Rabu, 30 Oktober 2013

Al Habib Luthfi Bin Muhammad Al-Haddad

Al-habib Luthfi bin Muhammad bin Haddad bin Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Hadad bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwy bin Ahmad bin Abu Bakar Al–Thowil bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Faqih bin Abdurrohman bin Alwy bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Kholi’ Qosam bin Alwi bin Muhammad Shohib Shouma’ah bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Muhajir Ilallah Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam As-Sibth Al-Husein bin Al-Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib suami Az-Zahro Fathimah Al-Batul binti Rosulullah Muhammad SAW.

Sederhana dan teduh. Itulah kesan pertama bila kita berjumpa Habib Lutfi Al-Haddad, Walau ia masih relatif muda, orang yang berdekatan dengannya akan merasa terayomi.
Ia lahir di Probolinggo, Jawa Timur, tahun 1981, dari seorang ibu, Syarifah Qomariyah binti Husin Alaydrus, dan ayah, Muhammad bin Haddad Al-Haddad. Ia anak pertama dari lima ber¬saudara. Ia juga mempunyai saudara satu ibu yang berlainan ayah, empat orang, salah satunya Habib Ali Zainal Abidin Alaydrus, pendiri Majelis Nurul Qoma¬riyah di Cileduk, Tangerang.

Habib Lutfi Al-Haddad sangat senang bersilaturahim ke rumah-rumah anak didiknya. Di pesantren tempat ia mengajar, Pondok Pesantren Darul¬lughoh wa Da’wah (Dalwa), Bangil, Jawa Timur, ia mendidik santri-santrinya seperti mendidik adik-adiknya sendiri. Para santri pun merasa tak ada jarak dengannya, yang juga alumnus STAI Dalwa dan Ponpes Dalwa Jurusan Syari’ah.

Ghirah Keilmuan
Ketika masih menuntut ilmu di pesan¬tren, Habib Lutfi belajar sangat keras. Di pesan¬tren tempat ia belajar, para santri diwajib¬kan bisa membaca, menulis, dan berbi¬cara dengan bahasa Arab. Hanya diberi waktu selama tiga bulan, mereka harus sudah bisa menggunakan bahasa Arab.
Suatu ketika ia ditemui Abuya Hasan Baharun (alm.), pengasuh pe¬santren. Ia, yang sedang asyik mem-baca Wirdul Lathif di masjid, setelah sha¬lat Subuh, kaget ketika melihat siapa yang datang mendekatinya.
“Lutfi Amir, kamu ingin menjadi artis atau orang alim?” Habib Hasan Baharun tiba-tiba menanyakan hal yang di luar dugaan.
“Ingin menjadi orang alim, Abuya…,” jawabnya.
Habib Hasan Baharun tersenyum men¬dengar jawaban itu.
“Saya ingin menjadi santri yang ama¬nah, tidak mau melanggar aturan, agar hidup saya berkah di dunia dan akhirat.” Ia tanamkan niat untuk menjadi manusia yang beramal shalih, yang bermanfaat bagi umat.
Habib Lutfi terkejut mengapa hal itu dita¬nya¬kan oleh Habib Hasan Baharun. Ter¬nyata, setelah diselidiki, umi Lutfi Al-Had¬dad pernah bertanya langsung ke¬pada Habib Hasan Baharun mengenai seorang artis, saat itu saudaranya ada yang menjadi artis.
Ia tergolong santri yang cerdas dan pintar. Selama mondok di Darullughah, ia telah diminta untuk mengajar.

Berkhidmah selama Lima Tahun
Sudah menjadi kewajiban para san¬tri, mereka diminta mengajar minimal se¬lama satu tahun sebelum meninggalkan pesantren. Tetapi, karena kecintaannya kepada para santri dan senang meng¬ajar, Habib Lutfi mengajar hingga lima lima tahun.
Ia berkhidmah di cabang Pondok Pesantren Darullughah, setelah lulus dari Darullughah tahun 2004, di Pesan¬tren Ba’alawi, Pandean, Bangil. Ia meng¬ajar bahasa Arab, tauhid, fiqih, hadits, dan masih banyak lagi.
Dalam kesehariannya mengajar, ia begitu dekat dengan santri-santrinya. Ia bisa menempatkan dirinya sebagai orangtua, sahabat, kakak, maupun se¬ba¬gai guru. Ia menampung segala keluh kesah santrinya dan kemudian memberi¬kan solusi.
Habib Lutfi adalah guru yang sangat dicintai santri-santrinya, sampai suatu ketika, saat ia diminta dakwah ke Banjar¬masin, murid-muridnya terharu dan me¬rasa kehilangan, karena begitu dekatnya mereka dengannya.
Selama berkhidmah di Pesantren Ba’alawi, ia sama sekali tidak minta ba¬yaran. Semua dilakukannya karena ke¬cintaannya akan syiar Islam, dan cita-citanya berdakwah lillahi ta’ala.
Setelah berkhidmah selama lima ta¬hun di Pondok Pesantren Ba’alawy, Habib Lutfi Al-Haddad pernah diajak berdakwah ke Sampit, pedalaman di Kalimantan. Ia diajak oleh teman seke¬lasnya, (alm.) Ustadz Muhib Sayyidil Anwar, waktu mereka masih bersama-sama mondok di Darullughah.

Dihadapi dengan Senyum
Dari kecil Habib Lutfi Al-Haddad memang sudah mempunyai keinginan untuk ber¬dakwah. Ini tak lepas dari bimbingan dan dorongan kedua orangtuanya.
Mengajar dan menjadi murabbi telah ia jalani tak kurang dari 10 tahun sejak ia lulus dari Darullughah wad Dakwah. Memang ia sangat menikmati rutinitas yang ia jalani selama itu.
“Saya sangat senang mengajar, dan saya cinta anak-anak,” ujarnya, yang saat ini tengah menanti buah hati per¬tamanya setelah dua tahun menikah.
Namun, perjuangan dakwahnya tak selalu mulus. Tak sedikit orang yang me¬nyikapi dakwahnya dengan fitnah, caci¬an, dan makian. Tapi semua itu ia hadapi dengan senyum. Ia telah bertekad de¬ngan sepenuh hati untuk menjalankan apa yang telah ia niatkan, berdakwah. Ia tak mengharap penghargaan di mata manusia, tujuannya hanya mengharap ridha Allah.
Ia menginginkan agar ilmu yang di¬dapatnya bisa bermanfaat untuk orang banyak, dan meneruskan perjuangan Rasulullah SAW, demi menciptakan ma¬syarakat yang mengerti dan menjalan¬kan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Kini, Habib Lutfi sudah mencapai apa yang dicita-citakannya sejak kecil. Kegiatan dakwahnya dilakukan hampir setiap hari, memenuhi undangan siapa saja tanpa pilih-pilih. Mengajar, mengisi taushiyah, ke mana pun dan di mana pun. Ia juga mengisi undangan salah satu televisi swasta untuk mengisi tau-shiyah subuh, hampir setiap hari.
Di tengah kepadatan jadwal sehari-harinya, ia masih menyempatkan diri untuk mendatangi dan menerima jama’ahnya, bahkan secara individual.

Majelis Nurul Qomariyah
Kini, setelah hijrah ke Tangerang, tepatnya di Cileduk, Habib Lutfi berdak¬wah membantu kakaknya, Habib Ali Zainal Abidin Alaydrus, yang telah men¬dirikan Majelis Nurul Qomariyah, pada bulan Maret 2010. Ia telah mendapat ridha dari Habib Zein bin Hasan Baharun ketika menyampaikan keinginannya untuk membantu sang kakak di Majelis Nurul Qomariyah.
Semua santri dan murid serta ja¬ma’ah¬nya di Jawa Timur, tempat asal¬nya, bersedih ketika Habib Lutfi Al-Haddad berpamitan untuk membantu majelis kakaknya di Cileduk, Tangerang. Mereka sangat kehilangan sosok Habib muda yang rendah hati dan tak mem¬batasi diri dalam setiap pergaulannya.
Di Majelis Nurul Qomariyah, ia meng¬ajarkan kepada santri-santrinya semua ilmu yang telah didapatnya ketika belajar di Darullughah.
Kini, Majelis Nurul Qomariyah makin berkembang. Undangan untuk dakwah bersama sang kakak hampir setiap minggu datang. Undangan untuk mengajar dan mengisi taushiyah hampir setiap hari.
Habib Lutfi Al-Haddad semakin bersemangat menjalani hari-harinya, karena ia merasa dibutuhkan umat. Dan nyatanya umat memang sangat membutuhkannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar