Kamis, 10 Oktober 2013

Abu Nawas dan Harimau Berjenggot

“Hai Abu Nawas,” seru Khalifah Harun Al-Rasyid. “Sekarang juga kamu harus dapat mempersembahkan kepadaku seekor harimau berjenggot, jika gagal, aku bunuh kau.”

Kata-kata itu merupakan perintah Sultan yang diucapkan dengan penuh tegas dan kegeraman. Dari bentuk mulutnya ketika mengucapkan kalimat itu jelas betapa Sultan menaruh dendam kesumat kepada Abu Nawas yang telah berkali-kali mempermainkan dirinya dengan cara-cara yang sangat kurang ajar. Perintah itu merupakan cara Baginda untuk dapat membunuh Abu Nawas.

“Ya tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas. “semua perintah paduka akan hamba laksanakan, namun untuk yang satu ini hamba mohon waktu delapan hari.”

“Baik,” kata Baginda.

Alkisah, pulanglah Abu Nawas ke rumah. Agaknya ia sudah menangkap gelagat bahwa Raja sangat marah kepadanya, dicarinya akal supaya dapat mencelakakan  diriku, agar terbalas dendamnya,” pikir Abu Nawas. “jadi aku juga harus berhati-hati.”

Sesampainya di rumah dipanggilnya emapt orang tukang kayu dan disuruhnya membuat kandang macan. Hanya dalam waktu tiga hari kandang itu pun siap sudah. Kepada istrinya ia berpesan agar menjamu orang yang berjenggot yang datang kerumah. “Apabila adinda dengar kakanda mengetuk pintu kelak, suruh dia masuk kedalam kandang itu,” kata Abu Nawas sambil menunjuk kandang tersebut. Ia kemudian bergegas pergi ke Musalla dengan membawa sajadah.

“Baik,” kata istrinya.

“Hai Abu Nawas, tumben Lu shalat di sini?” bertanya Imam dan penghulu mushalla itu.

Sebenarnya saya mau menceritakan hal ini kepada orang lain, tapi kalau tidak kepada tuan penghulu kepada siapa lagi saya mengadu,” jawab Abu Nawas. “Tadi malam saya ribut dengan istri saya, itu sebabnya saya tidak mau pulang ke rumah.”

“Pucuk dicinta, ulam tiba,” pikir penghulu itu. “Kubiarkan Abu Nawas tidur disini dan aku pergi kerumah Abu Nawas menemui istrinya, sudah lama aku menaruh hati kepada perempuan cantik itu.”

“Hai Abu Nawas,” kata si penghulu, “Bolehkah aku menyelesaikan perselisihan  dengan istrimu itu?”

“Silakan,” jawab Abu Nawas. “Hamba sangat berterima kasih atas kebaikan hati tuan.”

Maka pergilah penghulu ke rumah Abu Nawas dengan hati berbungan-bunga, dan dengan wajah berseri-seri diketuknya pintu rumah Abu Nawas. Begitu pintu terbuka ia langsung mengamit istri Abu Nawas dan diajak duduk bersanding.

“Hai Adinda,,,” katanya. “Apa gunanya punya suami jahat dan melarat, lagi pula Abu Nawas hidupnya tak karuan, lebih baik kamu jadi istriku, kamu dapat hidup senang dan tidak kekurangan suatu apa.”

“Baiklah kalau keinginan tuan demikian,” jawab istri Abu awas.

Tak berapa lama kemudian terdengar pintu diketuk orng, ketukan itu membuat penghulu belingsatan, “kemana aku harus bersembunyi ia bertanya kepada nyonya rumah.

“Tuan penghulu….”  Jawab istri Abu Nawas, “Silahkan bersembunyi di dalam kandang itu,” ia lalu menunjuk kandang yang terletak di dalam kamar Abu Nawas.

Tanpa pikir panjang lagi penghulu itu masuk ke dalam kandang itu dan menutupnya dari dalam, sedangkan istri Abu Nawas segera membuka pintu, sambil menengok ke kiri-kanan, Abu Nawas masuk ke dalam rumah.

“Hai Adinda, apa yang ada di dalam kandang itu.?” Tanya Abu Nawas.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Istrinya. “Apa putih-putih itu?” tanya Abu Nawas, lalu dilihatnya penghulu itu gemetar karena malu dan ketakutan.

