Selasa, 05 November 2013

KH. Sonhaji Nawal Karim Zubaidi, pimpinan Jamaiyyah Sholawat Nariyyah Mustaghitsu Al Mughits, Udanawu, Blitar

Buah Keikhlasan Berkhidmah
Sosoknya murah senyum dan santun. Namun, di balik kesantunan serta sikapnya yang sumeh terhadap semua tamu yang sowan kepadanya dari kalangan apapun, nampak aura wibawa yang begitu besar. Usianya masih sangat muda, namun ilmu dan kharismanya begitu terasa. Tak heran jika jam’iyyah sholawat yang dipimpinnya diikuti ribuan jamaah. Itulah kesan kru MU saat bersilaturahim dengan beliau beberapa waktu silam. Dialah KH. Sonhaji Nawal Karim Zubaidi, pimpinan Jamiyyah Sholawat Nariyyah Mustaghitsu Al Mughits, Udanawu, Blitar.
Rupanya, Gus Sonhaji, begitu beliau sering disapa, sudah mengenal Media Ummat. Suatu saat, di sela-sela beliau mengajar di Pesantren Lirboyo Kediri, yang rutin dilakoninya dua kali seminggu, Gus Sonhaji membeli Tabloid Media Ummat di koperasi Pesantren Lirboyo, yang saat itu cover foto yang kami sajikan Syeikh Fadil al-Jaelani dan Gus Shonhaji.
Kulo nggeh kaget kok, lho foto kulo dimuat ngoten ingkang kalian Syeikh Fadhil, (Saya kaget, melihat foto saya dimuat di Media Ummat bersama Syekh Fadhil) itulah sepenggal percakapan ringan kyai muda yang suka berpakaian serba putih, diiringi senyuman khas dan canda ketika beliau menerima kru MU.
Besar di Lirboyo
Gus Sonhaji Nnawal Karim lahir di lingkungan pesantren tepatnya tanggal 27 Agustus 1978. Beliau adalah putra seorang ulama besar di Blitar, Almarhum KH. Zubaidi Abdul Ghofur. Sejak kecil, Gus Shonhaji dibimbing langsung oleh abah dan ibunya. Pada tahun 1999, selepas menyelesaikan Pendidikan Sekolah Dasar, putra ke 6 dari tujuh bersaudara ini langsung menuntut ilmu di Pesantren Lirboyo, Kediri.
Dipesantren yang telah melahirkan ribuan kyai besar ini, Gus Shonhaji langsung masuk Madrasah Diniyah di kelas IV Ibtidaiyah. Beliau menyelesaikan pendidikan diniyahnya sampai kelas III Aliyah. Setamat dari madrasah diniyah beliau berkhidmah, mengajar di alamamaternya itu sampai kemudian  beliau diambil mantu oleh KH. Habibullah Zaini, Kepala Madrasah Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang merupakan cucu dari Mbah Kyai Abdul Karim, salah seorang pendiri Pesantren Lirboyo.
Gus Shonhaji dinikahkan dengan putri Kyai Habibullah, Ning Hj. Lia Hikmah Al-Maula. Dari pernikahannya yang berlangsung pada tahun 2002 ini beliau  sudah dikaruniai 4 Putra, 1. Neng Senly Anjely Robb. 2. Neng Halwa Mayla Sabna Robb. 3. Agus Muhammad Zubaidi Shonhaji Nawal Karim 4. Neng Hasna Ziyanaddini Robb.
Sampai detik ini, Gus Shonhaji tetap istiqomah mengembang amanat kyai-kyainya di Lirboyo dengan  mengajar di pesantren Lirboyo seminggu dua kali, setiap malam Selasa dan malam Kamis. Beliau memegang erat nasehat para kyainya, bahwa di manapun, kapanpun serta apapun kesibukannya, tetap harus mengajar, meski hanya mengajar alif ba ta. Gus Shonhaji juga diamanati menjadi wakil ketua di Forum Musyawarah Bahtsul Masaail Jawa Madura (FMPP) yang diprakarsai para alumni Lirboyo. Beliau mengaku kurang bisa aktif karena kesibukannya mengurusi jam’iyyah sholawat serta mengajar di pesantren.
Begitu besarnya rasa tanggung jawab dan pengabdian beliau kepada kyai dan almamaternya, beliau tidak mau absen mengajar kecuali benar-benar dharurat. Menurut keterangan salah seorang santrinya, pernah saat  pulang dari menghadiri majelis dzikir di Hongkong, sesampainya di bandara Juanda, beliau langsung minta diantar ke Lirboyo untuk mengajar, karena malam itu jadwal beliau menyampaikan ilmu kepada para santri. Beliau tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah memberikan kepercayaan kepadanya, subhanallah.
Selain mengajar di Lirboyo, Gus Shonhaji juga diamanahi untuk memimpin madrasah diniyyah di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Udanawu Blitar.
Niat Berkhidmah
Sebagai seorang ulama yang tergolong masih muda, tugas dan tanggung jawab Gus Shonhaji dalam memimpin majelis dzikirnya, Jamâiyah Shalawat Nariyah al-Mustaghisul Mugisth tentu sangat besar. Awalnya, tidak terlintas dalam pikiran beliau majelis yang didirikannya empat tahun lalu ini akan sebesar ini. Majelis yang diemban, bermula hanya untuk teman-teman alumni Pondok Mambaul Hikam. Dan sebenarnya, sudah lama aurod atau wirid ini diistiqomahkan setiap malam Rabu di Pondok Pesantren Mambaul Hikam sejak zaman pendiri pondok (kakek beliau, Kyai Abdul Ghofur).
Awalnya aurod nariyah ini diamalaken Abah bersama santri-santri setiap malam Selasa. Setelah Abah wafat, amalan ini saya buka untuk masyarakat umum. Ternyata, alhamdulillah, responnya sangat bagus, kenang Gus Shonhaji
Kini, sudah empat tahun lebih perjalanan jam’iyyah sholawat yang didirikannya. Jamaahnya semakin membludak dari berbagai kota di Jawa Timur, seperti Blitar , Tulungagung, Kediri, Jombang, Nganjuk, dan banyak dari daerah lainnya yang istiqomah mengikuti majelis mulia ini.Bahkan, kini kegiatan jam’iyyahnya sampai di luar negeri seperti di Hongkong dan Macau.
Ketika ditanya, apa rahasianya, sehingga  jam’iyyah sholawat yang dibinanya diikuti begitu banyak jamaah, beliau memilih merendah. “Saya merasa saya tidak memiliki keistimewaan apa-apa. Kita hanya mengajak masyarakat membaca dzikir dan sholawat bersama-sama,” demikian pengakuan Gus Shonhaji merendah.
Namun, Gus Shonhaji akhirnya mau berbagi hikmah. Menurut beliau, mungkin saja, kegiatannya di jam’iyyah sholawat  ini berjalan baik barokah dari do’a restu sang ibu. Memang, setiap akan menghadiri kegiatan majelis dzikirnya, Gus Shonhaji selalu matur dan mohon doa restu kepada sang ibu, baik kegiatannya di tempat jauh maupun dekat. Bahkan, kalau sang ibu tidak mengizinkan, beliau tidak akan berangkat.
Berbicara seputar  rahasia Gus Shonhaji, salah seorang murid beliau yang tidak ingin disebut namanya menuturkan beberapa keistimewaan kyai yang baru berumur 34 tahun ini. Diantaranya, Gus Shonhaji tidak pernah mau menerima bisyaroh meski beliau memipin majelis dzikir di tempat yang jauh. Beliau mengikhlaskan dirinya untuk berkhidmah melalui jam’iyyah sholawat. Di samping itu, untuk mengajari ke ikhlasan kepada para jamaah, Gus Shonhaji tidak mau ada kotak amal atau serban keliling yang mengambil sedekah dari para jamaah. Khawatir, kalau para jamaah memberikan sedekahnya gara-gara orang di sebelahnya bersedekah. Untuk itu, beliau hanya mengizinkan ada kotak amal yang diletakkan di tempat tertentu saja. Sehingga jamaah mau nyemplungkan uang atau tidak tidak ada perasaan sungkan.
Gus Shonhaji juga berusaha untuk dekat dengan para jamaah, meskipun mereka orang biasa. Demi menyenangkan jamaah, Gus shonhaji minta agar panitia menyediakan area parkir yang tidak terlalu jauh dari tempat dzikir. Kasihan jamaah nanti kecapean, demikian alasan beliau.
Majelis Malam Rabu
Majlis Taklim dan Dzikir Jamiyyah Sholawat Nariyyah Mustaghitsu Al-Mughits adalah suatu organisai yang menjadikan Sholawat Nariyyah sebagai salah satu amalannya, berlandaskan ajaran Ahlussunnah waljama’ah serta ajaran ulama salafussholih. Jam’iyah ini berpusat di Dusun Mantenan Kec. Udanawu Kab. Blitar.
Jamâiyyah ini berdiri kurang lebih 4 tahun yang lalu dan diprakarsai oleh KH. Muhammad Shonhaji Nawal Karim Zubadi beliau Adalah cucu dari KH. Abdul Ghofur Pendiri Pondok Pesantren Mambaul Hikam Mantenan Udanawu Blitar. Jam’iyah yang masih berumur  belia  ini ternyata begitu pesat perkembanganya, hal ini tidak lepas dari figur seorang pemimpin yang kharismatik dan keturunan dari ulama besar. Tentu saja, ini merupakan salah satu buah keikhlasan beliau dalam berkhidmah, baik kepada Allah, Rasulullah, para kyai maupun para jamaah.
Jam’iyyah Sholawat Nariyyah Mustaghitsu Al Mughits dilaksanakan dengan berbagai macam rutinan, baik itu rutin induk, rutin pusat sughro, rutin pusat kubro, rutin cabang dan rutin iqroran (buka cabang) setiap malam rabu seperti yang tertera pada AD/ART.
Setiap rutinan buka cabang (malam rabu) sementara ini dihadiri kurang lebih 30 – 60 ribu jamaah.
Adapun rangkaian kegiatan majelis taklim dan dzikir Jam’iyyah Sholawat Nariyyah Mustaghitsu Al-Mughits yaitu pembacaan surat Yasin dan pembacaan sholawat Nariyah  dan pengajian (taklim) yang disampaikan Gus Shonhaji. Di samping itu, selama acara berlangsung disediakan fasilitas pengobatan gratis bagi para jamaah. Pengobatan gratis ini ditangani tim khusus berjumlah 30 orang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar