperangan al-Riddah dengan keadaan pedang itu kekal bersama-samanya...





wallahua’lam..

http://aminkhalidiy.blogspot.com/2011/03/blog-post.html