Setelah delapan hari Abu Nawas memanggil delapan kuli untuk memikul kandang itu ke Istana. Di Bagdad orang  gempar ingin melihat Harimau berjenggot. Seumur hidup, jangankan melihat,  mendengar harimau berjenggot pun belum pernah. Kini Abu Nawas malah dapat seekor. Mereka terheran-heran akan kehebatan Abu Nawas. Tetapi begitu dilihat penghulu di dalam kandang, mereka tidak bisa bilang apa-apa selain mengiringi kandang itu sampai ke Istana hingga menjadi arak-arakan yang panjang. Si penghulu malu bukan main, arang di muka kemana hendak disembunyikan. Tidak lama kemudia sampailah iring-iringan itu ke dalam Istana.

“Hai Abu Nawas, apa kabar?” tanya Baginda Sultan, “Apa kamu sudah berhasil mendapatkan harimau berjenggot?”

“Dengan berkat dan doa tuanku, Alhamdulillah hamba berhasil,” jawab Abu Nawas.

Maka dibawalah kandang itu ke hadapan Baginda, ketika Baginda hendak melihat harimau tersebut, si penghulu memalingkan mukanya ke arah lain dengan muka merah padam karena malu, akan tetapi kemanapun ia menoleh, kesitu pula Baginda memelototkan matanya. Tiba-tiba Baginda menggeleng-gelengkan kepala dengan takjub, sebab menurut penglihatan beliau yang ada di dalam kandang itu adalah penghulu Musalla. Abu Nawas buru-buru menimpali, “Ya tuanku, itulah Harimau berjenggot.”

Tapi baginda tidak cepat tanggap, beliau termenung sesaat, kenapa penghulu dikatakan harimau berjenggot, tiba-tiba baginda bergoyang kekiri dan ke kanan seperti orang berdoa. “Hm, hm, hm oh penghulu…”

“Ya Tuanku Syah Alam,” kata Abu Nawas, “Perlukah hamba memberitahukan kenapa hamba dapat menangkap harimau berjenggot ini di rumah hamba sendiri ?”

“Ya, ya,” ujar Baginda sambil menoleh ke kandang itu dengan mata berapi-api. “ya aku maklum sudah.”

Bukan main murka baginda kepada penghulu itu, sebab ia yang semestinya menegakkan hukum, ia pula yang melanggarnya, ia telah berkhianat. Baginda segera memerintahkan punggawa mengeluarkan penghulu dari kandang dan diarak keliling pasar setelah sebelumnya di cukur segi empat, agar diketahui oleh seluruh rakyat betapa aibnya orang yang berkhianat.

http://www.sufiz.com/kisah-abu-nawas/abu-nawas-dan-harimau-berjenggot.html



13 Tips Mujarab Penawar Racun Kemaksiatan

1. Anggaplahh besar dosamu
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata, ”Orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa) dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya.”
2. Janganlah meremehkan dosa
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Janganlah kamu meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah. Lalu seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa menganggap remeh suatu dosa, maka itu akan membinasakannya.” (HR. Ahmad dengan sanad yang hasan)
3. Janganlah mujaharah (menceritakan dosa)
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Semua umatku dimaafkan kecuali mujahirun (orang yang berterus terang). Termasuk mujaharah ialah seseorang yang melakukan suatu amal (keburukan) pada malam hari kemudian pada pagi harinya ia membeberkannya, padahal Allah telah menutupinya, ia berkata, ‘Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan demikian dan demikian’. Pada malam hari Tuhannya telah menutupi kesalahannya tetapi pada pagi harinya ia membuka tabir Allah yang menutupinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Taubat nasuha yang tulus
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya tatkala bertaubat daripada seorang di antara kamu yang berada di atas kendaraannya di padang pasir yang tandus. Kemudian kendaraan itu hilang darinya, padahal di atas kendaraan itu terdapat makanan dan minumannya. Ia sedih kehilangan hal itu, lalu ia menuju pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keaadaan bersedih terhadap kendaraannya. Saat ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba kendaraannya muncul di dekatnya, lalu ia mengambil tali kendalinya. Kemudian ia berkata, karena sangat bergembira, ‘Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu’. Ia salah ucap karena sangat bergembira”. (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Jika dosa berulang, maka ulangilah bertaubat
Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata, ”Sebaik-baik kalian adalah setiap orang yang diuji (dengan dosa) lagi bertaubat.” ditanyakan, ‘Jika ia mengulangi lagi?’ Ia menjawab, ‘Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat.’ Ditanyakan, ‘Jika ia kembali berbuat dosa?’ Ia menjawab, ‘Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat.’ Ditanyakan, ‘Sampai kapan?’ Dia menjawab, ‘Sampai setan berputus asa.”
6. Jauhi faktor-faktor penyebab kemaksiatan
Orang yang bertaubat harus menjauhi situasi dan kondisi yang biasa ia temui pada saat melakukan kemaksiatan serta menjauh darinya secara keseluruhan dan sibuk dengan selainnya.
7. Senantiasa beristighfar
Saat-saat beristighfar:
a. Ketika melakukan dosa
b. Setelah melakukan ketaatan
c. Dalam dzikir-dzikir rutin harian
d. Senantiasa beristighfar setiap saat
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam beristighfar kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali (dalam hadits lain 100 kali).
8. Apakah anda berjanji kepada Allah untuk meninggalkan kemaksiatan.
Tidak ada bedanya antara orang yang berjanji kepada Allah (berupa nadzar atas tebusan dosa yang dilakukannya) dengan orang yang tidak melakukannya. Karena yang menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam kemksiatan tidak lain hanyalah karena panggilan syahwat (hawa nafsu) lebih mendominasi dirinya daripada panggilan iman. Janji tersebut tidak dapat melakukan apa-apa dan tidak berguna.
9. Melakukan kebajikan setelah keburukan
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebajikan maka kebajikan itu akan menghapus keburukan tersebut, serta perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih)
10. Merealisasikan tauhid
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Barangsiapa yang melakukan kebajikan, maka ia mendapatkan pahala sepuluh kebajikan dan Aku tambah dan barangsiapa yang melakukan keburukan keburukan, maka balasannya satu keburukan yang sama, atau diampuni dosanya. Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta dan barangsiapa yang mendekat kepada-ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa; barangsiapa yang datang kepada-ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari. Barangsiapa yang menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku menemuinya dengan maghfirah yang sama.” (HR. Muslim dan Ahmad)
11. Jangan berpisah dengan orang-orang yang baik
a. Persahabatan dengan orang-orang baik adalah amal shalih
b. Mencintai orang-orang shalih menyebabkan sesorang bersama mereka, walaupun ia tidak mencapai kedudukan mereka dalam amal
c. Manusia itu ada 3 golongan:
i. Golongan yang membawa dirinya dengan kendali takwa dan mencegahnya dari kemaksiatan. Inilah golongan terbaik.
ii. Golongan yang melakukan kemaksiatan dalam keadaan takut dan menyesal. Ia merasa dirinya berada dalam bahaya yang besar, dan ia berharapa suatu hari dapat berpisah dari kemaksiatan tersebut.
iii. Golongan yang mencari kemaksiatan, bergembira dengannya dan menyesal karena kehilangan hal itu.
d. Penyesalan dan penderitaan karena melakukan kemaksiatan hanya dapat dipetik dari persahabatan yang baik
e. Tidak ada alasan untuk berpisah dengan orang-orang yang baik
12. Jangan tinggalkan da’wah
Said bin Jubair berkata, ”Sekiranya seseorang tidak boleh menyuruh kebajikan dan mencegah dari kemungkaran sehingga tidak ada dalam dirinya sesuatu (kesalahanpun), maka tidak ada seorangpun yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran.” Imam malik berkomentar, ”Ia benar. Siapakah yang pada dirinya tidak ada sesuatupun (kesalahan).”
13. Jangan cela orang lain karena perbuatan dosanya
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam menceritakan kepada para shahabat bahwasanya seseorang berkata, ”Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Allah swt berkata, ”Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapus amalmu.” (HR. Muslim).
Disadur secara ringkas dari buku 13 Penawar Racun kemaksiatan terjemahan dari kitab Sabiilun najah min syu’mil ma’shiyyah) karangan Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy



ZIKRUL MAUT

Hal yang paling menyakitkan bagi kebanyakan orang adalah kematian. Bila diceritakan tentang kematian seolah-olah berakhirlah segalanya. Musnah sudah semua yang sudah dirintis dan diusahakannya. Berakhir sudah episode kehidupannya. Berhenti kisah hidupnya. Tak ada lagi yang dapat dilakukan, hanya tinggal mengenang dirinya.
Bagi seorang muslim kematian merupakan bagian dari episode kehidupan yang masih ada kelanjutannya. Tidak berhenti di pintu gerbang kematian saja. Kehidupan di dunia adalah ladang bagi kehidupan selanjutnya, di mana kehidupan tersebut adalah kekal abadi. Oleh karena itu bagi seorang muslim, kematian adalah pintu gerbang yang mengarahkan seseorang menuju keadaan dimana ia akan mendapat balasan atas segala perbuatannya. balasan itu berujung pada dua cabang, yaitu kebahagiaan yang abadi atau kesengsaraan yang tak berkesudahan.
Setiap muslim diajarkan bahwa ada kehidupan setelah kematian. Dengan demikian setiap muslim diperintahkan untuk mempersiapkan diri mencari bekal sebanyak-banyaknya agar mudah dihisab nanti. Rasulullah SAW bersabda : “Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan diri dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)
Dzikrul maut pada dasarnya melatih jiwa untuk terus mengenal dan merasa diawasi oleh Allah SWT. Peristiwa kematian baginya bukan sesuatu yang menakutkan, bukan juga merupakan keberakhiran hidup seseorang tanpa mendapat balasan. Baginya peristiwa kematian merupakan pertemuan hamba dengan penciptanya. Agar ia dapat bertemu dengan penciptanya dalam kebahagiaan maka ia perlu menyiapkan sebaik-baiknya bekal. Dengan persiapan inilah diharapkan kelak bila saatnya tiba ia akan menghadap Rabbnya dengan keridhaan dari Rabbnya sehingga bahagia di sisi Allah selamanya.
Keutamaan Dzikrul Maut
1. Dzikrul maut menghindarkan diri dari permainan dunia dan menggiatkan persiapan untuk pulang ke akhirat.
Dalil Hadits : “Hadiah orang mu’min adalah kematian” (HR. Abu Dunya, Thabrani dan Al Hakim secara mursal dengan sanad hasan)
2. Dzikrul maut membongkar berbagai keburukan dunia sehingga menyadarkan manusia bahwa dunia hanyalah perhiasan yang semu tak akan kekal abadi.
Dalil Hadits : “Tinggal di dunia ibarat musafir yang sedang istirahat sejenak di bawah pohon untuk kemudian pergi melanjutkan perjalanan.”
3. Dengan dzikrul maut segala kesusahan dan penderitaan dunia menjadi ringan baginya.
4. Dzikrul maut melembutkan hati dan menajamkan bashiroh. Dengan dzikrul maut setiap insan akan merasa perlu untuk memperbaiki dirinya dan terus mengupayakan amal sholeh sebanyak-banyaknya sehingga ia akan berhati-hati dan lebih menghargai orang lain karena baginya tidak ada yang abadi di dunia ini dan setiap orang berpotensi lebih baik dari dirinya, jadi ia tidak tertipu dengan kesenangan dan kebahagiaan semu.
Cara Menghidupkan Dzikrul Maut
Maut adalah janji Allah SWT yang pasti, sedangkan kehadirannya dapat kapan saja. Oleh karena itu kita sebaiknya selalu mengingatkan diri pada kemungkinan bahwa setiap saat maut dapat merenggut kita sewaktu-waktu.
Untuk menghadapi maut yang akan datang kapan saja, sebaiknya setiap kita menyiapkan diri. Sebagai contoh, perbedaan orang yang bersegera menyiapkan diri dan orang yang menunda-nunda adalah ibarat menunggu tamu yang akan berkunjung sehari lagi dengan menunggu tamu yang sepekan lagi akan berkunjung. Persiapan kita tentu akan berbeda. Bila kita mengetahui tamu yang akan datang sehari lagi, kita akan merapikan kondisi rumah dengan segera, untuk menyambut tamu tersebut, sedangkan bila tamu akan datang sepekan lagi, kita tidak terburu-buru untuk merapikan rumah tersebut karena kita berpikir masih memiliki waktu yang luang untuk menyiapkannya.
Rasulullah SAW bersabda : “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: Masa mudamu sebelum masa tuamu; Masa sehatmu sebelum masa sakitmu; Masa kayamu sebelum masa kemiskinanmu; Masa luangmu sebelum masa sibukmu; Masa hidupmu sebelum masa kematianmu.” (HR. Abu Dunya dengan sanad hasan)
Dan dalam riwayat yang lain : “Dua nikmat yang disia-siakan oleh banyak orang ialah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

