Senin, 21 Oktober 2013

AL HABIB THOLIB BIN MUKHSIN AL ATTHAS ( BUMI JAYA TEGAL )

Habib Tholib bin Muhsin Alatas dikenal sebagai tokoh dengan keramat yang tersembunyi dan baru diketahui setelah wafatnya. Banyak cerita karomah tentang dirinya, tetapi anak-anaknya yang kini meneruskan dakwahnya tidak mau banyak bercerita. “Biar masyarakat saja yang menilai”, begitulah Habib Ahmad bin Tholib, anak sulung Habib Tholib bertutur.
Menurut Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan, "Keramat Habib Tholib yang kasat mata adalah yang ada pada acara haulnya. Mengapa ribuan orang datang kemari untuk men­doakannya?"
Habib Luthfi mengatakan, tidak gam­pang mengadakan acara haul yang di­hadiri ribuan orang dari berbagai kota di Jawa. Ribuan orang dari Jawa Barat, khusus­nya Bandung, serta dari Semarang hing­ga Brebes, datang untuk berdoa dalam acara haul. Mereka datang sendiri de­ngan biaya tidak sedikit, dan mengalami berbagai rintangan maupun halangan, seperti hawa gunung yang dingin, serta tanah yang menanjak, sehingga mem­buat payah badan.
“Dahulu kita mengundang 50 orang untuk tahlilan (sewaktu beliau wafat-red), yang datang hanya 40 orang saja. Lalu mengapa orang yang sudah meninggal ini dapat memanggil ribuan jama'ah ini dari mana-mana, bahkan me­nyediakan peluang rizqi bagi para pe­dagang kecil yang berjualan di sekitar tempat ini?" kata Habib Luthfi menjelas­kan kepada orang-orang yang tidak per­caya kepada keramat Habib Tholib.
Lalu siapakan Habib Tholib Alatas ini?
Menurut manaqib Habib Tholib Ala­tas yang disebutkan oleh anak-anaknya, ia lahir di Tegal pada tahun 1929. Tang­gal dan bulannya tidak terlacak, karena tidak ada catatan yang terang tentang tanggal kelahirannya. Sejak kecil ia di­didik oleh ayahnya, Habib Muhsin Ala­tas, dalam bidang keagamaan. Selanjut­nya ia belajar agama kepada beberapa kiai, seperti Kiai Akyas Cirebon dan Kiai Said Giren. Kemudian di rumah ia me­lanjutkan belajar kepada ayahnya, khu­susnya beberapa amalan habaib.
Sejak muda, Habib Tholib suka ber­dakwah, karena itulah ia pindah ke desa terpencil untuk berdakwah kepada orang-orang yang belum mengenal dak­wah, secara terus-menerus. Pada tahun 1967, ia pindah ke Bumijawa, masih di daerah Tegal, tetapi arah selatan, yang terletak di kaki Gunung Slamet.
Selain berdakwah, ia juga bertani, dan pekerjaan tani ini semakin ditekuni sejak mendapatkan istri, Hajah Ma'anik, gadis di desa setempat. Dari istrinya ini, ia mendapatkan anak, yang masih hidup hingga sekarang ada delapan orang. Mereka adalah Ahmad, Sholeh, Muham­mad, Abdul Qadir, Muhsin, Aqil, Ayu Nurul Izzah, Inten Wardah An-Nafisah.
Habib Tholib dikenal sebagai se­orang petani yang tekun dan rajin, se­hingga ia bersama kerabatnya berhasil membuat bukit menjadi tanah persawah­an yang ditumbuhi tanaman padi yang subur. Begitu juga menyalurkan aliran sungai dari gunung hingga ke rumah-rumah warga, sehingga mereka tidak lagi repot mencari air bersih di pucuk- pucuk gunung.
Bersama masyarakat sekitar, yang pertama ia dirikan adalah masjid jami', yang kemudian digunakan untuk shalat Jum'at. Kemudian membentuk Majelis Akhirat, wadah pengajian untuk warga, yang diselenggarakan setiap hari Sabtu pagi. Yang ramai adalah pada saat hari Sabtu Kliwon.
Di dalam pengajian itu, Habib Tholib mengajarkan berbagai ilmu, seperti ilmu fiqih, ilmu tauhid, ilmu Al-Qur'an, ilmu hadits, dan ilmu lainnya. Sementara anak- anaknya sendiri, yang kebanyakan le­laki, ia kirimkan ke Pesantren Darun Najah Brebes, pimpinan K.H. Aminuddin Mashudi, sekarang menjadi rais Syuriah PCNU Brebes.
Habib Tholib meninggal pada 21 September 2001 pada umur 72 tahun dan dimakamkan di depan rumahnya. Peringatan hari haulnya tidak dijatuhkan pada saat hari meninggalnya, tetapi dipilih pada 21-22 Rabi'ul Awwal. Alasan keluarga, karena bertepatan dengan peringatan Maulid, sehingga sekaligus memperingati haul dan Maulid sekaligus.

Setelah Habib Tholib meninggal, anak-anaknya yang sudah menginjak dewasa, khususnya si sulung, Habib Ahmad Alatas, mendirikan Pondok Pesantren Tholibiyah, sebagai kenangan atas dakwah ayah mereka. Pondok pesantren ini menempati tanah sekitar satu hektare, dan berdiri bangunan, pondok putra, aula, rumah tamu, rumah pengasuh pondok, kantor, makam, dan gedung-gedung sekolah.
Sekarang pondok pesantren ini menampung sekitar 400 santri, yang dididik secara campuran, yaitu siang belajar umum di madrasah maupun tsanawiyah, sedang pada sore dan malam hari bel­ajar seperti santrai salafi. "Kami beru­saha menampung keinginan masyarakat di sini. Diharapkan, para santri lulus, se­lain mendapat ilmu agama, juga menda­pat ijazah sekolah umum," ujar Habib Ahmad Alatas.
Urusan kepondokan ditangani oleh Habib Muhammad, sedang madrasah diurus oleh Habib Sholeh bersama adik- adiknya. Sementara Habib Ahmad, yang sulung, lebih banyak berdakwah ke luar daerah. Bahkan ia tinggal di Bandung dan memiliki jama'ah pengajian sendiri.
Pembagian ini sudah tertata dengan baik, sehingga tidak ada salah urus atau saling tumpang tindih. Khususnya Habib Tholib, ketika masih hidup sudah me­nunjuk Habib Muhammad untuk mengu­rusi pondok pesantren sehari-hari, mak­sudnya mengurus santri dari pemondok­an hingga keperluan-keperluan belajar mereka di madrasah maupun di pe­santren.

Dikutip oleh: Tim Sarkub

Tidak ada komentar:

Posting Komentar