Ia termasuk Sufi yang masyhur, tetapi pendapat-pendapatnya
sering kontroversial, sehingga banyak orang yang mengecamnya.
Dialah tokoh paling unik dalam jagat mistik Islam.
Kehidupannya banyak diliputi keistimewaan bak dongeng. Ia hidup sezaman dengan
sufi besar Al-Hallaj di abad ke-9 Mesehi atau ke-3 Hijriyah. Meskipun
pendapatnya sering kontroversial, sehingga memancing banyak kecaman, ia adalah
salah seorang tokoh yang menjadi tonggak sejarah tasawuf dalam Islam. dialah
Abu Yazid Al-Bisthami, sufi penemu istilah-istilah tasawuf yang disebut Ittihad
(bersatunya pribadi dengan Allah), Fana (leburnya pribadi dengan Allah), Baqa
(keabadian sifat-sifat Allah dalam Pribadi).
Dilahirkan dengan nama Abu Yazid Thaifur bin Isa bin
Syurusyan al-Bisthami di Desa Bustham, persia (Iran) sebelah timur laut. Di
sana pula ia wafat pada tahun 261 H / 874 M atau 264 H / 877 M. Tanggal dan
bulan kelahirannya tidak ada yang mencatat, sebab perjalanan riwayat hidupnya
memang sangat sulit dilacak. Yang ada hanyalah beberapa catatan klasik yang
terserak-serak. Diantaranya dalam kitab Tadzkirul Awliya karya Fariduddin
Aththar, dan Kasyful Mahjub karya Al-Hujwiri. Tetapi justru sedikitnya catatan
itu malah menjadikannya sebagai tokoh legendaris.
Ia adalah pioner aliran ekstatik (mabuk) dalam sufisme. Ia
dikenal karena keberaniannya dalam mengekspresikan peleburan mistik menyeluruh
kepada ketuhanan. Ia sangat sangat mempengaruhi imajinasi para sufi yang hidup
sesudah masanya.
Seperti ulama atau sufi lainnya, sejak kacil Yasid sangat
tekun mendalami ilmu agama. Dukungan moral ibunya mendorong motivasi Abu Yazid
untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Ada cerita menarik tentang masa
kanak-kanaknya, sang Ibu pernah bercerita, “Ketika ia masih dalam kandungan,
aku sering menyuap makanan yang aku ragukan halalnya. Ketika itulah Yazid yang
masih dalam kandungan memberontak sebelum aku muntahkan makanan haram itu.”
Ibunya memang seorang muslim yang shalihah.
Mengenai sang Ibu yang sangat ia hormati itu, Abu Yazid
pernah berkata ”Kewajiban yang kukira paling sepele di antara kewajiban
lainnya, ternyata merupakan kewajiban yang paling utama, yaitu berbakti kepada
Ibu. Dalam berbakti kepada Ibu itulah, kuperoleh yang segala kucari, segala
sesuatu yang bisa kupahami lewat tindakan disiplin dan pengabdian kepada
Allah.” Ayahnya juga seorang muslim yang saleh, sementara kakeknya penganut
Zoroaster (paham yang mengajarkan menyembah Dewa Api) yang belakangan memeluk
Islam.
Suatu malam, ibu memintaku untuk mengambilkan air minum, aku
bergegas mengambilkan air minum untuk beliau. Namun ta ada air di teko,
kemudiaan aku ambil kendi, tapi kendi itu juga kosong. Maka aku pergi kesungai
untuk mengisi kendi dengan air. Ketika aku kembali ke rumah, ibuku ternyata
telah tertidur kembali.”
Malam itu udara sangat dingin. Aku memegang teko dengan
tanganku. Ketika ibu terbangun, ia pun minum dan mendoakanku. Lalu ia melihat
bahwa teko itu membuat tanganku membeku karena kedinginan.
“Mengapa tidak engkau letakkan saja teko itu?” tanya ibuku.
“Aku takut kalau ibu terbangun, aku tidak di sisi ibu,”
jawabku.
“Biarkan pintu setengah terbuka,” kata ibuku kemudian.
Sepanjang malam aku terjaga untuk memastikan bahwa pintu
kamar ibuku setengah terbuka, karena aku tidak boleh mengabaikan perintahnya.
Suatu hari, di sekolah, gurunya menjelaskan makna salah satu
ayat di Sura Luqman: “Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada kedua orang tuamu”
Ayat ini sangat menggetarkan hati Abu Yazid.
“Guru,” katanya seraya meletakkan buku catatannya,
“Izinkahlah aku pulang dan mengatakan sesuatu pada ibuku.” Gurunya mengizinkan
Abu Yazid pulang untuk menemui Ibunya.
“Ada apa Thaifur,” pekik ibunya. “Mengapa engkau pulang? Apa
mereka memberimu hadiah, atau ada acara khusus?”
“Tidak,” jawab Abu Yazid. “Pelajaranku telah sampai pada
ayat dimana Allah memerintahkan aku untuk mengabdi kepada-Nya dan kepada ibu.
Aku tidak akan sanggup melaksanakan keduanya sekaligus. Ayat ini menggetarkan
hatiku. Hanya ada dua pilihan: Ibu memintaku dari Allah agar aku dapat menjadi
milik ibu sepenuhnya, atau ibu menyerahkanku kepada Allah agar aku dapat
sepebuhnya bersama-Nya.”
“Anakku, aku serahkan dirimu kepada Allah, dan membebaskanmu
dari kewajibanmu kepadaku,” kata ibunya. “Pergilah dan jadilah milik Allah.”
Abu Yazid yang tidak jemu-jemunya menuntut ilmu, tak pernah
pandang siapa gurunya, konon, ia berguru kepada sekitar 113 orang sebagian baesar guru spritual. Sebelum
mempelajari ilmu tasawuf, ia belajar fikih madzhab Hanafi. Diantara guru yang
paling utama adalah Abu Ali Sindi, yang memang banyak mempengaruhi
ajaran-ajaran tasawufnya di belakang hari.
Di antara mereka ada yang dijuluki As-Shadiq. Abi Yazid
sedang duduk ketika gurunya itu tiba-tiba berkata, “Abu Yazid, ambilkan aku
kitab dari jendela itu.”
“Jendela, jendela yang mana?” Tanya Abu Yazid. Gurunya balik
bertanya, “Selama ini engkau selalu datang ke sini, dan engkau tidak pernah
melihat jendela itu?”
“Tidak pernah,” jawab Abu Yazid. “Apa urusanku dengan
jendela? Ketika aku berada dihadapanmu, aku menutup mataku dari hal-hal lain.
Aku datang kepadamu bukan untuk melihat-lihat.”
“Kalau begitu,” kata sang guru, “Pulanglah ke Bistham,
usahamu telah sempurna.”
Gagasan Tasawwuf Kontroversial
Tetapi gagasan-gagasan tasawufnya yang kontroversial sering
membuat orang mengecamnya.
Misalnya pendapatnya mengenai keadaan “mabuk” dalam rangka
mencintai Allah – acapkali menimbulkan salah pengertian. Jangan salah paham,
yang dimaksud dengan “Mabuk” bukanlah mabuk kerena kebanyakan minum Khamer
(minuman keras), melainkan keadaan mental ketika Abu Yazid sedang mengalami
ekstasi yang ia sebut Fana alias “Lebur” (dengan Allah). Dalam keadaan seperti
itu bicaranya terkadang tidak logis, sehingga bisa menimbulkan salah paham.
Dialah pula sufi pertama yang memperkenalkan istilah tasawuf
yang disebut Fana, Baqa, Ittihad. Ajaran tasawufnya yang mengajarkan ketiga hal
tersebut belum ada dalam pendangan para sufi sebelumnya. Cara pandangnya sangat
berbeda dengan sufi lain, misalnya Junaid al-Bagdadi. Itu sebabnya banyak
kritik terhadap ajaran tasawuf Abu Yazid. Kritik keras diantaranya datang dari
sufi besar at-Taftazani, yang mengatakan bahwa Abu Yazid terlalu
berlebih-lebihan dalam menyatakan Syatahat, ekspresi yang dianggap aneh pada
saat mengalami Fana. Misalnya kalimat “Anallah” (akulah Tuhan) yang di ucapkan
berkali-kali.
Ajaran tentang Fana, Baqa, dan Ittihad, merupakan tiga aspek
dari pengalaman spritual yang terjadi setelah tingkat tertinggi yang dicapai
oleh seorang sufi, yaitu Makrifat (mengenal Allah). Yang dimaksud dengan Fana
ialah lenyapnya kesadaran tentang alam, termasuk tentang diri sendiri.
Kemanapun ia menghadap, yang ada di mata hatinya hanyalah Allah. Hanya yang
berada dalam kesadaran. Selain Allah lenyap dari kesadaran. Karena Fana itulah,
terjadilah Baqa, kesadaran tentang selain Allah Fana atau sirna, lenyap, tetapi
kesadaran tentang Allah menjadi Baqa alias abadi, terus berlangsung. Sedangkan
Ittihad ialah keadaan ketika seorang sufi tenggelam dalam lautan sifat-sifat
ketuhanan.
Meski begitu ajaran tasawufnya sangat memperhatikan syariat
dan keteladanan Rasulullah SAW. Hal itu tampak misalnya ketika ia menyampaikan
salah satu nasehatnya. “Kalau engkau lihat seseorang sanggup melakukan
pekerjaan keramat seperti duduk bersila di udara, janganlah terpedaya olehnya.
Perhatikan apakah ia melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan menjaga
batas-batas syariat.”
Dengarkan pula komentarnya ketika ia menyaksikan orang yang
meludah ke arah kiblat di masjid (yang berarti melanggar sunah Rasul), padahal
ia dikenal sebagai Zahid, yaitu orang yang lebih mementingkan kehidupan
akherat. Katanya, “Orang itu tidak menjaga satu adab dari adab-adab Rasulullah.
Kalau ia berbuat seperti itu, bagaimana dakwahnya dapat dipercaya?” Abu Yazid
memang mengutamakan akhlak, yang niscaya sangat berpengaruh terhadap kehidupan
rohaniah seseorang.
Ketika ia ditanya oleh seseorang, “Apa yang terbaik bagi
manusia dalam kehidupan ini?”
“Watak qana’ah,” jawabnya.
“Kalau itu tidak ada?”
“Tubuh yang kuat.”
“Dan kalau itupun tidak ada?”
“Telinga yang penuh perhatian.”
“Dan tanpa itu?”
“Hati yang mengetahui.”
“Dan tanpa itu?”
“Mata yang melihat.”
“Dan tanpa itu?”
“Kematian mendadak.”
Abu Yazid membutuhkan waktu 12 tahun penuh untuk tiba di
Mekkah. Itu karena di setiap tempat ibadah yang ia lalui, ia selalu
membentangkan sajadahnya untuk mendirikan shalat sunnah dua rakaat.
Akhirnya ia sampai di Ka’bah. Tapi tahun itu ia tidak pergi
ke Madinah.
“Tidaklah pantas menjadikan kunjungan ke Madinah sebagai
sekedar bagian dari kunjunganku kali ini,” ia menjelaskan. “Aku akan mengenakan
pakaian haji tersendiri, bukan yang kupakai saat ini, untuk kunjunganku ke
Madinah.”
Tahun berikutnya ia kembali mengenakan pakaian haji
tersendiri. Di suatu kota ia berpapasan dengan sekelompok besar orang yang
kemudian menjadi muridnya. Ketika ia pergi, orang-orang itu mengikutinya.
“Siapa mereka,” tanyanya sambil menengok kebelakang.
Terdengar jawaban, “Mereka ingin menemanimu.”
“Ya Allah,” pekik Abu Yazid. “Aku mohon pada-Mu, jangan
jadikan aku selubung antara para hamba-Mu dan diri-Mu.”
Lalu, dengan tujuan menghapus kecintaan orang-orang itu
padanya dan agar dirinya tidak menjadi penghalang di jalan mereka menuju Allah.
Setelah shalat subuh, Abu Yazid memandang mereka dan berkata. “Sesungguhnya aku
ini adalah Allah, tiada Tuhan selain aku, maka sembahlah aku.”
“Dia sudah gila,” pekik orang-orang itu, dan mereka pun
pergi meninggalkan Abu Yazid.
Abu Yazid meneruskan perjalanan, dan ia menemukan tendkorak
yang bertuliskan: “Tuli, Bisu, dan Buta, maka mereka tidak mengerti.”
Ia memungut tengkorak itu, sanmbil menangis ia menciuminya.
“Tampaknya ini kepala seseorang yang dibinasakan Allah,
karena ia tidak memiliki telinga untuk mendengar suara abadi, tidak memiliki
mata untuk melihat keindahan abadi, tidak memiliki lidah untuk mengagungkan
kebesaran Allah, tidak memiliki akal untuk memahami sedikit saja pengetahuan
hakekat Allah. Ayat ini berbicara tentangnya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar