Senin, 14 Oktober 2013

Al Habib Hasan Bin Yahya (Syekh Kramat Jati)

Alur Sungai Berpindah Arah dengan Karomahnya

Habib Hasan bin Thoha bin Yahya yang lebih terkenal dengan nama Syekh Kramat Jati, lahir di kota Inat (Hadramaut), dari pasangan Habib Thoha bin Yahya dengan Syarifah Aisyah binti Abdullah Al-Idrus. Beliau mendapat pendidikan langsung dari kedua orang tuanya sampai hafal Al Qur’an sebelum usia tujuh tahun. Kecerdasan dan kejernihan hati yang dimiliki, menjadikannya sebelum menginjak dewasa, telah banyak hafal kitab-kitab hadist, fiqh dan lain sebagainya.

Disamping belajar ilmu syariat, Habib Hasan juga belajar ilmu Thoriqoh dan hakikat kepada para ulama’ dan Auliya’ waktu itu. Diantara guru beliau adalah Habib Umar bin Smith seorang wali Qutub pada zaman itu, Quthbil Ghouts Al Habib Alwi bin Abdullah Bafaqih dan masih banyak guru yang lain. Habib Hasan selalu mendapat ijazah dari setiap ilmu yang di dapatinya baik ijazah khusus maupun umum. Ilmu yang beliau miliki baik syariat, Thoriqoh maupun hakikat sangat luas bagaikan lautan sehingga di kalangan kaum khos (khusus) maupun awam dakwah beliau bisa diterima dengan mudah. Maka tak heran bila fatwa-fatwa beliau banyak didengar oleh pembesar kerajaan waktu itu.

Pada waktu muda, setelah mendapat ijin dari gurunya untuk berdakwah dan mengajar, beliau masuk dulu ke Afrika di Tonja, Maroko dan sekitarnya, kemudian ke daerah Habsyah, Somalia terus ke India dan Penang Malaysia untuk menemui ayahnya.

Setelah tinggal beberapa waktu di Penang, beliau mendapat ijin dari ayahnya untuk ke Indonesia guna meneruskan dakwahnya. Beliau pertama kali masuk ke Palembang kemudian ke Banten. Pada saat tinggal di Banten, beliau diangkat oleh Sultan Rofiudin, atau Sultan Banten yang terakhir waktu itu menjadi Mufti Besar. Di Banten beliau bukan hanya mengajar dan berdakwah, tetapi juga bersama-sama dengan pejuang Banten dan Cirebon mengusir penjajah Belanda. Walaupun Sultan Rofi’udin telah ditangkap dan dibuang ke Surabaya oleh Belanda, tetapi Habib Hasan yang telah menyatukan kekuatan pasukan Banten dan Pasukan Cirebon tetap gigih mengadakan perlawanan.

Setelah itu beliau meneruskan dakwahnya lagi ke Pekalongan-Jawa Tengah. Di Pekalongan beliau mendirikan Pesantren dan Masjid di desa Keputran dan beliau tinggal di desa Ngledok. Pondok Pesantren itu terletak di pinggir sungai, dulu arah sungai mengalir dari arah selatan Kuripan mengalir ke tengah kota menikung sebelum tutupan Kereta Api. Tetapi dengan Karomah yang dimiliki Habib Hasan, aliran sungai itu dipindah ke barat yang keberadaanya seperti sampai sekarang.

Pengaruh Habib Hasan mulai dari Banten sampai Semarang memang sangat luar biasa, tidak mengherankan bila Belanda selalu mengincar dan mengawasinya. Dan pada tahun 1206 H/1785 M terjadilah sebuah pertempuran sengit di Pekalongan. Dengan kegigihan dan semangat yang dimiliki Habib Hasan dengan santri dan pasukannya, Belanda mengalami kewalahan. Tetapi sebelum meletusnya Perang Padri Pesantren Habib Hasan sempat dibumi hanguskan oleh Belanda.

Akhirnya Habib Hasan bersama pasukan dan santrinya mengungsi ke Kaliwungu, tinggal disuatu daerah yang sekarang di kenal dengan desa Kramat. Atas perjuangan, kearifan, serta keluasan ilmu yang terdengar oleh Sultan Hamengkubuwono ke II membuatnya menjadi kagum kepada Habib Hasan.

Karena kekaguman tersebut akhirnya Habib Hasan diangkat menjadi menantu Sultan Hamengkubuwono ke II dan daerah yang ditempati mendapat perlindungannya.

Di Kaliwungu beliau tinggal bersama sahabatnya bernama Kyai Asy’ari seorang ulama besar yang menjadi cikal bakal pendiri Pesantren di wilayah Kaliwungu (Kendal ), guna bahu membahu mensyiarkan Islam. Masa tua hingga wafatnya Habib Hasan tinggal di Semarang tepatnya di daerah Perdikan atau Jomblang yang merupakan pemberian dari Sultan HB II.

Thoriqoh yang dipegang oleh Habib Hasan adalah Thoriqoh Saadatul Alawiyyin (Alawiyyah). itulah yang diterapkan untuk mendidik keluarga dan anak muridnya, seperti membaca aurod Wirdul Latif, dan istiqhfar menjelang Maghrib. Setelah berjamaah maghrib dilanjutkan sholat sunah Rowatib, tadarus Al qur’an, membaca Rotib dari Rotibul Hadad, Rotibul Athos, Rotibul Idrus dan wirid Sadatil Bin Yahya serta Rotibnya. Terus berjamaah sholat Isya’ selanjutnya membaca aurad dan makan berjama’ah.

Diantara kebiasaan beliau yang tidak pernah ditinggalkan adalah berziarah kepada para auliya’ atau orang-orang sholeh baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. (Ziaratul Ulama wal auliya ahyaan wa amwatan )

Rumah beliau terbuka 24 jam non stop dan dijadikan tumpuan umat untuk memecahkan segala permasalahan yang mereka hadapi. Semasa beliau berdakwah dalam rangka meningkatkan umat dalam ketaqwan dan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, pertama sangat menekankan pentingnya cinta kepada Baginda nabi Muhammmad Saw. beserta keluarganya yang dijadikan pintu kecintaan kepada Allah Swt. Kedua kecintaan kepada kedua orang tua dan guru, yang menjadi sebab untuk mengerti cara taqorub, taqwa dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Habib Hasan adalah seorang yang lemah lembut dan berakhlak mulia tetapi sangat keras dalam berpegang teguh kepada Syariatilah dan Sunah Rasul. Beliau tidak pernah mendahulukan kepentingan pribadinya.

Banyak amal sirri (rahasia) yang dilakukan oleh beliau setiap malamnya. Sehabis Qiyamull Lail, Habib Hasan berkeliling membagikan beras, jagung dan juga uang kerumah-rumah Fuqor’o wal masakin, anak-anak Yatim dan janda-janda tua. Beliau sangat menghargai generasi muda dan menghormati orang yang lebih dituakan.

Pada waktu hidup, beliau dikenal sebagai seorang yang ahli menghentikan segala perpecahan dan fitnah antar golongan dan suku. Sehingga cara adu domba yang dilakukan pihak penjajah tidak mampu menembusnya. Di samping sebagai ulama’ besar juga menguasai beberapa bahasa dengan fasih dan benar.

Habib Hasan wafat di Semarang dan dimakamkan di depan pengimaman Masjid Al Hidayah Taman duku Lamper Kidul Semarang. Hingga saat ini, banyak peziarah yang yang datang berziarah, berdoa dan bertawassul dimakamnya. Rodliyallahu ‘anhu wanafa’ana bibarokaatihi waanwarihi wa’uluumihi fiddiini waddunya wal aakhiroh..

Sumber : www.almihrab.com


Diposkan oleh Majlis Arrahman


Al Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

Dipetik dari:

Salatnya Para Wali oleh Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri terbitan Putera Riyadi

…………………………………………………………………………………………………….

Nasab

Nasab beliau bersambung sampai Rasulullah s.a.w: Hasan Al-Bahr bin Saleh bin Idrus bin Abu Bakar bin Hadi bin Sa’id bin Syeikhon bin Alwi bin Abdullah At-Tarisi bin Alwi bin Abu Bakar Al-Jufri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Sohib Mirbath bin Ali Kholi’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’afar As-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Fatimah Az-Zahra bin Rasulillah SAW.

Tempat Kediaman

Beliau lahir di kota Kholi’ Rasyid (Houthoh) tahun 1191H. Ketika berusia 2 tahun, ayah beliau meninggal dunia. Beliau kemudian diasuh dan dibesarkan oleh ibu dan kakeknya, Sayid Idrus bin Abu Bakar Al-Jufri, di kota di Dzi Isbah.

Guru dan Muridnya

Beliau menuntut ilmu dari sejumlah ulama di zamannya, misalnya Al-Allamah Umar bin Zein bin Smith, Syeikh Abdullah bin Semair, Habib Umar bin Ahmad bin Hassan Al-Haddad dan Habib Alwi bin Segaf bin Muhammad bin Umar Assegaf. Syeikh fath beliau dalam (ilmu) dhohir dan batin adalah Habib UMar bin Segaf bin Muhammad bin Umar Assegaf.

Beliau memiliki murid-murid yang tersebar ke berbagai penjuru dunia, timur maupun barat. Mereka menyebarluaskan ilmu-ilmu agama dan tasawuf yang telah mereka pelajari dari Habib Hasan. Pernah dikatakan bahawa tidak ada seorang alim, pelajar atau sufi pun di Hadhramaut yang tidak pernah belajar kepada beliau. Di antara murid beliau adalah Sayid Hamid bin Umar bin Muhammad bin Segaf Assegaf dan Sayid Muhsin bin Alwi bin Segaf Assegaf.

Keluasan Ilmunya

Beliau dijuluki Al-Bahr (lautan) karena kedalaman dan keluasan ilmunya. Ketika mempelajari kitab Mukhtashor At-Tuhfah langsung dari pengarangnya, Syeikh Ali bin Umar bin Qadhi Baktsiir, beliau mengkoreksi beberapa hal yang ditulis oleh gurunya sendiri, padahal usia beliau saat itu masih di bawah 20 tahun.

Sewaktu beliau sedang menunaikan ibadah haji, mufti Zubaid, Al-Allamah Sayid Abdurrahman bin Sulaiman Al-Ahdal meminta beliau untuk menulis sebuah risalah yang menjelaskan sifat-sifat salatnya kaum muqarrabin. Permintaan itu beliau kabulkan, dan ternyata risalah itu membuat kagum para ulama dan kaum sufi di Hijaz dan kota-kota lain.

Habib Ahmad Al-Junaid bercerita bahwa ia dan Habib Hasan berkunjung ke kediaman Sayid Ahmad bin Idris, seorang yang sangat alim. Habib Ahmad Al-Junaid lalu membacakan kitab Ar-Rasyafaat, Sayid Ahmad bin Idris pun kemudian menjelaskan bait demi bait dengan mengutip berbagai ayat Quran dan Hadis Nabi SAW. Habib Hasan bin Saleh Al-Bahr kemudian membacakan karyanya sendiri, Sholaatul Muqarrabin. Setelah Sholaatul Muqarrabin selesai dibacakan, Sayid Ahmad berkata, “Andaikan penulis risalah ini masih hidup, maka:

Yahiqqu an tudhraba alaihi akbaad ul-ibili
Sepatutnya perut onta dicambuk agar segera dapat menjumpainya.

“Waktu itu aku hendak memberitahu mereka, bahwa penulis risalah itu adalah orang yang baru saja membacanya. Namun, Habib Hasan mencegahku,” kata Habib Ahmad Al-Junaid.

“Mungkin penulisnya hanya sekedar menyifatkan, tidak sungguh-sungguh mengalami apa yang ditulisnya,” kata salah seorang murid Sayid Ahmad bin Idris.

“Diamlah engkau”

Al-inaa’u yarshahu bima fihi
Wadah (hanya) akan memercikkan isinya, kata Sayid Ahmad bin Idris.

Mujahadahnya

Habib Hasan selalu berpegang teguh pada sunah Nabi, dan berusaha meniti jejak para salafnya. Beliau mengamalkan berbagai salat sunah: salat sunah rawatib maupun salat sunah lainnya. MUlai dari salat khusuf dan kusuf sampai dengan salat tahiyyatul mesjid. Mulai dari salat sunnatul wudhu, dhuha 8 rakaat, awwabiin 20 rakaat, tahajjud di sebagian besar waktu malam sampai dengan salat witir 11 rakaat di akhir malam. Semua ini beliau kerjakan dengan tekun: siang maupun malam, saat berada di kota maupun ketika bepergian, saat sehat maupun sakit. Sakit tidak pernah mengendurkan semangat ibadah beliau. Apabila tiba saat ibadah, beliau seakan sembuh dari sakitnya. Namun, begitu ibadah selesai dikerjakannya, beliau tampak lemah kembali. Beliau selalu mengerjakan salat lima waktu dengan berjamaah.

Beliau biasanya membaca setengah Al-Quran dalam salat tahajjudnya setiap malam. Kadang kla seluruh Quran beliau khatamkan dalam satu rakaat. Selama hidupnya beliau tidak pernah meninggalkan puasa Dawud, baik pada waktu musim panas maupun dingin, saat berada di kota maupun saat bepergian, ketika sehat maupun sakit. Beliau sering sekali membaca surah Yasin sebanyak 40 kali dalam satu majelis, dan dalam satu atau dua rakaat. Di antara wirid beliau adalah membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 90 000 kali dalam satu rakaat.

Beliau menunaikan ibadah haji lebih dari 7 kali. Beliau sangat sering tawaf di tengah kegelapan malam sambil membaca Quran sampai waktu fajar, terkadang beliau mengkhatamkannya dalam semalaman.

Pada waktu dhuha, hari Rabu 23 Dzul Qa’dah 1273H beliau meninggal dunia di Dzi Isbah, lalu dimakamkan dekat makam ibunya, di tengah-tengah musholla yang terletak di samping rumahnya.

Sifat Rahmatnya

Berikut adalah sekelumit cerita yang menunjukkan keluhuran budi dan kasih sayang beliau pada makhluk Allah.

Cerita Pertama

Suatu hari seorang warga kampungnya melapor kepada beliau, bahwa seekor anjing telah membuat onar. Anjing itu memakan haiwan-haiwan kecil piaraan mereka. Mendengar pengaduan itu beliau berkata, “Anjing itu bertingkah demikian karena kalian menelantarkan dan tidak memberinya makan. Kemarikan anjing itu, lalu berilah makan hingga kenyang.”

Warga kampung kemudian membawa anjing itu ke rumah Habib Hasan. Mereka menempatkan anjing itu di dalam kandang dan memberinya makan siang dan malam. Habib Hasan menaruh perhatian besar pada anjing itu, dan setiap hari selalu menanyakan keadaannya kepada pembantu beliau.

Cerita Kedua

Seusai salat Jumat di sebuah mesjid di kota Syibam, tiba-tiba seekor burung yang masih kecil terjatuh ke lantai dari sarangnya di atap mesjid. Melihat anaknya jatuh, induk burung itu menjerit-jerit. Keadaan itu begitu mengharukan Habib Hasan sehingga beliau tak kuasa membendung air matanya. Dengan pipi yang basah oleh air mata, Habib Hasan meminta agar jamaah yang sedang berada di mesjid untuk keluar guna memberi kesempatan kepada si induk agar dapat dengan leluasa membawa anaknya kembali ke sarangnya.

Cerita Ketiga

Pada hari pernikahan salah seorang puterinya, sebagaimana adat di daerah itu, warga kampungnya mempersiapkan berbagai jenis makanan dan daging untuk makan malam rombongan besan. Ketika mereka sedang menanti kedatangan rombongan pengantin, Habib Hasan melongok ke luar jendela. Di bawah loteng rumahnya beliau melihat kerumunan orang.

“Siapa yang berkerumun di depan pintu,” tanya Habib Hasan penasaran.

“Mereka adalah kaum fakir yang menantikan sisa-sia makan malam,” jawab salah seorang di antara mereka.

Beliau lalu segera memerintahkan untuk mengundang dan menjamu kaum fakir miskin itu. Beliau diingatkan bahwa makanan itu dipersiapkan untuk rombongan pengantin, dan mereka tak bisa menyiapkan gantinya karena waktu yang sangat sempit. Namun beliau berkata, “Tak apa-apa, hidangkanlah makanan itu”.

Mereka tak bisa menolak permintaan Habib Hasan. Makanan yang semula dipersiapkan untuk menyambut rombongan pengantin, akhirnya diberikan kepada kaum fakir miskin.

Mutiara nasihatnya

Sesungguhnya di syurga tidak ada penyesalan, hanya saja mereka merasa malu atas kemuliaan dan kebaikan yang diberikan oleh Allah. Jika dibanding dengan nimat yang mereka terima di syurga, maka kelelahan mereka semasa di dunia tiada artinya.

Kenikmatan yang disegerakan, kebaikan yang diangan-angankan dan kehidupan yang baik hanya terdapat dalam ketaatan kepada Allah.

Jika engkau tak bisa beramal dengan anggota tubuhmu, misalnya: salat-salat sunah dan lain-lain, maka engkau masih bisa mengerjakan ketaatan lisan, seperti: dzikir, amar ma’aruf dan nahi mungkar. Dan jika engku tak bisa melakukan ketaatan lisan, maka engkau masih bisa mengerjakan ketaatan hati, misalnya: ikhlas, sabar, zuhud, redha, cinta, syukur dan lain-lain.



Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad ( Mbah Priok )

( Pelabuhan Petikemas – Tanjung Priok )

Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad lahir di di Ulu, Palembang, Sumatera selatan, pada tahun 1291 H / 1870 M. Semasa kecil beliau mengaji kepada kakek dan ayahnya di Palembang. Saat remaja, beliau mengembara selama babarapa tahun ke Hadramaut, Yaman, untuk belajar agama, sekaligus menelusuri jejak leluhurnya, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Shohib Ratib Haddad, yang hingga kini masih dibaca sebagian besar kaum muslimin Indonesia. Beliau menetap beberapa tahun lamanya, setelah itu kembali ke tempat kelahirannya, di Ulu, Palembang
Ketika petani Banten, dibantu para Ulama, memberontak kepada kompeni Belanda (tahun 1880), banyak ulama melarikan diri ke Palembang; dan disana mereka mendapat perlindungan dari Habib Hasan. Tentu saja pemerintah kolonial tidak senang. Dan sejak itu, beliau selalu diincar oleh mata-mata Belanda.

Pada tahun 1899, ketika usianya 29 tahun, beliau berkunjung ke Jawa, ditemani saudaranya, Habib Ali Al-Haddad, dan tiga orang pembantunya, untuk berziarah ke makam Habib Husein Al Aydrus di Luar Batang, Jakarta Utara, Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Sunan Ampel di Surabaya. Dalam perjalanan menggunakan perahu layar itu, beliau banyak menghadapi gangguan dan rintangan. Mata-mata kompeni Belanda selalu saja mengincarnya. Sebelum sampai di Batavia, perahunya di bombardier oleh Belanda. Tapi Alhamdulillah, seluruh rombongan hingga dapat melanjutkan perjalanan sampai di Batavia.

Dalam perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua bulan itu, mereka sempat singgah di beberapa tempat. Hingga pada sebuah perjalanan, perahu mereka dihantam badai. Perahu terguncang, semua perbekalan tumpah ke laut. Untunglah masih tersisa sebagian peralatan dapur, antara lain periuk, dan beberapa liter beras. Untuk menanak nasi, mereka menggunakan beberapa potong kayu kapal sebagai bahan bakar. Beberapa hari kemudian, mereka kembali dihantam badai. Kali ini lebih besar. Perahu pecah, bahkan tenggelam, hingga tiga orang pengikutnya meninggal dunia. Dengan susah payah kedua Habib itu menyelamatkan diri dengan mengapung menggunakan beberapa batang kayu sisa perahu. Karena tidak makan selama 10 hari, akhirnya Habib Hasan jatuh sakit, dan selang beberapa lama kemudian beliaupun wafat.

Sementara Habib Ali Al-Haddad masih lemah, duduk di perahu bersama jenazah Habib Hasan, perahu terdorong oleh ombak-ombak kecil dan ikan lumba-lumba, sehingga terdampar di pantai utara Batavia. Para nelayan yang menemukannya segera menolong dan memakamkan jenazah Habib Hasan. Kayu dayung yang sudah patah digunakan sebagai nisan dibagian kepala; sementara di bagian kaki ditancapkan nisan dari sebatang kayu sebesar kaki anak-anak. Sementara periuk nasinya ditaruh disisi makam. Sebagai pertanda, di atas makamnya ditanam bunga tanjung. Masyarakat disekitar daerah itu melihat kuburan yang ada periuknya itu di malam hari selalu bercahaya. Lama-kelamaan masyarakat menamakan daerah tersebut Tanjung periuk. Sesuai yang mereka lihat di makam Habib Hasan, yairtu bunga tanjung dan periuk.

Konon, periuk tersebut lama-lama bergeser dan akhirnya sampai ke laut.
Banyak orang yang bercerita bahwa, tiga atau empat tahun sekali, periuk tersebut di laut dengan ukuran kurang lebih sebesar rumah. Diantara orang yang menyaksikan kejadian itu adalah anggota TNI Angkatan Laut, sersan mayor Ismail. Tatkala bertugas di tengah malam, ia melihat langsung periuk tersebut.

Karena kejadian itulah, banyak orang menyebut daerah itu : Tanjung Periuk.
Sebenarnya tempat makam yang sekarang adalah makam pindahan dari makam asli. Awalnya ketika Belanda akan menggusur makam Habib Hasan, mereka tidak mampu, karena kuli-kuli yang diperintahkan untuk menggali menghilang secara misterius. Setiap malam mereka melihat orang berjubah putih yang sedang berdzikir dengan kemilau cahaya nan gemilang selalu duduk dekat nisan periuk itu. Akhirnya adik Habib Hasan, yaitu Habib Zein bin Muhammad Al-Haddad, dipanggil dari Palembang khusus untuk memimpin doa agar jasad Habib Hasan mudah dipindahkan. Berkat izin Allah swt, jenazah Habib Hasan yang masih utuh, kain kafannya juga utuh tanpa ada kerusakan sedikitpun, dipindahkan ke makam sekarang di kawasan Dobo, tidak jauh dari seksi satu sekarang.

Salah satu karomah Habib Hasan adalah suatu saat pernah orang mengancam Habib Hasan dengan singa, beliau lalu membalasnya dengan mengirim katak. Katak ini dengan cerdik lalu menaiki kepala singa dan mengencingi matanya. Singa kelabakan dan akhirnya lari terbirit-birit.

( Al – Kisah No. 07 / Tahun III / 28 Maret – 10 April 2005 & No. 08 / Tahun IV / 10-23 April 2006 )

Sumber MT Ashalatu ‘Alan Nabi

Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A kurang lebih 23 tahun dimaqamkan, pemerintah belanda pada saat itu bermaksud membangun pelabuhan di daerah itu. Pada saat pembangunan berlangsung banyak sekali kejadian yang menimpa ratusan pekerja (kuli) dan opsir belanda sampai meninggal dunia. Pemerintah belanda menjadi bingung dan heran atas kejadian tersebut dan akhirnya menghentikan pembangunan yang sedang dilaksanakan.

Rupanya pemerintah belanda masih ingin melanjutkan pembangunan pelabuhan tersebut dengan cara pengekeran dari seberang (sekarang dok namanya), alangkah terkejutnya mereka saat itu ketika melihat ada orang berjubah putih sedang duduk dan memegang tasbih di atas maqam. Maka dipanggil beberapa orang mandor untuk membicarakan peristiwa tersebut. Setelah berembuk diputuskan mencari orang yang berilmu yang dapat berkomunikasi dengan orang yang berjubah putih yang bukan lain adalah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A. setelah berhasil bertemu orang berilmu yang dimaksud (seorang kyai) untuk melakukan khatwal, alhasil diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1.Apabila daerah (tanah) ini dijadikan pelabuhan oleh pemerintah belanda tolong sebelumnya pindahkanlah saya terlebih dulu dari tempat ini.
2.Untuk memindahkan saya, tolong hendaknya hubungi terlebih dulu adik saya yang bernama Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu Palembang, Sumatera Selatan.

Akhirnya pemerintah belanda menyetujui permintaan Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A (dalam khatwalnya) kemudian dengan menggunakan kapal laut mengirim utusannya termasuk orang yang berilmu tadi untuk mencari Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu, Palembang.

Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A sangat mudah ditemukan di Palembang, sehingga dibawalah langsung ke Pulau Jawa untuk membuktikan kebenarannya. Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A dalam khatwalnya membenarkan “Ini adalah maqam saudaraku Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A yang sudah lama tidak ada kabarnya.”

Selama kurang lebih 15 hari lamanya Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A menetap untuk melihat suasana dan akhirnya Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dipindahkan di jalan Dobo yang masih terbuka dan luas. Dalam proses pemindahan jasad Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A masih dalam keadaan utuh disertai aroma yang sangat wangi, sifatnya masih melekat dan kelopak matanya bergetar seperti orang hidup.

Setelah itu Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta kepada pemerintah belanda agar maqam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A itu dipagar dengan kawat yang rapih dan baik serta diurus oleh beberapa orang pekerja. Pemerintah belanda pun memenuhi permintaan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A.

Setelah permintaan dipenuhi Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta waktu 2 sampai 3 bulan lamanya untuk menjemput keluarga beliau yang berada di Ulu, Palembang. Untuk kelancaran penjemputan itu, pemerintah belanda memberikan fasilitas. Dalam kurun waktu yang dijanjikan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A kembali ke Pulau Jawa dengan membawa serta keluarga beliau.

Dalam pemindahan jenazah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A tersebut banyak orang yang menyaksikan diantaranya :
1.Al Habib Muhammad Bin Abdulloh Al Habsy R.A
2.Al Habib Ahmad Dinag Al Qodri R.A, dari gang 28
3.K.H Ibrahim dari gang 11
4.Bapak Hasan yang masih muda sekali saat itu
5.Dan banyak lagi yang menyaksikan termasuk pemerintah belanda

Kemudian Bapak Hasan menjadi penguru maqam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A. Saat ini semua saksi pemindahan tersebut sudah meninggal. Merekalah yang menyaksikan dan mengatakan jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A masih utuh dan kain kafannya masih mulus dan baik, selain itu wangi sekali harumnya.

Dipemakaman itulah dikebumikan kembali jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A yang sekarang ini pelabuhan PTK (terminal peti kemas) Koja Utara, Kecamatan Koja, Tanjung Priuk – Jakarta Utara.

Setelah pemindahan maqam banyak orang yang berziarah ke maqam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A sebagaimana yang diceritakan oleh putera Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yaitu Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A.

Pada Tahun 1841 Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A di gang 12 kelurahan Koja Utara kedatangan tamu yaitu Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad R.A (orang yang selamat dalam perjalanan dari Ulu, Palembang ke Pulau Jawa) dan beliau menceritakan kejadian yang dialaminya bersama Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A beserta 3 orang azami. Cerita tersebut disaksikan Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A. Dari cerita itulah maka dijadikannya Maqib Maqom Kramat Situs Sejarah Tanjung Priuk (dalam pelabuhan peti kemas (TPK) Koja, Tanjung Priuk, Jakarta Utara).

Diposkan oleh Majlis Arrahman


AL HABIB HASAN BIN ALWY BIN SAHIL (PUANG LERO)

adalah putra daripada Habib Alwi bin Abdullah bin Sahil (Puang Towa). Ibunda beliau bernama Rabiah anak dari K.H. Toa. Habib Hasan lahir di Pambusuang - Sulawesi Barat. Habib Hasan adalah Waliyullah yang digelar Puang Lero, kamus berjalan (kamus lamba-lamba), tapi gelarannya yang paling populer dikalangan ulama adalah Sultanul Ulama. Beliau adalah guru pengajian paham kajian ilmu tauhid, kitab kuning, nahwu arab, pakar fiqhi, dan menguasai lebih dari 20 macam bahasa arab dan arsitek. Beliau pernah menuntut ilmu di Mekah hampir 30 tahun dan pernah menjabat guru besar nahwu arab di Yaman - Hadramaut Negara sejuta Wali dan penulis doa-doa, wirid dan kitab/kitta' ukiran Serang. Salah satu gurunya di Mekah adalah Mukti Syafi'i Al-Allamah Alhabib Said Mekah Al-Yamani (Ayahanda Hasan Yamani Campalagian). Habib Hasan pernah menjabat Imam Mesjid Jami At-Taqwa Pambusuang (1934-1944), kemudian hijrah ke
Ujung Lero karena saat itu keadaan Mandar berkecamuk tidak aman, dan melanjutkan pembangunan Mesjid di Lero dan memberi nama Mesjid Jami Al-Muhajirin Ujung Lero. Habib Hasan pernah menjadi penasehat dan pendiri MAI (Madrasah Arabiyah Islamiyah) tahun 1935 di Pambusuang. Habib Hasan mempelajari banyak tarekat tapi menonjol dalam tarekat Uluwiyah. Dalam riwayat lapisan pertamanya di Tanah Bugis yaitu; K.H. Ambo Dalle, Andi Selle, Panglima Jenderal Yusuf Bone Kayimuddin, Annangguru Ba'dollah (Imam Lero), Annangguru Yusuf (Imam Lero), dan Annangguru Abbas (Abba) dan masih banyak lagi yang tidak sempat disebutkan namanya. Habib Hasan wafat dan dimaqamkan di Ujung Lero - Sulawesi Selatan, bulan Ramadhan 1973. Habib Hasan adalah cucu Tosalama K.H. Toa Pambusuang. Habib Hasan adalah Ulama Besar dan Ulama Terhormat r.a. Habib Hasan menikah dengan Hj. Faidah, Kamariah, Hafsah, Hj. Syafiah dan Rahidah, semua berketurunan. Dan dari pernikahan beliau dari istri-istrinya, Habib Hasan dikaruniai 29 orang anak.

Keluarga: Istri dan anak dari Habib Hasan Bin Sahil (PUANG LERO)

1. Hj. FAIDAH (dari pernikahannya telah dikaruniai 10 orang anak)
Habib Muhammad Bin Hasan Bin Sahil
Syarifah Aminah Binti Hasan Bin Sahil
Habib Sahil Bin Hasan Bin Sahil
Syarifah Alawiah Binti Hasan Bin Sahil
Habib Abdurrahman Bin Hasan Bin Sahil
Syarifah Azzah Binti Hasan Bin Sahil
Habib Hamzah Bin Hasan Bin Sahil
Syarifah Husnah Binti Hasan Bin Sahil
Syarifah Buddur Binti Hasan Bin Sahil
Syarifah Fatimah Binti Hasan Bin Sahil

2.  KAMARIAH (dari pernikahannya telah dikaruniai 3 orang anak)
Habib Abdullah Bin Hasan Bin Sahil
Syarifah Syeha Binti Hasan Bin Sahil
Syarifah Maryam Binti Hasan Bin Sahil

3.  HAFSAH (dari pernikahannya telah dikaruniai 5 orang anak)
Habib Fahruddin Bin Hasan Bin Sahil
Habib Abu Bakar Bin Hasan Bin Sahil
Habib Baqir Bin Hasan Bin Sahil
Syarifah Azizah Binti Hasan Bin Sahil
Syarifah Hural Aini Binti Hasan Bin Sahil

4.  Hj. SYAFIAH (dari pernikahannya telah dikaruniai 6 orang anak)
Habib Habibun Bin Hasan Bin Sahil
Habib Abu Alamah Bin Hasan Bin Sahil
Syarifah Hababah Binti Hasan Bin Sahil
Syarifah Asiah Binti Hasan Bin Sahil
Syarifah Zahrah Binti Hasan Bin Sahil
Syarifah Nuaimah Binti Hasan Bin Sahil

5.  RAHIDAH (dari pernikahannya telah dikaruniai 5 orang anak)
Habib Alwi Bin Hasan Bin Sahil
Habib Siddiq Bin Hasan Bin Sahil
Syarifah Najibah Binti Hasan Bin Sahil
Syarifah Kalsum Binti Hasan Bin Sahil
Syarifah Maimunah Binti Hasan Bin Sahil

****************************************************
Diposkan oleh Aniesh Mahdi

http://anismahdi.blogspot.com/2013/02/habib-hasan-bin-alwy-bin-sahil.html

AL HABIB HASAN BIN AHMAD AL ‘ATTHOS

(Cicitnya Shohiburrotib Quthbil Anfas Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrohman Al ‘Atthos)


Habib Hasan bin Ahmad Al ’Atthos adalah pendiri Madrasah Al ‘Atthos Al Arobiyah Johor dan Pahang (Malaysia).

Habib Hasan Al ‘Atthos adalah keturunan generasi ke-34 dari Baginda Nabi Muhammad Saw dan daripada keturunan cucu kesayangannya Rosulullah Saw. yakni Sayyidina Husein.
Habib Hasan bin Ahmad bin Hasan bin ‘Abdullah bin Tholib bin Husein bin ‘Umar bin ‘Abdurrohman Al ‘Atthos bin Aqil bin Salim bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrohhman bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrohman As Seggaf bin Muhammad Mauladdawilah bin ‘Ali bin ‘Alawi bin Muhammad Al Faqih Muqoddam bin ‘Ali bin Muhammad Shohib Mirbat bin Ali Khali’ Qosam bin ‘Alawi bin Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Ubaydillah bin Ahmad Al Muhajir bin ‘Isa Ar Rumi bin Muhammad An Naqib bin ‘Ali Al ‘Uraidi bin Ja’far As Sodiq bin Muhammad Al Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Sayyidina Husein t bin Imam ‘Ali Karromallahu Wajhah dan Fatimah Az Zahro’ binti Rosulillah Saw.

Habib Hasan Al ‘Atthos adalah putra dari Habib Ahmad Al ‘Atthos. Ayah beliau adalah seorang pedagang yang berasal dari Hadhromaut yang bermigrasi ke Malaya (Asia Tenggara) di abad ke-19 dan ayahanda beliau menetap di Malaya hingga akhir hayatnya dan kemudian beliau pun di makamkan di Pahang (Malaysia).

Habib Hasan Al ’Atthos lahir pada tahun 1832 M . Ketika beliau tumbuh dewasa, beliau mengisi dengan menuntut berbagai ilmu pengetahuan Islam, Beliau belajar di Al Azhar University di Kairo Mesir dan tinggal di Mesir selama sekitar satu dekade. Seperti ayah beliau, Habib Hasan Al ‘Atthos juga seorang tokoh berpengaruh di Pahang dan berhasil mengumpulkan kekayaan melalui keterampilan kewirausahaan dan hubungan dekatnya dengan para pengusaha Pahang.

Beliau mengumpulkan harta bukanlah untuk hal pribadi akan tetapi harta tersebut digunakan untuk jalan menuju Allah SWT. Hal itu pun terbukti Habib Hasan Al ‘Atthos membiayai seluruh pendidikan agama bagi para penuntut ilmu, membangun banyak masjid dan tanah pun tak luput beliau sumbangkan untuk kuburan muslimin di Pahang, Johor dan Hadhromaut.

Beliau mendirikan sebuah sekolah Islam yang disebut Madrasah Al ‘Atthos di Pahang dan juga di Johor, Habib Hasan Al ‘Atthos pernah dianugerahi pangkat "Qarabat" (Kekerabatan) oleh Sultan Johor.

Habib Hasan Al ‘Atthos meninggal dunia pada tanggal 21 Maret 1932 M (1350 H) pada usia 100 tahun di Johor. Saat ini keturunan beliau baik itu laki-laki dan perempuan telah tersebar di seluruh Malaya yakni Malaysia dan Singapura, namun sebagian besar masih terdapat di Johor, Malaysia.



Al Habib Hassan bin Abdurrahman As-Seggaf

Beliau dikenal sebagai seorang wali yang besar karamahnya. Diriwayatkan pada suatu hari waktu beliau masih muda beliau sering keluar berburu bersama kawan-kawannya. Dalam suatu perburuan ketika rombongannya kehabisan bekal mereka mengeluh dan ketakutan. Beliau keluar ari rombongannya sebentar. Sekembalinya mereka dapatkan beliau membawa segantang buah kurma yang masih segar.

Diriwayatkan pula bahawasanya ada seorang yang memberinya pinjaman lapan gantang kurma. Pada suatu hari ketika orang itu menagihnya beliau dapatkan kurma yang dititipkan di rumah saudaranya wanita ternyata tinggal lima gantang. Sedangkan beliau tidak punya sesuatu apapun untuk mengganti. Kurma itu kemudian diambilnya dan dibolak-balikkan. Anehnya ketika kurma itu ditimbang kembali beliau dapatkan jumlah kurma tersebut menjadi lapan gantang.

Diriwayatkan pula ketika salah seorang muridnya minta izin hendak berkunjung ke rumah beliau, beliau berkata kepada isterinya: “Buatkan untuk suamimu hidangan istimewa”. Tanya isterinya: “Siapa lagi suamiku selain engkau?” Jawab Sayid Hasan: “Murdku itu akan jadi suamimu kelak setelah aku meninggal”. Apa yang diucapkan beliau itu ternyata benar. Sepeninggalannya isterinya dikahwini oleh bekas muridnya.

Diriwayatkan ada seorang murid Sayid Hasan yang mengikuti beliau waktu berziarah ke suatu perkuburan. Sekembalinya dari perkuburan waktu keduanya berjalan di bawah terik matahari yang sangat panas, sang murid mengeluh tidak dapat menginjakkan kedua telapaknya di bumi yang sepanas itu. Jawab beliau: “Letakkan telapak kakimu di bekas telapak kakiku”. Sang murid itu menjalankan perintahnya sehingga ia tidak merasa kepanasan lagi.

Sayid Hasan bin Abdurrahman As-Seggaf wafat di kota Tarim Hadramaut pada 813 H.

Dipetik dari: Kemuliaan Para Wali – karangan Zulkifli Mat Isa, terbitan Perniagaan Jahabersa



Al Habib Hasan bin Abdul Qadir Al-Attas

Berdakwah di Tengah Kaum Muda
“Siapa lagi yang peduli pada anak-anak muda? Ingat, tegak dan runtuhnya suatu negara tergantung pada pemuda.”

Ibarat pohon yang terus tumbuh, batangnya menjulang tinggi, akarnya semakin dalam, buahnya pun bertunas, kemudian tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan kuat. Begitu pula majelis yang hampir seabad lalu dirintis Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas, kini menyemai bibit bagi tumbuhnya majelis-majelis pada generasi selanjutnya. Salah satunya, Majelis Ta’lim dan Dzikir Nurul Fata.
Majelis Nurul Fata diasuh oleh Habib Hasan bin Abdul Qadir Al-Attas, salah seorang cicit Habib Abdullah bin Muhsin, Keramat Empang Bogor. Nasab lengkapnya, Habib Hasan bin Abdul Qadir bin Muhsin bin Abdullah bin Muhsin Al-Attas.
Dulu, leluhurnya memilih “Nur” sebagai nama majelis dan masjid yang ia bangun, kini sang cicit bertabarruk menggunakan nama yang serupa, dengan tambahan kata “Al-Fata”, yang berarti “pemuda”. Jadi, “Nurul Fata” bermakna “Cahaya Pemuda”.
Dengan nama itu Habib Hasan berharap, keberhakan Majelis Ta’lim An-Nur, yang didirikan sang kakek, tetap melekat di majelis yang sudah sepuluh tahun dibentuknya. Karenanya, majelis yang ia bina ini tak pernah mendahulukan Majelis An-Nur dalam momen pembukaan atau penutupan akhir tahun majelis. Kalau Majelis Nurul Fata mau dibuka, Majelis An-Nur harus sudah dibuka terlebih dulu. Begitu pun kalau mau tutup menjelang Ramadhan.
Sementara itu kata-kata “Al-Fata” yang ia gunakan adalah karena pada kenyataannya 70 persen jama’ahnya, bahkan ia sebagai pengasuhnya, berasal dari kalangan kaum muda. Majelis Ta’lim Nurul Fata ini memang memusatkan dakwah pada kalangan anak muda. Dakwah-dakwahnya selalu berisi motivasi serta dedikasi kepada para pemuda Islam yang ingin maju dalam tuntunan Islam. “Siapa lagi yang peduli pada anak-anak muda? Ingat, tegak dan runtuhnya suatu negara tergantung pada pemuda,” katanya.

Di Bawah Asuhan MunshibRoda perputaran kepemimpinan di Masjid An-Nur dan Makam Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas, Keramat Empang Bogor, memang agak berbeda dengan kebiasaan di tempat-tempat lainnya.
Biasanya, manshabah (kemunshiban) beralih dari putra tertua ke cucu putra tertua, dan begitu seterusnya. Di Keramat Empang Bogor tidak demikian, manshabah beralih dari putra tertua, kemudian ke putra kedua, dan seterusnya. Setelah putra terakhir wafat, manshabah kembali pada garis putra tertua, yaitu cucu shahibul maqam putra tertua, kemudian cucu putra kedua, dan seterusnya.
Karenanya, setelah Habib Muhsin bin Abdullah, putra tertua Habib Abdullah bin Muhsin, wafat, manshabah beralih pada putra-putra Habib Abdullah lainnya, atau adik-adik Habib Muhsin bin Abdullah, secara berurut, yaitu kepada Habib Zen bin Abdullah, Habib Husen bin Abdullah, dan Habib Abubakar bin Abdullah.
Sepeninggal Habib Abubakar, Habib Abdul Qadir, selaku cucu anak pertama Habib Abdullah bin Muhsin, memangku jabatan sebagai munshib di Keramat Empang Bogor. Habib Abdul Qadir adalah ayah Habib Hasan, figur kita kali ini.
Setelah Habib Abdul Qadir wafat, posisi munshib digantikan oleh cucu anak kedua, Habib Abdullah bin Zen, yang baru saja wafat beberapa bulan silam. Kini manshabah Keramat Empang Bogor diteruskan oleh cucu anak ketiga, yaitu Habib Abdullah bin Husen bin Abdullah bin Muhsin Al-Attas.
Meski berbeda dengan kebiasaan yang ada, selama ini roda kepemimpinan ala Keramat Empang Bogor terus berputar secara teratur di keluarga anak-cucu keturunan Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas, tanpa ada gejolak. Semuanya mengalir dengan tenang dan damai sesuai dengan aturan khas ala keluarga Keramat Empang Bogor.
Habib Hasan tumbuh besar di bawah asuhan dan didikan munshib kelima, yaitu ayahnya sendiri, Habib Abdul Qadir bin Muhsin bin Abdullah bin Muhsin. Banyak keteladanan dari sang ayah yang masih diingatnya hingga sekarang.
Sebagai munshib, aktivitas sehari-hari Habib Abdul Qadir adalah menerima kunjungan tamu yang datang dari berbagai daerah, bahkan dari mancanegara, dan mengantar mereka atau menuntun mereka dalam melaksanakan ziarah ke makam Habib Abdullah. Habib Abdul Qadir sendiri banyak mempelajari agama dari ayahnya, Habib Muhsin.
Di antara tokoh-tokoh yang menjadi sahabat dekat Habib Abdul Qadir adalah Habib Ahmad bin Ali Al-Attas Pekalongan, Habib Abdullah bin Ahmad Al-Kaf Tegal, Habib Hasan bin Husen Al-Haddad Tegal, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri.
Bukan hanya dekat, mereka pun saling cinta dan hormat. Misalnya, antara Habib Abdul Qadir dan Habib Abdurrahman Assegaf, kalau salah satu di antara mereka saling mengunjungi, yang berkunjung tak ingin yang dikunjungi berdiri untuk menyambut. “Abah tidak mau masuk ke ruangan kalau Al-Walid, Habib Abdurrahman Assegaf, sampai berdiri untuk menyambutnya. Begitu pun sebaliknya,” kisah Habib Hasan.
Jejak lebih UtamaSemasa hidupnya, Habib Abdul Qadir adalah seorang yang berjiwa sosial tinggi. Ia banyak membantu orang yang sedang mengalami kesulitan dalam keuangan.
Banyak pula orang yang berutang uang kepadanya. Habib Abdul Qadir hampir selalu meminjamkan uang kepada mereka yang hendak meminjam uang kepadanya. Tanpa bunga, tentunya. Sampai-sampai, waktu ia wafat, banyak orang masih berutang kepadanya.
Kepada para tamu atau jama’ahnya, terkadang Habib Abdul Qadir juga menjual sarung, terutama bila sudah mendekati bulan Ramadhan dan Lebaran. Uniknya, ia lebih suka menjual sarung dengan cara diutangkan. Rupanya, ia ingin tali silaturahim terus berlanjut. “Kalau dikasih kontan, biasanya orang tidak balik lagi,” kata Habib Hasan mengutip kata-kata ayahnya saat memberi alasan kenapa ia lebih suka menjual sarung-sarungnya itu dengan cara diutangkan.
Dalam keluarga, Habib Abdul Qadir adalah sosok ayah yang amat disegani putra-putrinya. Ia juga seorang yang sangat memuliakan tamu.
Habib Hasan mengisahkan sebuah pengalaman yang amat berharga baginya saat bersama sang ayah dulu. Suatu ketika, ia dan ayahnya hadir di sebuah majelis. Di sana, dibacakan kitab Maulid secara bergiliran. Karena duduk agak di depan, Habib Hasan juga dapat giliran membaca.
Saat akan membaca, tiba-tiba sang ayah mencegahnya. Ia menyuruh agar anaknya berhenti membaca saat itu juga dan meminta jama’ah yang lain untuk meneruskan.
Rasa malu, kecewa, bercampur aduk jadi satu dalam pikiran Habib Hasan saat itu. Seketika, ia pun teringat sebuah kisah di zaman dahulu tentang seorang wali yang dalam kesempatan makan bersama membagi-bagikan daging yang ada dalam piringnya kepada para jama’ahnya. Kepada putranya sendiri, ternyata si wali hanya memberi tulang yang telah habis terkelupas dagingnya, karena dagingnya telah habis ia makan.
Para ulama, ketika menerangkan alasan mengapa sang wali berbuat demikian, menyitir sebuah maqalah, “Jejak-jejak para wali lebih utama dari makamnya.”
Hikmahnya, Habib Abdul Qadir menginginkan sang putra memahami bahwa meneladani perilaku salafush shalih, para pendahulunya yang shalih, adalah lebih utama daripada sekadar membanggakan diri sebagai putra Fulan, cucu Fulan, dan seterusnya.
Habib Abdul Qadir, yang semasa hidupnya selalu mendawamkan bacaan shalawat Habib Sholeh Tanggul, wafat pada tahun 1998, dan dimakamkan di kompleks pemakaman Keramat Empang Bogor.

Tahun Baru, ya HijriyyahSejak kecil, Habib Hasan senang ikut dalam majelis. Ia juga senang mencium tangan orang-orang shalih dan duduk bersama mereka.
Sejak kecil pula ia ingin sekali masuk pondok pesantren, tapi, entah kenapa, ayahnya seakan tak merespons keinginannya itu.
Beberapa kali ia menanyakan ke ibunya ihwal hal itu, sang ibu hanya mengatakan, “Tak ada orangtua yang tak ingin anaknya menjadi seorang anak yang baik. Sabar saja.”
Sampai suatu ketika, setelah beberapa tahun keinginan itu tak juga pupus dari dadanya, ia dan kakaknya, Muhsin, dibawa ke studio foto. Sampai sana, mereka foto bertiga. “Takut kalau tidak ada umur,” kata sang ayah pendek, menjelaskan kenapa ia diajak untuk foto bersama.
Setelah itu, ayahnya pun mengizinkannya masuk ke pesantren.
Selama ini sang ayah merasa berat jika harus berpisah dengan anaknya. Mungkin, foto itu bisa menjadi obat rindu.
Selepas dari pesantren, sekitar tahun 1997, ia memberanikan diri membuka majelis Al-Burdah.
Setelah berjalan beberapa bulan, ia, yang saat itu belum mengantungi ijazah Al-Burdah, sengaja sampai pergi ke Surabaya demi meminta ijazah dari Habib Syekh bin Muhammad bin Husein Alaydrus, shahib majelis Burdah di Surabaya.
Sayangnya, di sana ia tak kesampaian menemui Habib Syekh. “Terus terang, hati saya khawatir. Saya mengasuh majelis Burdah, sementara saya sendiri belum mendapat ijazah Al-Burdah. Akhirnya, sementara saya berhentikan dulu majelis Al-Burdah tersebut.”
Tahun 1998, majelisnya ia mulai buka lagi. Lokasi majelisnya itu di kawasan Parung Banteng, yaitu di sekitar daerah yang dulu menjadi basis majelis Al-Walid Habib Abdurrahman Assegaf Bukit Duri, sebelum akhirnya memindahkannya ke Citayem. Tapi, saat itu ia membawakan bacaan Asma’ul Husna, bukan lagi Al-Burdah. “Alhamdulillah, kalau Asma’ul Husna, ijazahnya sudah saya dapat dari Habib Ahmad bin Abdullah Al-Attas Benhil. Setelah Habib Ahmad wafat, saya bahkan meminta ijazah kembali dari putra beliau, Habib Umar bin Ahmad Al-Attas. Belum lama, sewaktu Habib Zain Bin Smith (Madinah) datang, saya juga meminta ijazah lagi darinya,” tutur Habib Hasan.
Tahun 1999, Yayasan Majelis Ta’lim Mudzakarah Nurul Fata resmi berdiri. Di antara yang hadir saat peresmian adalah Kapolri Jenderal Rusmanhadi. Turut hadir pula dalam acara tersebut Menko Kesra Hamzah Haz dan pejabat-pejabat pemerintahan setempat. Saat itu, tak kurang dari sepuluh ribu hadirin turut menyemarakkan acara.
Di majelisnya itu, setiap Jum’at malam minggu kedua, jama’ah, yang mayoritas anak-anak muda, membaca dzikir Asma’ul Husna dan Ratib Al-Attas. Mengenai ijazah Ratib Al-Attas, tak perlu disangsikan, karena ia lahir dan besar dari seorang munshib pada salah satu keluarga Al-Attas terkemuka.
Untuk urusan dapur Nurul Fata, ia melakukannya secara mandiri, atau dengan dukungan sejumlah tokoh. “Selama penyelenggaraan Asma’ul Husna di Majelis Al-Fata, kalau ada yang memberi, kita terima. Tapi saya tidak mau menyodorkan proposal ke masyarakat,” kata Habib Hasan.
Setahun sekali, tepatnya malam tanggal 1 Muharram, Nurul Fata mengadakan acara tabligh akbar menyambut tahun baru Islam sekaligus ulang tahun Nurul Fata. Acara tabligh akbar Nurul Fata di malam tahun baru Hijriyyah itu selalu berlangsung dengan meriah.
“Kita kan umat Islam, tahun baru yang mesti dirayakan adalah tahun baru Hijriyyah. Merayakannya bukan dengan pesta pora, tapi dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti mau’izhah hasanah, pembacaan Asma’ul Husna, sirah Nabawiyah, qashidahan, dan sebagainya. Dalam hal ini Majelis Ta’lim Nurul Fata merasa berkewajiban merayakannya pula,” kata Habib Hasan kepada alKisah.

Dari Majelis Menjadi PesantrenDari tahun ke tahun, jama’ah yang hadir dan terlibat di majelisnya semakin banyak. Saat ini saja, untuk majelis rutinan yang diselenggarakan, ada sekitar 200 orang yang hadir.
Selain menyelenggarakan majelis ilmu dan dzikir, sesekali Nurul Fata juga menggelar aktivitas sosial, di antaranya khitanan massal. Tahun kemarin, 200-an anak telah dikhitan bersamaan dengan ulang tahun Nurul Fata.
Ternyata, selama berjalan beberapa tahun Majelis Nurul Fata baru sanggup mengontrak sebuah rumah. Alhamdulillah, tahun 20009 Habib Hasan sudah membeli sebidang tanah yang cukup luas, 6.000 meter persegi. Rencananya, di atas tanah itu akan dibangun Pondok Pesantren Nurul Fata.
Setelah ‘Idul Fithri ini rencana pembangunan pondok pesantren itu akan mulai.
Masyarakat menyambut antusias rencana tersebut. Buktinya, meski pembangunan belum resmi dimulai, mereka sudah mulai bergerak sendiri sepekan sekali, tanpa ada perintah darinya atau biaya atas upah kerja mereka.
“Mereka bekerja secara mandiri atas inisiatif sendiri. Masing-masing membawa alat-alat pertukangan sendiri,” kata Habib Hasan lagi.
Mengenai perkembangan majelisnya yang terlihat pesat, Habib Hasan mengatakan, “Semua ini berkah Asma’ul Husna, atas izin Allah SWT. Juga karena keikhlasan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Mengerjakan segala sesuatu kalau ada motivasi duniawi, jangan harap ada keberkahan di dalamnya. Dan juga, diperlukan koordinasi yang bagus dengan aparat dan jajaran pemerintah.”
Rencananya, pesantrennya ini akan banyak meniru sistem pendidikan pada Pesantren Darul Lughah wad Da’wah Bangil. Hal ini, kata Habib Hasan, dikarenakan keberhasilan pesantren tersebut mencetak banyak insan dakwah sejak dulu hingga sekarang. Dan yang terpenting, penanaman akhlaq. “Akhlaq harus didahulukan dari ilmu. Itu pesan Abah kepada saya,” kata Habib Hasan.

Berkah Asma’ul HusnaSuatu ketika, Habib Hasan berkisah, salah seorang jama’ah yang dikenalnya dengan baik datang kepadanya sambil menangis. Ternyata jama’ahnya itu sedang dalam masalah dengan pembayaran listrik, yang tiba-tiba membengkak luar biasa. Rupanya, ada orang yang mencuri listriknya. Sewaktu ada pemeriksaan, listriknya disegel dan ia diwajibkan melunasi biaya denda yang cukup besar.
“Saya mengenalnya sebagai orang baik. Di antara tanda baiknya seseorang adalah ia selalu ada di setiap tempat kebaikan. Begitu pula si bapak yang satu ini, saya sering melihatnya hadir pada majelis-majelis kebaikan.
Saya katakan kepadanya, ‘Ya sudah, insya Allah besok saya datang ke PLN.’ Padahal saya tak kenal seorang pun pejabat PLN di sana.
Keesokan harinya, saya berpakaian dengan pakaian rapi, bercelana panjang dan berkemeja.
Baru masuk, ada seorang aparat yang langsung menyapa saya. Rupanya dia kepala keamanan di situ. Bersama aparat tersebut, saya diantar langsung masuk ke ruang kepala PLN.
Saya bicarakan baik-baik, mereka pun menerimanya dengan baik-baik.
Mereka kemudian mengatakan kepada saya, ‘Habib, jangan membela yang salah, karena yang memeriksa adalah Tim Sembilan.’
Saya katakan kepada mereka, ‘Tidak, saya bukan mau membela yang salah. Saya hanya melihat bahwa orang ini adalah orang baik. Saya berharap, jaringan listriknya diperiksa ulang, untuk lebih mengetahui di mana letak permasalahannya.’
Di tengah pembicaraan, tiba-tiba Pak Wali Kota menghubungi saya, dalam rangka mengundang saya untuk hadir pada majelis tasyakuran di rumahnya.
Mengetahui bahwa yang menelepon adalah wali kota, mereka tampak terkejut. Pembicaraan pun mulai melunak. ‘Habib, maaf, tapi ini tidak bisa ditolong,’ ujar kepala PLN itu lagi.
Berselang beberapa detik, giliran Kapolda Jabar yang menelepon.
Setelah itu, saya langsung disuguhi minuman. Lalu diputuskan, kasus itu pun diteliti ulang. Hasilnya, orang tersebut terbukti tak bersalah.”
Sebagai penutup obrolan dengan alKisah, Habib Hasan pun berpesan, “Insya Allah, dengan dzikir Asma’ul Husna, Allah memberikan jalan di saat kita kesusahan.”

Diposkan oleh Majlis Arrahman


Al Habib Hamid Bin Alwi al-Kaaf - Khalifah Syaikh Yaasin

Di antara ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah bermazhab Syafi`i yang masih hidup dan berbakti menabur ilmu di Kota Suci Makkah al-Mukarramah adalah al-Habib Hamid bin `Alwi bin Salim bin Abu Bakar al-Kaaf al-Husaini asy-Syafi`i al-Makki hafizahullah. Beliau dilahirkan pada hari Ahad 25 Sya'baan 1345H di Banjarmasin, Kalimantan, Indonesia. Dibesarkan dalam keluarga mulia dan mula menuntut ilmu di bawah asuhan ayahanda beliau sendiri. Ayahanda wafat di Makkah ketika beliau masih kecil, lalu beliau meneruskan persekolahannya di Banjar sebelum pergi ke Surabaya untuk bersekolah di Madrasah al-Khairiyyah pada tahun 1360H. Di sana beliau belajar selama 3 tahun dan di antara guru beliau adalah Syaikh `Umar Baraja`, Habib Salim bin `Aqil dan lain-lainnya. Setelah 3 tahun di madrasah tersebut, beliau kembali ke Banjarmasin dan meneruskan pengajian di Ma'had Darus Salam ad-Diniyyah di Martapura. Antara guru beliau di sini adalah Syaikh Muhammad Sya'raani bin `Arif, Syaikh Husain Qudri dan Syaikh Abdul Qadir Hasan. Pada tahun 1367 beliau ke Makkah untuk menunaikan fardhu haji dan untuk menuntut ilmu di sana. Beliau menuntut di Masjidil Haram selama 4 tahun sebelum masuk ke Darul Ulum ad-Diniyyah pada tahun 1371 sehingga selesai pengajian di sana pada tahun 1373H. Setelah tamat pengajian, beliau mula mengajar berbagai ilmu seperti fiqh, usul, hadis, nahu, falak dan ilmu-ilmu alat, sehingga menjadi antara ulama yang mengajar dalam Masjidil Haram selain menjadi guru di Madrasah Ulum ad-Diniyyah, Makkah. Beliau juga pernah dilantik menjadi setiausaha Majlis Syura dan sehingga kini beliau menjadi ahli fatwa (mufti) Kedutaan Indonesia di Arab Saudi. Beliau juga terkenal sebagai seorang ulama yang mahir dalam ilmu-ilmu hadits dan falak sehingga beliau digelar sebagai al-`Allaamah al-Muhaddits al-Falaki.
Antara guru-guru beliau yang lain adalah Syaikh Muhammad Yaasin al-Fadani di mana beliau mempunyai ikatan yang erat dengan Syaikh Muhammad Yaasin sehingga beliaulah yang menjadi khalifah beliau dan kini beliau tetap terus mengajar di halaqah Syaikh Muhammad Yaasin pada setiap malam Rabu di Syari' Sittin. Semoga Allah memberikan umur yang panjang kepada beliau dalam sempurna kesihatan lagi banyak keberkatan

Diposkan oleh Majlis Arrahman

http://alhabaib.blogspot.com/search/label/Habaib

Al Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaff

Dakwah di Tanah Gersang
Seorang murid harus jadi orang baik. Jika tidak, ia bisa dikeluarkan.
Makkah, kota di tengah gurun pasir nan tandus, selalu menjadi tujuan kaum muslimin setiap tahunnya untuk berhaji. Meski jarak jauh membentang, harus mengorbankan harta benda, bahkan nyawa. Bukan hanya demi sebuah kewajiban, yang harus ditunaikan bagi yang mampu, tapi lebih dari itu, demi kerinduan yang memuncak kepada Sang Pemilik Makkah, Pemilik Ka’bah, Allah Azza Wajallah.

Khusus bagi seorang muballigh yang alim dan shalih, Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaf, Makkah mempunyai tempat tersendiri di hatinya. Ia tak ‘kan pernah melupakan kota ini. Di sinilah ia tumbuh dewasa, digembleng dalam taburan ilmu dan hikmah, di bawah asuhan dan bimbingan ulama besar kota Makkah Sayyid Muhammad bin Alwy Al-Maliky Al-Hasany.

Saat ditemui alKisah di Pondok Pesantren Al-Haromain Asy-Syarifain, pesantren yang dibangunnya sejak tujuh tahun lalu, di Jalan Ganceng, Pondok Ranggon, Jakarta Timur, pada tanggal 2 November, sebelum ia pergi ke Tanah Suci Makkah pada 7 November, dengan senang hati habib yang berperawakan gagah itu menceritakan bagaimana pengalamannya saat belajar bersama gurunya tercinta di tanah yang dimuliakan dan disucikan Allah SWT.

“Alhamdulillah, tiada duka. Semuanya sangat menyenangkan.... Ini nikmat Allah yang luar biasa,” katanya.
Berikut penuturan Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaf yang begitu mempesona:

Begitu Dekat dengan Nabi
Saya lahir dan tinggal di kota Tegal. Kedua orangtua saya berharap, anak-anaknya, baik yang laki-laki maupun perempuan, menjadi orang yang alim dalam ilmu agama. Sebab dengan menjadi orang alim, bisa bermanfaat, terutama untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan masyarakat umum.

Alhamdulillah, berkat usaha orangtua, saya dan kakak saya, Habib Thohir, diberangkatkan ke Makkah Al-Mukarramah, untuk berguru kepada Al-Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alwy Al-Maliky Al-Hasani, atau sering disapa “Abuya”.

Abuya adalah ulama yang bersungguh-sungguh menyebarkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Beliau berusaha membentengi Aswaja, walaupun di sana tersebar Wahabi. Karena itu, murid-muridnya pun mempunyai semangat yang sama. Di tempatnya masing-masing, mereka gigih membentengi aqidah Aswaja, karena kita berkeyakinan bahwa Aswaja adalah satu-satunya aqidah yang benar.

Kami menuntut ilmu dengan senang. Mulai dari berangkat dari tanah air, hingga pulang ke tanah air, semua biaya ditanggung Abuya. Bahkan beliau memberi uang saku kepada kami. Pakaian, kitab, makanan, semua dijamin Abuya. Ruang tidur kami pun ber-AC. Jadi semua serba nikmat.

Tapi ada syarat utama yang beliau berikan kepada murid-muridnya. Yaitu, kami harus gigih menuntut ilmu, selalu menjaga akhlaq yang baik, wirid harus diperhatikan betul, dan selalu shalat berjama’ah.

Akhlaq yang mulia ini sangat penting dan harus diperhatikan sampai hal yang kecil, mulai dari perkataan, berpakaian, bagaimana berinteraksi dengan guru, orangtua, menghadapi murid, tamu, dan lain-lain.

Akhlaq ini sangat penting, lebih penting daripada kebanyakan ilmu. Ilmu banyak, tapi adabnya sedikit, jelek....

Selain mengenai masalah akhlaq, kami juga diajari bermacam-macam ilmu, seperti tafsir, hadits, fiqih, faraidh, tasawuf.

Jadi, murid-murid lulusan dari sana mempunyai keistimewaan tersendiri. Kalau bicara tafsir, mereka siap. Bicara hadits, mereka pun siap. Karena semua ilmu didalami.

Guru saya bukan hanya seorang alim, tapi juga ‘abid, ahli ibadah, yang luar biasa, baik dari segi bangun malam maupun wiridan. Beliau juga sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Beliau sering bermimpi bertemu Nabi Muhammad. Bahkan murid-muridnya atau teman-temannya, baik yang ada di pesantren maupun di luar pesantren, sering memberikan kabar gembira untuk Abuya dari Rasulullah lewat mimpi mereka. Ini sering terjadi.

Beliau juga tak pernah lepas dari shalat Istikharah. Bahkan jika hendak bepergian, beliau tidak akan berangkat kecuali setelah shalat Istikharah terlebih dahulu. Kadang persiapan sudah dilaksanakan, tapi kemudian mendapat kabar “lebih baik jangan pergi”, maka beliau membatalkannya.

Semua ini berkah dari hubungan dekat beliau dengan Nabi SAW. Kecintaan beliau kepada Nabi SAW luar biasa.

Rekreasi Islami

Jika ada waktu luang, beliau mengajak muridnya pergi ke tempat lain, misalnya ke Thaif, atau Hada, tempat yang dingin, untuk berekreasi. Tapi rekreasi ini rekreasi Islami. Di sana kami diajak membaca Maulid, setelah itu membaca ktiab, lalu shalat dan wirid berjama’ah. Kalau ada waktu kosong, beliau mempersilakan kami untuk bermain atau sekadar jalan-jalan. Tapi ketika waktu shalat tiba, kami harus tetap shalat berjama’ah.

Jika kami mempunyai waktu luang, beliau memerintahkan kami untuk selalu membawa kitab. Kata beliau, “Jangan pergi ke mana saja kecuali membawa kitab. Waktu kosong jangan dibuang begitu saja, tapi gunakanlah untuk menelaah kitab. Manfaatkan waktu untuk belajar dan beribadah.”

Waktu pertama kali saya datang, saya disyaratkan untuk belajar minimal lima tahun lamanya. Tidak boleh kurang. Abuya berkata, “Kamu nggak boleh pulang sebelum lima tahun. Sudahlah, kamu jangan mirikin apa-apa. Di sini saja belajar.”

Saya pun menerimanya dengan ikhlas. Ketika itu sekitar tahun 1982.

Murid-murid yang datang setahun kemudian, syarat lamanya belajar naik menjadi 10 tahun. Dan setahun kemudian, syarat itu bertambah lagi....

Abuya menerapkan sistem demikian karena beliau ingin murid-muridnya tidak pulang sebelum berhasil. Beliau sering mengatakan, “Kalau belajar, jangan suka pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Belajar di satu tempat terlebih dahulu sampai pintar. Jika sudah pintar atau sudah ahli, silakan pindah ke tempat lain.”

Sebelum murid-muridnya pulang, beliau akan mengevaluasi mereka.

Saya sendiri bisa pulang ke tanah air setelah tujuh setengah tahun. Beliau mengizinkan saya pulang dan ridha. Alhamdulillah.

Berkhidmah kepada Guru
Dalam menuntut ilmu, akhlaq terhadap guru harus diperhatikan. Kita berusaha bukan hanya untuk belajar, tapi juga berkhidmah, artinya melayani guru.

Bahkan berkhidmah di pesantren bukan hanya melayani guru, tapi juga teman. Kita membersihkan halaman, kamar mandi, dan sebagainya. Jadi pesantren kami tidak membutuhkan pegawai, semuanya dikerjakan santri.

Dikatakan, man khadam, khudim, orang yang melayani, pasti akan dilayani. Apalagi yang kita layani orang alim, orang shalih, seorang waliyullah.

Ada satu contoh dari Imam Al-Ghazali semasa beliau belajar. Beliau datang kepada seorang syaikh, orang alim.

“Wahai Syaikh, saya akan berkhdimah, tolong bagikan tugas kepada saya,” kata Imam Al-Ghazali.

Syaikh menjawab, “Semua sudah dipegang oleh para murid. Air wudhu saya sudah ada yang nyiapin, sandal saya sudah ada yang nyiapkan, semuanya sudah. Tinggal satu.”

“Apa itu?”

“Batu untuk istinja saya.”

Dulu, kalau orang buang air besar, menggunakan batu untuk membersihkan. Batu itu, setelah digunakan, ditaruh, kan najis. Supaya bisa dipakai lagi, harus dibersihkan, disiram, disucikan, dijemur. Nah, pekerjaan ini yang masih ada.

Maka, pekerjaan itu pun diterima Imam Al-Ghazali.

Hasilnya, dengan khidmah semacam itu, derajat Imam Al-Ghazali naik. Beliau menjadi orang alim, shalih, seorang wali, pengikutnya pun para wali besar. Masya Allah.... Inilah hikmah dari berkhidmah kepada guru.

Dan alhamdulillah, ketika saya pulang ke Indonesia, semua itu terbukti. Banyak yang melayani saya. Ketika saya hendak berdakwah, banyak yang membantu saya. Saya berpikir, ini semua berkah dari guru saya. Jadi, orang yang membantu, pasti akan dibantu.

Nikmat yang Luar Biasa
Di Makkah, selain belajar, kami juga bisa haji setiap tahun. Bisa juga umrah berulang-ulang, khususnya pada bulan Ramadhan, kami bisa hampir tiap hari umrah. Abuya mendapat jadwal mengajar di Masjdil Haram. Setiap berangkat, beliau selalu mengajak beberapa muridnya. Beliau mengizinkan kami untuk umrah.

Setiap tahun diajak haji. Haji juga dengan beliau, dengan orang alim. Di Indonesia orang pengin haji dituntun oleh kiai dan ustadz. Ini dengan orang alim yang hidupnya di Makkah.

Ketika beliau membaca doa di Arafah, bukan hanya muridnya yang datang, tapi juga kiai, ikut kumpul di kemah tersebut. Ya Allah, nikmatnya luar biasa....

Sungguh nikmat luar biasa. Mempunyai guru orang baik, tempat belajarnya baik, sarana dan prasarana di sana pun menyenangkan. Tapi syaratnya juga berat, seorang murid harus jadi orang baik. Jika tidak, ia bisa dikeluarkan.

Abuya adalah orang yang sangat tegas. Namun begitu, semua itu dilakukan karena beliau sangat sayang kepada murid-muridnya. Ada satu kesukaan beliau, yaitu dipijat oleh santrinya. Tapi bukan sembarang pijat, beliau mempunyai maksud agar ketika dipijat terjadi hubungan yang sangat dekat dengan muridnya.

Semua murid ingin memijat beliau. Setiap murid senantiasa menunggu panggilan beliau. Kami sangat mencintai guru kami. Hubungan dengan guru bukan hanya dunia, tapi juga akhirat. Kami semua ingin mendapat doanya dan  syafa’atnya.

Suatu ketika, beliau memangil saya. Saya pun langsung meloncat, kegirangan, dan langsung cepat-cepat mendatangi beliau.
Ketika itu beliau bertanya, “Abah kamu punya anak berapa?”

“Dua belas, Abuya,” kata saya.

“Abah kamu kan anaknya banyak, satu untuk saya saja. Kamu untuk saya saya ya...,” kata Abuya.

Mendengar harl itu saya diam saja. Siapa yang tidak ingin menjadi putra Abuya. Tinggal dan berkhidmah kepadanya. Tapi saya juga ingat orangtua saya. Jadi, ketika Abuya mengatakan demikian, saya diam saja.

Saya merasa begitu dekat dan disayang Abuya. Tapi, bukan saya saja yang merasa demikian. Semua murid merasa disayang Abuya. Sungguh, beliau menyayangi kami semua.

Pada tahun 1989, Abuya mengizinkan saya pulang. Namun, sebelum mengizinkan muridnya pulang, beliau beristikharah.

Beliau mengizinkan saya pulang dengan memberikan banyak ijazah amalan kepada saya, beliau juga memakaikan imamah kepada saya. Dan tak lupa beliau memberi uang saku untuk saya pulang.

Ponpes Al-Haromain Asy-Syarifain

Sepulang dari Makkah, saya tinggal di Tegal. Pada tahun 1992, saya menikah dengan adik bungsu Habib Abdul Qadir Alatas, pengasuh Pesantren Al-Hawi, Condet.

Kemudian saya mulai bolak-balik Jakarta-Tegal, dan mulai mengajar di beberapa tempat. Hingga akhirnya orangtua saya mengizinkan saya tinggal di Jakarta, tepatnya di Kebon Nanas.

Setelah itu saya merintis pendirian pesantren. Saya mendapat izin dari Abuya, lalu mencari-cari tanah, dan mendapatkannya di Jln. Ganceng, Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Maka, pada 21 April 2003, berdirilah pesantren yang saya namai “Pondok Pesantren Al-Haromain Asy-Syarifain”.

Nama ini sesuai dengan tempat belajar saya, yaitu Makkah dan Madinah. Dua tempat yang disucikan dan dimuliakan.

Sedikit demi sedikit tanah di sekitar pesantren saya bebaskan. Kini luas tanah pesantren sekitar 7.150 meter. Guru-guru di pesantren ini sebagian berasal dari Pesantren Al-Anwar, Rembang, pimpinan K.H. Maimun Zubair, seorang kiai sepuh yang sangat alim dan shalih.

Setelah beberapa waktu, alhamdulillah, masyarakat di sini, Pondok Ranggon, menyambut dakwah saya dengan baik. Semua itu karena kami sepaham dan seaqidah.

Dalam berdakwah, saya mengikuti metode para habib dan ulama shalihin. Yaitu tidak memulai pengajian dengan langsung mengkaji kitab, tapi memulai dengan Maulid, dilanjutkan dengan pembacaan wirid, seperti ratib, kemudian pengajian, dan diakhiri dengan doa.

Mengapa harus Maulid dan wirid terlebih dahulu?

Ilmu ini sangat mahal. Lebih mahal daripada intan berlian. Ibarat orang menjual barang mahal, barang itu harus ditempatkan di tempat yang bagus dan apik. Jika tidak, dagangannya tidak akan laku. Tapi kalau ditempatkan di tempat yang bagus, insya Allah orang pun akan tertarik.

Contoh lainnya, bila kita hendak makan. Makanannya sangat lezat, tapi ditempatkan di piring yang kotor dan bau. Apakah kita mau memakannya? Tentu tidak. Karena itu, sebelum makan, piring tempat kita makan harus dibersihkan dulu.

Begitu pula dengan ilmu. Supaya ilmu meresap ke dalam hati, hati harus dibersihkan dahulu. Yaitu dengan cara membaca Maulid dan wirid. Dan supaya ilmu itu tidak keluar lagi, setelah pengajian kita membaca doa, supaya ilmu yang diajarkan ketika itu melekat ke hati dan menjadi penerang jalan hidup kita.

Alhamdulillah, dengan cara seperti ini, dakwah saya meluas ke mana-mana. Undangan untuk mengisi pengajian pun semakin banyak. Yang tadinya saya mengisi sebuah majelis di sebuah wilayah seminggu sekali, karena waktunya harus dibagi, untuk satu majelis hanya bisa satu bulan sekali. Hari-hari selebihnya kami serahkan kepada ustadz atau guru-guru yang sudah saya tunjuk, yang tentunya paham dan aqidahnya sama.

Dalam waktu satu bulan, paling tidak hanya 30 tempat atau majelis yang bisa saya datangi. Sementara kampung-kampung yang tersebar di sekitar sini ada ratusan kampung.

Majelis Mahabbaturrasul
Lalu, bagaimana supaya kampung-kampung yang masih “gersang” ini bisa tersirami dengan dakwah Aswaja dengan baik?
Saya pun membentuk majelis dakwah keliling bernama “Majelis Mahabbaturrasul”. Mahabbaturrasul artinya cinta Rasulullah, dan insya Allah cinta ini akan mendatangkan kecintaan Rasulullah kepada kita.

Majelis ini diawali dengan konvoi dari Pondok Pesantren Al-Haromain Asy-Syarifain lalu berakhir di sebuah tempat. Di tempat itulah jama'ah berkumpul, dan didakan acara ceramah. Penceramah tidak hanya saya, tapi juga kiai-kiai dan ustadz-ustadz yang datang ketika itu.

Awalnya, majelis ini hanya berlangsung satu bulan sekali. Namun karena permintaan semakin banyak, akhirnya diadakan seminggu sekali.

Setiap pengajian, alhamdulillah, jama’ah yang datang tidak hanya dari kalangan muhibbin, tapi juga para ulama, kiai, pejabat, orang awam, para pemuda. Ini sebagai tahaddusan binni'mah, menyebut-nyebut nikmat Allah, yang dianjurkan oleh Rasulullah.


Diposkan oleh Majlis Arrahman


Al Habib Hadi bin Abdullah Al-Haddar

Kabupaten Banyuwangi, sebuah kabupaten yang terletak paling ujung timur dari propinsi Jawa Timur selain terkenal sebagai kota santri juga di kabupaten ini terdapat seorang auliya’ yang setiap tahun haulnya diperingati dengan besar-besaran setiap hari ahad pagi minggu pertama bulan Muharam. Waliyullah itu adalah Habib Hadi bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Soleh Al-Hadar. Ia Lahir pada tahun 1908 M (1325H) di Banyuwangi. Habib Hadi dari kecil telah menunjukan akhak yang terpuji. Dari kanak-kanak ia telah menunjukan sikap-sikap yang baik. Dengan teman sepermainan tidak pernah mau mengganggu dan kalau pun diganggu, ia tidak pernah melawan.
Pada umur sembilan tahun, ibunya yang bernama Syarifah Syifa binti Mustafa Assegaff meninggal. Ia kemudian oleh ayahnya Habib Abdullah bin Umar Al-Haddar dibawa ke Gathan, Hadramaut. Selama di negeri para auliya itu, Habib Hadi belajar dengan ulama-ulama setempat. Hari- hari diisinya dengan taklim dan mengaji.
Saat bulan Ramadhan tiba, masyarakat muslim Hadramaut menyelenggarakan shalat tarawih berjamaah dengan waktu yang berbeda-beda, mulai dari lepas shalat isya sampai jelang waktu sahur. Habib Hadi tak ketinggalan ikut shalat tarawih berjamaah dari masjid yang satu ke masjid yang lainnya dari mulai lepas Isya sampai waktu jelang sahur. Kebiasaan ini membuat ayahanda Habib Hadi, Habib Abdullah bin Umar marah kepadanya.”Kamu ke sini bukan untuk beribadah. Kamu datang ke sini untuk menuntut ilmu. Jangan satu malam kamu habiskan untuk shalat tarawih.”
Padahal usianya pada waktu itu, baru 11 tahun, ayahnya meninggal. Habib Hadi kemudian tinggal bersama seorang adiknya, yakni Habib Muhammad. Saat itulah ia hidup sangat sederhana di Hadramaut, namun di tengah kesederhanaan itu, ia selalu mendahulukan adiknya. Kalau ia mendapatkan dua keping roti dan secangkir kopi tiap sehabis shalat berjamaah, dua keping roti dan secangkir kopi itu diberikan untuk adiknya dan ia lebih berpuasa. Demikian kecintaan yang luarbiasa untuk sang adik.
Habib Hadi dari kecil telah menjaga makanan yang dimakan dari sesuatu yang haram, bahkan yang diragukan (subhat). Pernah suatu ketika sang adik membawa buah-buahan, ia kemudian bertanya, ”Dari mana kamu dapat buah-buahan ini?”
Sang adik menjawab,”Saya memungut dari kebun sebelah.”
Mendengar jawaban dari sang adik, Habib Hadi marah kemudian ia memegang buah yang dibawa sang adik dan berkata, ”Kembalikan ke tempat yang kamu yang dapat.”
Sang adik pun akhirnya menuruti perintah sang kakak mengembalikan buah yang jatuh kepada sang pemilik kebun.
Demikianlah sedari kecil, Habib Hadi sangat menjaga makanan yang masuk ke perutnya. Sehingga ibadah sesuatu
Setelah ayahnya meninggal, Habib Hadi belajar dengan Habib Muhammad bin Hadi Assegaff di Seiwun. Habib Muhammad bin Hadi Seiwun ini adalah murid dari Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, sahibul maulid Simthud Durar. Selama di majelis Habib Muhammad ini, teman Habib Hadi selama belajar di sana adalah Habib Abdulkadir bin Husein Assegaff (ayahanda Habib taufik, Pasuruan).
Kalau malam, Habib Hadi bermunajat, berdzikir dan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT (qiyamul lail), sedangkan kalau siang hari ia berpuasa. Wajarlah melihat aktivitas ibadah dari Habib hadi telah terlihat sejak kecil, membuat sang guru, Habib Muhammad memberikan kedudukan yang istimewa di tengah murid-muridnya.
Dalam mengajar, Habib Muhammad selalu menyediakan tempat duduk di sampingnya dalam keadaan kosong, dan tidak pernah ada seorang pun dari murid-muridnya yang berani menempati tempat duduk yang kosong itu. Tempat duduk yang kosong itu adalah tempat duduk Habib Hadi bin Abdullah Al-Hadar.
Pada umur 20 tahun, Habib Hadi pulang ke Indonesia melalui pelabuhan Surabaya. Saat itu ia disambut oleh saudara-saudaranya yang saat itu sudah sukses di Surabaya, seperti Habib Ahmad (pemborong jalanan), Habib Muhamad (pedagang beras), Habib Mustafa (saudagar kopra). Tapi, Habib Hadi menolak semua sambutan yang meriah, ia menolak pakaian yang sudah dipersiapkan oleh saudara-saudaranya.
Melihat saudaranya yang sudah maju, Habib Hadi tidak terpikat untuk bergabung dengan saudara-saudaranya. Ia justru mampir ke tempat kenalannya yakni H. Abdul Aziz, seorang pedagang kain. Habib Hadi tiap hari berjualan sarung, kain batik di pasar. Melihat Habib Hadi jualan di pasar, saudara-saudaranya marah. Habib Hadi kemudian ditarik kerja di pelabuhan bagian menimbang kopra.
Akhirnya Habib Hadi, menurut perintah saudara-saudaranya kerja di pelabuhan. Namun, sebelum kerja di pelabuhan, ia sempat mampir ke pasar untuk membeli paesan (nisan untuk orang mati) dan selalu dibawa ke tempat kerja. Nisan yang terbuat dari kayu itu ditaruhnya di bawah timbangan dan selalu ditaburi bunga yang masih segar. “Saya kalau menimbang kopra selalu ingat nisan yang ada di bawah timbangan. Dengan mengingat nisan ini, saya selalu ingat akan mati, maka timbangannya harus pas. Karena yang saya timbang ini akan dipertanggungjawabkan, kelak di hari kiamat,” kata Habib Hadi mengomentari tingkahnya yang selalu membawa nisan saat bekerja.
Pernah ia dipindah ke bagian keuangan (kasir), suatu saat ia mengumpulkan uang yang rusak, palsu dan dikumpulkan semua. Dan akhirnya semua uang yang rusak itu dibuang ke laut. Melihat perilaku Habib Hadi, saudara-saudaranya sudah habis rasa kesalnya. Mereka marah dengan perilaku Habib Hadi.
Melihat ketidakcocokan dalam bekerja dengan saudara-saudaranya, Habib Hadi kemudian berhenti bekerja dan lebih banyak beribadah serta hadir di acara-acara haul para ulama dan habib yang tersebar di Pulau Jawa, mulai Habib Ali bin Abdurahman Al-Habsyi. Habib Hadi kembali berdagang kain untuk menghidupi keluarga. Uniknya dalam berdagang, ia selalu jujur mengatakan harga yang sebenarnya dari barang yang dijualnya kepada pembelinya.”Boleh kamu kasih ongkosnya, atau lebihkan sedikit dari barang ini,” kata Habib Hadi kepada para pembelinya.
KH Chasan Abdillah salah seorang ulama ternama di Glenmoore, Banyuwangi pernah berkata kepada Habib Hadi, ”Habib, anda tidak ditipu sama orang dengan berjualan seperti itu?”
“Biar orang-orang menipu saya. Yang penting, saya tidak menipu sama orang lain,” kata Habib Hadi kepada KH Chasan Abdillah.
Habib Hadi saat Banyuwangi dikenal sangat dekat dengan Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaff (Pasuruan). Saat itu Habib Ja’far mempunyai tasbih kesayangan yang diperoleh dari Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad. Tasbih itu ternyata adalah milik Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi. “Siapa yang memegang tasbih ini akan membuat kenyang akan dzikrullah,” kata Habib Ja’far kepada orang-orang yang ada di majelis. Orang-orang berebut ingin mendapatkannya. Tapi Habib Ja’far bin Syaikhon mencegahnya.”Sebentar lagi orangnya akan datang.” Tak berapa lama kemudian Habib Hadi hadir di majelis, Habib Ja’far langsung bangkit dan mengalungkan tasbih kesayangannya ke leher Habib Hadi.
Saking dekatnya antara Habib Ja’far, kalau Habib Hadi datang, selalu diajaknya ke kamar dan dikunci. Sekalipun Habib Ja’far sedang ada pengajian atau tamu, Habib Hadi selalu diajaknya ke kamar khusus. Apa yang mereka perbincangkan, tidak ada yang tahu.
Habib Hadi wafat pada usia 65 tahun dengan meninggalkan 8 orang anak (1 putra, 7 perempuan), pada Kamis, 4 Muharam 1393 H (8 Februari 1973). Jenazahnya kemudian dishalati dengan imam Habib Abdulkadir bin Husein Assegaff (Pasuruan) dan dimakamkan di komplek makam Blambangan, Lateng, Banyuwangi.


http://ahlussunahwaljamaah.wordpress.com/manakib/al-habib-hadi-bin-abdullah-al-hadar/

AL HABIB HADI BIN ‘ALWI BIN HASAN AL KAFF

Beliau lahir di Malang pada 29 Juni 1947, beliau adalah putra Habib ‘Alwi bin Hasan Al Kaff yang ke-16 dari 31 bersaudara. Ibunda beliau bernama Syarifah Futum, putri dari Habib ‘Abdurohman bin ‘Ali bin Syech Abu Bakar bin Salim. Jadi Habib Hadi Al Kaff ini masih termasuk cucu dari Habib ‘Abdurohman bin Syech Abu Bakar bin Salim, seorang ‘ulama yang terkenal sebagai ulama yang sholeh dan perintis gerakan dakwah ke desa-desa sekitar Malang. Gerakan dakwah Habib ‘Abdurohman ini dilanjutkan oleh menantu cucu beliau,Al Ustadz Habib ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus.

Habib Hadi mengenyam pendidikan Madrasah di Pondok Pesantren Darul Hadits Malang yang diasuh oleh Habib ‘Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih dari tahun 1953 - 1967. Habib Hadi Al Kaff sebenarnya punya kesempatan untuk belajar di Madinah namun, karena Pemerintah Republik Indonesia pada waktu itu melarang pelajar Indonesia untuk berangkat ke Saudi, kecuali yang mempergunakan beasiswa pemerintah. Akhirnya beliau mengaji ilmu Nahwu selama kurang lebih dua tahun (1967-1969) secara private kepada Habib ‘Abdurohman bin Muhammad Mauladawilah di rumah beliau, di samping masjid Al-Huda Malang setiap usai sholat Subuh. Kitab yang diajarkan pada waktu itu adalah Jumriyah, Syaroh Ibnu Dahlan, Kafrowy dan Kawakib.

Selain belajar pada Habib ‘Abdurohman, pada tahun itu juga Habib Hadi Al Kaff belajar secara private kepada Habib ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus. Habib Hadi Al Kaff mengaku sangat terkesan dengan metode mengajar dari Habib ‘Alwi, “Beliau adalah seorang guru yang ‘alim, luas, tawadhu’ lagi bijaksana. Pernah beliau mendengar ada yang mengatakan bahwa, Habib Hadi Al Kaff tidak punya Syeikh (guru pembimbing). Beliau spontan marah seraya berkata,’Katakan pada mereka bahwa,’saya adalah Syeikh dari Habib Hadi’. Mendengar pengakuan dari Habib ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus, Habib Hadi Al Kaff sangat gembira atas pernyataan tersebut. Habib ‘Alwi Al ‘Aydrus juga berpesan kepada Habib Hadi Al Kaff untuk lebih memantapkan hatinya, ”Kalau kamu takholluq (berpegangan dengan guru, biasanya seorang syekh) ini insya allah, kamu akan dibimbing. Meskipun seorang guru (syeikh) itu telah meninggal. Jadi seorang murid tetap punya hubungan bathin.”

Setelah gagal berangkat ke Saudi, Habib Hadi Al Kaff kemudian menyibukan diri bekerja membantu ayandanya ke Lombok (Nusa Tenggara Barat) sampai tahun 1974. Baru pada tahun 1975 beliau berangkat ke Saudi dengan diantar langsung oleh Habib Muhammad bin Ahmad Al ‘Aydrus di Madinah. Sayang, saat itu tahun ajaran baru sudah dimulai. Beliau akhirnya disuruh menunggu beberapa bulan sampai menunggu tahun ajaran baru. Habib Hadi Al Kaff akhirnya belajar bahasa Inggris di American School. Karena kesibukan kerja antara 1976-1979, akhirnya Habib Hadi Al Kaff tidak sampai berfikir lagi untuk menuntut ilmu di Madinah.

Pada tahun 1979 beliau pindah ke Khobar, di kota yang terletak belahan utara Mekkah itu beliau mengumpulkan jama’ah dari pekerja-pekerja yang dari Indonesia untuk belajar agama dan sesekali rutin membaca maulid. “Alhamdulilah, sembari bekerja juga bisa belajar sendiri dan juga mendatangi pengajian,”

Selama di Saudi, Habib Al Kaff belajar sendiri dengan bertakholluq kepada Habib ‘Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih, Habib ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus dan Habib ‘Abdurrohman bin Muhammad Mauladawilah. Sekalipun belajar sendiri, beliau juga terkadang menghadiri acara-acara keagamaan yang digelar di Saudi, seperti peringatan maulid, Khataman Bukhori, silaturahmi halal bi halal dan lain-lain.

Pada tahun 1992, Habib Hadi Al Kaff mau pulang ke Indonesia. Saat itu tanggal 27 Ramadhan ada khatam Bukhori di Masjid Nabawiy, datang para Habaib dari sekitar Saudi. Selepas shalat Ashar ada pengajian Habib Sholeh Al Muhdor. Acara ini tergolong acara yang beasr karena banyak dihadiri ulama-ulama besar seperti Syekh ‘Abdul Qodir bin Ahmad, Sayyid Muhammad bin ‘Alwi Al Maliki, Habib Zein bin Smith dan dari luar Saudi pun banyak yang hadir.

Kebetulan saat itu Habib Hadi Al Kaff datang bersama salah satu teman akrabnya yakni Habib Hasan bin ‘Abdullah Asseggaf. Habib Hasan Asseggaf sudah lama tinggal Saudi, sehingga beliau banyak mengenalkan Habib Hadi AL Kaff dengan para Habaib yang hadir selepas shalat Magrib. Salah satu diantaranya adalah berkenalan dengan Habib ‘Alwi Bilfagih (pengarang kitab-kitab sejarah dan nasab).
Saat itu ‘Habib Alwi Bilfagih saat itu juga sedang mengajar kepada murid-muridnya dan juga ada seorang tua yang sedang menulis. Habib Hasan Asseggaf kemudian mengenalkannya kepada Habib ‘Alwi Bilfagih, ”Ini Hadi Al-Kaff dari Malang.”
Kemudian Habib ‘Alwi Bilfagih menyalami Habib Hadi Al Kaff. “Kenal Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qodir Bilfagih dari Malang?” tanya Habib ‘Alwi Bilfagih kepada Habib Hadi Al Kaff.
“Itu adalah guru saya,” kata Habib Hadi AL Kaff.
“Syeikhi? (gurumu)?” tanyanya dengan penuh keterkejutan.
“Saya adalah murid dari Syeikh ‘Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih,” kata Habib Hadi kepada Habib ‘Alwi.
“Tunggu dulu,” kata Habib ‘Alwi terburu-buru kepada Habib Hadi dan Habib Hasan untuk jangan beranjak dari majelis, karena beliau akan menyelesaikan urusan dengan orang tua yang duduk tidak jauh dari mereka bertiga.
Tidak berapa lama kemudian, Habib ‘Alwi kembali lagi dan kemudian berkata kalau Habib ‘Abdul Qodir adalah saudara dekatnya. “Itu adalah saudara ayah saya, tapi saya belum jumpa,” katanya.
Kemudian Habib ‘Alwi memaksa tangan Habib Hadi, ”Mana tanganmu?”
Lalu Habib Hadi karena dipaksa kemudian memberikan tangannya untuk dicium oleh Habib ‘Alwi. Artinya, Habib ‘Alwi sangat menghormati Habib ‘Abdul Qodir sampai sedemikian rupa, sampai-sampai salah satu muridnya yang pernah pernah belajar kepada Habib ‘Abdul Qodir pun diciumnya.
Sampai di hotel, Habib Hadi bertanya pada Habib Hasan,”Tadi, orang tua yang bertubuh kurus dan duduk di majelis Habib ‘Alwi itu siapa?”
“Itu adalah Habib Zein bin Smith (Madinah),” kata Habib Hasan.
Habib Hadi tentu terkejut, karena Habib Zein bin Smith ternyata sedang belajar kepada Habib ‘Alwi Al Kaff yang baru ditemuinya.

Setelah hari kedua lebaran, para habaib mengadakan silaturahim di hotel Haromain. Setelah acara, Habib Hasan mengenalkan lagi Habib Hadi pada yang hadir, termasuk kepada Habib Zein bin Smith. “Ini Habib Hadi Al Kaff, tholib ilm’,” kata Habib Hasan.
“Di mana kamu belajar?” tanya Habib Zein bin Smith kepada Habi Hadi Al Kaff.
“Saya tidak belajar. Saya bekerja di Khobar,” jawab Habib Hadi.
Habib Hasan berkata lagi, ”Dia belajar sendiri di rumahnya.”
“Tidak boleh. Kalau belajar agama tidak bisa belajar sendiri kecuali dengan belajar kepada syeikh (untuk membimbing). Kalau kamu belajar ilmu umum, seperti bumi, sejarah, kamu bisa belajar sendiri,” kata Habib Zein.

Habib Hadi terdiam, tapi Habib Hasan berkata lagi kepada Habib Zein,”Ya Habib, ia dulu pernah belajar pada Habib ‘Abdul Qodir Bilfagih.”
“Benar?” tanya Habib Zein.
“Ya Habib,” jawab Habib Hadi.
Habib Zein kemudian tertunduk sebentar, tidak langsung jawab. Kemudian beliau berkata, ”Karena kamu sudah pernah belajar pada Habib ‘Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih. Kamu boleh belajar sendiri,” kata Habib Zein kepada Habib Hadi.

Setelah mendapat bisyaroh (isyarat kabar gembira) dari seorang ‘alim. Habib Hadi semakin yakin, kalau selama ini dengan belajar sendiri mempelajari kitab-kitab salaf yang ada di sana masih dalam koridor bimbingan dari guru-gurunya, walaupun guru-gurunya itu telah lama wafat.

Setelah menetap lama di negeri Saudi, pada tahun 1992 beliau pulang ke Indonesia. Saat itu beliau tinggal di Jl. Lontar Atas, Jakarta, sambil berdagang Habib Hadi juga berdakwah dari masjid ke masjid dan taklim di sekitar rumahnya selama kurang lebih lima tahun.

Pada tahun 1997, beliau kemudian dipanggil sang mertua, Habib ‘Ali bin ‘Umar Baharun di Bondowoso untuk mengelola majelis taklim. beliau kemudian mengajar sekitar 4 tahun, beliau meninggal. Pada tahun 2002, beliau berfikir untuk kembali ke Jakarta. Tapi saat singgah di Malang, Habib Hadi bertemu dengan Habib Muhammad bin Agil Ba’Agil pemimpin majelis taklim Al-Hidayah (Malang).
“Kebetulan kamu datang, sekarang saya serahkan majelis taklim ini kepada kamu,” kata Habib Muhammad.
“Ya, Habib. Sekarang saya di Bondowoso,” kata Habib Hadi.
“Kamu pindah ke Malang,” perintah Habib Muhammad.
Karena teman akrab, satu kelas di Darul Hadits akhirnya Habib Hadi mulai tahun 2002 mulai tinggal di Malang pengasuh Majelis Taklim Al-Hidayah. Majelis Taklim Al-Hidayah sendiri diketuai oleh Habib Agil bin Agil Ba’agil, Habib ‘Ali Haidar Al Hamid.

Habib Hadi di Kota Apel itu juga mengasuh Majelis Taklim Al-Mukhlisin tiap malam minggu ba’da Magrib (ibu-ibu) dan selepas Isya (untuk bapak-bapak). Acara berlanjut selepas Subuh. beliau juga masih mengajar tafsir Jalalain dan An-Nashoih Diniyah di Madrasah yang didirikan oleh Ustadz ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus di Bumiayu (Malang) seminggu tiga kali; Sabtu, Senin dan minggu. Selain itu beliau mengajar di masjid-masjid di sekitar Malang.

beliau sebenarnya sering diminta mengajar di Pesantren Darul Lughoh Wa’Da’wah (Bangil, Pasuruan) dan Darut Tauhid, tapi selama ini masih sangat berat. “Soalnya, waktunya pagi. Itu berat sekali, karena kalau malam sudah habis untuk berdakwah sehingga jarang tidur,” kata Habib Hadi.

Beliau juga sering diminta oleh teman-temannya untuk menterjemahkan Shohih Sifatu Sholatul Rosulullah Saw. Mina Takbir Wa Taslim Ka’annaka Tanduru ilayya (sifat sholat Rosulullah Saw. sejak takbir hingga salam seolah-olah kamu menyaksikan sendiri) karangan Habib Hasan bin ‘Ali Assegaf (Yordania). Sudah banyak orang meminta untuk menterjemahkan kitab yang sering dibawakannya. ”Insya Allah, kalau ada waktu tepat akan segera diterbitkan,” kata beliau


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=467094703310942&set=a.210709762282772.52958.210611705625911&type=1&relevant_count=1