http://almahabbah89.wordpress.com/2011/04/27/zikrul-maut/

Wasiat Nasehat Umur

Oleh Habib Ahmad
“Siapa yang menginginkan khusnul khotimah dipenghujung umurnya, hendaknya ia berprasangka baik kepada manusia.” ( Imam Syafi’i )
”Renungkanlah pendeknya umurmu. Andaikata engkau berumur seratus tahun sekalipun, maka umurmu itu  pendek jika dibandingkan dengan masa hidupmu kelak di akhirat yang abadi,
selama-lamanya. Coba renungkan, agar dapat beristirahat ( pensiun )selama dua puluh tahun, dalam satu bulan atau setahun engkau sanggup menanggung
berbagai beban berat dan kehinaan di dalam mencari dunia. Tetapi mengapa engkau tidak sanggup menanggung beban ibadah selama beberapa hari demi mengharapkan kebahagiaan abadi di Akhirat nanti? Jangan panjang angan-angan, engkau nanti akan berat untuk beramal. Yakinilah bahwa tak lama lagi engkau akan mati. Katakan dalam hatimu : ‘Pagi ini aku akan beribadah meskipun berat, siapa tahu nanti malam aku mati. Malam ini aku akan sabar untuk beribadah, siapa tahu besok aku mati’. Sebab, kematian tidak datang pada waktu, keadaan dan tahun tertentu. Yang jelas ia pasti datang. Oleh karena itu, mempersiapkan diri menyambut kedatangan maut lebih utama daripada menpersiapkan diri menyambut dunia. Bukankah kau menyadari betapa pendek waktu hidupmu di dunia ini? Bukankah bisa jadi ajalmu hanya tersisa satu tarikan dan hembusan napas atau satu hari? Setiap hari lakukanlah hal ini dan paksakan dirimu untuk sabar beribadah kepada Allah swt. Andaikata engkau ditakdirkan untuk hidup selama lima puluh tahun dan kau biasakan dirimu untuk sabar beribadah, nafsumu tetap akan berontak, tetapi ketika maut menjemput kau akan berbahagia selama-lamanya. Tetapi, ketika engkau tunda-tunda dirimu untuk beramal, dan kematian datang di waktu yang tidak kau perkirakan ( Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )
“ Jika engkau telah berusia empat puluh tahun, maka segeralah untuk memperbanyak amal shaleh siang maupun malam. Sebab, waktu pertemuanmu dengan Allah ‘ Azza wa Jalla semakin dekat. Ibadah yang kau kerjakan saat ini tidak mampu menyamai ibadah seorang pemuda yang tidak menyia-nyiakan masa
mudanya. Bukankah selama ini kau sia-siakan masa muda dan kekuatanmu. Andaikata saat ini kau ingin beramal sekuat-kuatnya, tenagamu sudah tidak mendukung lagi. Oleh karena itu beramallah sesuai kekuatanmu. Perbaikilah masa lalumu dengan banyak berdzikir, sebab tidak ada amal yang lebih mudah dari dzikir. Dzikir dapat kamu lakukan ketika berdiri, duduk, berbaring maupun sakit. Dzikir adalah ibadah yang paling mudah. Rasulullah saw bersabda : Dan hendaklah lisanmu basah dengan berdzikir kepada Allah swt. Bacalah secara berkesinambungan doa ’ dan dzikir apapa pun yang mudah bagimu. Pada hakikatnya engkau dapat berdzikir kepada Allah swt adalah karena kebaikanNya. Ia akan mengaruniamu ….. ( Ibnu ‘Atha illah Askandari )
“ Ketahuilah, sebuah umur yang awalnya disia-siakan, seyogyanya sisanya di manfaatkan. Jika seorang ibu memiliki sepuluh anak dan sembilan diantaranya
meninggal dunia. Tentu ia akan lebih mencintai satu-satunya anak yang masih hidup itu.
Kamu telah menyia-nyiakan sebagian besar umurmu, oleh karena itu jagalah sisa umurmu yang sangat sedikit itu. Demi Allah,
sesungguhnya umurmu bukanlah umur yang dihitung sejak engkau lahir, tetapi umurmu adalah umur yang dihitung sejak hari pertama engkau mengenal Allah swt.( Ibnu ‘Atha illah Askandari )
“ seseorang yang telah mendekati ajalnya ( berusia lanjut ) dan ingin memperbaiki segala kekurangannya di masa lalu, hendaknya dia banyak membaca dzikir yang ringkas tetapi berpahala besar. Dzikir semacam itu akan membuat sisa umur yang pendek menjadi panjang, seperti dzikir yang berbunyi : ‘Maha suci Allah yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya, ( kalimat ini kuucapkan ) sebanyak jumlah ciptaan-Nya, sesuai dengan yang ia sukai, seberat timbangan Arsy-Nya dan setara dengan jumlah kata-kata-Nya’.
Jika sebelumnya kau sedikit melakukan shalat dan puasa sunah, maka perbaikilah kekuranganmu dengan banyak bershalawat kepada Rasulullah saw. Andaikata sepanjang hidupmu engkau melakukan segala jenis ketaatan dan kemudian Allah swt bershalawat kepadamu sekali saja, maka satu shalawat Allah ini akan mengalahkan semua amalmu itu. Sebab, engkau bershalawat kepada Rasulullah sesuai dengan kekuatanmu, sedangkan Allah swt bershalawat kepadamu sesuai dengan kebesaran-Nya. Ini jika Allah swt bershalawat kepadamu sekali, lalu bagaimana jika Allah swt membalas setiap shalawatmu dengan sepuluh shalawat sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah Hadits Shahih? Betapa indah hidup ini jika kau isi dengan ketaatan kepada Allah swt, dengan berdzikir kepada-Nya dan bershalawat kepada Rasulullah saw. ”( Ibnu ‘Athaillah Askandari )

http://arroudloh.wordpress.com/2010/07/07/wasiat-nasehat-umur/#more-441

WALI’’ ALLAH SWT MENURUT SYEIKH IBNUL ARABIY

Syekh Muhyiddin Ibnul Arabi memberikan penjelasan tentang tingkatan dan pembagian para wali seperti yang di terangkan dalam kitab nya FUTUHATUL MAKKIYAH pada bab ke 73 yang di ringkas oleh Syeikh Al Manawi dalam muqaddimah Thabaqat Sughrah nya sebagai berikut :
                  PEMBAGIAN WALI-WALI ALLAH SWT

1 Al’ Aqtab
Al’ Aqtab berasal dari kata tunggal Al’ Quthub yang mempunyai arti penghulu , disini dapat kita simpulkan bahwa Al’Aqtab adalah derajat kewalian yang tertinggi , jumlah wali yang mempunyai derajat tersebut hanya terbatas seorang saja untuk setiap masa nya

2 Al’ Aimmah
Al’ Aimmah berasal dari kata tunggal Imam yang mempunyai arti pemimpin , setiap masa nya hanya ada dua orang saja yang dapat mencapai derajat tersebut, ciri’’ atau keistimewaan mereka adalah : ada di antara mereka yang pandangan nya hanya tertumpu ke alam malakut saja , ada pula pandangan nya hanya tertumpu di alam malaikat saja

3 Al’ Autad
Berasal dari kata tunggal Al’ Watad yg mempunyai arti pasak , yg memperoleh derajat ini hanya empat orng saja di setiap masa nya , mereka tinggal di wilayah utara , selatan , timur dan barat , mereka bagaikan penjaga di setiap pelosok bumi

4 Al’ Abdal
Berasal dari kata Badal artinya menggantikan , yg memperoleh derajat ini hanya ada tujuh orang dalam setiap masa nya , tugas nya menjaga suatu wilayah di bumi ini, ciri’’ wali abdal mendapatkan derajat itu dengan 4 kebiasaan yaitu , sering lapar , gemar beribadah di malam hari , suka diam , mengasingkan diri

5 An’ Nuqaba
Berasal dari kata Naqib yg mempunyai arti ketua suatu kaum , jumlah mereka ada 12 orng di setiap masanya , dan wali tingkatan ini di beri karomah mengerti sedalam’’nya hukum syariat, pengetahuan tentang rahasia yg tersembunyi di hati manusia , mereka mampu mnebak prilaku , nasib seseorang melalui jejak kaki yg menempel di tanah

6 Al’ Hawariyyun
Berasal dari kata hawariy yg mempunyai arti penolong , jumlah wali ini ada 1 orng saja pada setiap masa nya , klo di zaman Baginda Rasul SAW ada seorang Wali Al ‘ Hawariyyun yaitu Zubair Ibnu Awwam , kelebihan wali ini biasa nya seorang yg berani dan pandai berhujjah

7 Ar’ Rajabiyun
Berasal dari kata Rajab , dan wali ini ada nya hanya pada bulan rajab saja , mulai awal rajab sampai akhir bulan rajab , jumlah mereka ada 40 orng di setiap masa nya , karomah wali ini adalah : dapat mlihat hati manusia yg bener’’sebagai ahlus sunnah wal jama’ah atau Cuma mngaku’’ ,
Ciri wali ini adalah , pada awal bulan rajab maka mereka menderita sakit sehingga mereka tidak bisa menggerakkan tubuh mereka , tpi selama itu mereka di beri kasyaf dan penderitaan itu berakhir bila akhir bulan rajab

8 An’ Nujaba
Artinya Najib atau bangsa yg mulia , mereka pada umumnyadi sukai oleh orang bnyak di manapun mereka pasti mendpatkan sambutan yg meriah , kebanyakan wali ini tidak merasakan diri mereka adalah wali, hanya seorang wali yg lebih tinggi derajatnya yg mengetahui bahwa mereka itu wali An Nujaba , dan jumlah wali ini sebanyak 8 orng setiap masa nya

9  Al’ Khatamiyun
Berasal dari kata Khatam artinya penutup dari para wali di akhir masa , jumlah mereka Cuma 1 orng saja

10 Rijalul Ghaib
Atau manusia’’ misteri , jumlah wali ini hanya 10 orng di setiap masa nya , mereka orng ‘’ yg selalu khusyu , tdak berbicara kecuali perlahan atau berbisik, rendah hati , malu , tdak bnyak mementingkan dunia ,selalu mnegakkan hukum’’ Allah SWT

11 Rijalul Quwwatul Ilahiyah
Artinya orng’’yg di beri kekuatan oleh Allah SWT , jumlah mereka 8 orng di setiap masa nya , ciri’’ mereka : sangat tegas terhadap orng kafir atau orng yg memperkecilkan agama , suka berbuat kebajikan

12 Rijalul Hannani Wal Athfil Ilahi
Artinya mereka di beri kasih sayang oleh Allah SWT dan jumlah mereka hnya 15 orng di setiap masa nya , ciri’’ mereka yaitu bersikap kasih sayang terhadap manusia baik orng kafir maupun orng mu’min , karena hati mereka di penuhi rasa insaniyah yg penuh rahmat

13 Rijalul Haibah Wa Jalali
Jumlah mereka 4 orng di setiap masa nya , mereka di kenal sbgai orng’’ yg hebat dan mengagumkan tapi orng menemui mereka tunduk , mereka tidak di kenal di bumi tapi terkenal nya di langit , dan hati mereka itu seperti hati Baginda Rasul SAW , Nabi Syuaib As , Nabi Shaleh As, Nabi Hud As

14 Rijalul Fathi
Artinya rahasia’’ Allah SWT , selalu terbuka bagi mereka , jumlah mereka 24 orng di setiap masa nya ,

15 Rijalul Ma’arij Al’ula
Jumlah mereka Cuma 7 orng di setiap masa nya dan mereka ini hampir setiap saat naik ke alam malakut

16 Rijalu Tahtil Asfal
Yaitu mereka yg berada di alam terbawah bumi , jumlah mereka 21 orng di setiap masa nya , ciri khas wali ini yaitu hati mereka selalu hadir di hadapan Allah SWT

17 Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kaun
Yaitu mereka yg selalu mendpat karunia ilahi , jmlah mreka 3 orng di setiap masa dan ciri’’ mereka yaitu selalu menolong manusia , lemah lembut , penyanyang

18 Ilahiyun Rahmaniyun
Yaitu manusia’’yg di beri kasih sayang yang luar biasa , suka mengkaji firman’’ Allah SWT , jumlah mereka 3 orng di setiap masa nya dan sifat mereka mirip wali Abdal

19 Rijalul Istithaalah
Yaitu manusia yg selalu mendapat pertolongan Allah , jumlah mereka hnya 1 orng pd setiap masa nya dan orng yg termasuk golongan wali ini adalah Al Quthub Shulthan Auliya Syekh Abdul Qadir al Jailani

20  Rijalul Ghina Billah
Yaitu orng’’ yg tdk memerlukan kpda manusia sedikit pun , jumlah mereka 2 orng pd setiap masa nya , mereka selalu mendapat siraman rohani di alam malakut

21 Rijalu ‘Ainut Tahkim Waz Zawaid
Jumlah mereka 10 orng pada setiap masa nya , mereka senantiasa meningkatkan keyakinan nya terhadap masalah’’ ghaib dan hidup mereka terlihat aktif di semua aktivitas ibadah

22 Rijalul Isytiqaq
Yaitu mereka yg selalu rindu kepada Allah SWT , jumlah mereka 5 orng pada setiap masa nya kegemeran mereka hnya memperbnyak shalat siang hari dan malam hari

23 Al’ Mulamatiyah

24 Al’ Fuqara
Ciri khas mereka selalu merendahkan diri

25 As Shufiyyah
Jumlah mereka tidak terbatas , adakala nya bnyak dan sedikit , mereka di kenal wali yg amat luhur budi , selalu menghias diri mereka dgn kebajikan yg sesuai ketinggian budi pekerti mereka

26 Al’ Ibaad
Mereka di kenal suka beribadah , suka mngasingkan diri di gunung’’ , lembah’’ , dan pantai , puasa sepanjang masa , beribadah di malam hari dan wali ini yg terkenal adalah Abu Muslim Al Khaulani

27 Az Zuhad
Mereka suka meninggalkan kesenangan dunia , bila mempunyai harta semua nya mereka nafkahkan , dan orng yg termasuk wali ini adalah Syeikh Abdullah At’ Tunisi

28 Rijalul Maa’i
Para wali yg senantiasa beribadah di pinggir laut dan sungai

29 Al’ Afrad
Mereka termasuk wali yg berkedudukan tinggi di antara wali ini adalah Syekh Muhammad Al’ Awani , jrng di kenal manusia dan jumlah mereka bisa bnyak dan sedikit

30  Al ‘ Umana
Artinya org’ yg dpat di beri kepercayaan di antara wali ini yaitu Abu Ubaidillah Ibnu Jarrah , jumlah wali ini tdak terbatas , mereka jarang di kenal manusia karena mereka tdak menonjol di tengah masyarakat

31 Al’ Qurra
Mereka ahli membaca Al’Qur”an dan wali ini adalah Syekh Sahal Bin Abdullah At Tusturi

32 Al’ Ahbab
Yaitu orng’ yg di kasihi , jumlah mereka tdak terbatas adakalanya bnyak dan sedikit , mereka yg mencapai tingkatan ini di sebabkan melaksanakan segala ibadah dan taqarrub krena cinta kepada Allah , ibadah yg di dasari cinta , lebih baek dari ibadah yg berharap pahala dan syurga

33 Al’ Muhaddatsun
Yaitu orng’’ yg selalu di beri ilham , mereka selalu mendapat bisikan’ rohani dari penduduk alam malakut , misal nya dari malaikat jibril , mikail , israfil dan izrail sebab hati mereka sudah menembus alam arwah atau alam malakut , di antara wali’’ ini adalah ‘’ Abul Abbas Al Khasyab , Abu Zakaria Al’ Baha’i

34 Al Akhilla
Mereka orng’’ yg di cintai Allah SWT , sebab segala ibadah yg mereka lakukan di dasari cinta kepada Allah SWT , jumlah mereka tdak terbatas

35  As Samra
Adalah berkulit hitam manis , jumlah mereka tidak terbatas , mereka senantiasa berdialog dengan Allah SWT , sebab hati mereka selalu di penuhi rasa ketuhanan yg tiada tara

36  Al Wiratsah 
Yaitu mereka yg mndpat warisan dari Allah SWT , mereka adalah para ulama pewaris para nabi , kelompok ini termasuk orng’’ yg gemar beribadah sampai melebihi dari batas kemampuan nya , mereka suka mengasingkan diri di tempat’’ terpencil



        --------------------------------------------------------------------------
Tulisan tangan admint sendiri di ambil dari kitab futuhatul makkiyah

Bila ada salah ketik tolong di maafkan by admint


Dua Hal Yang Memantik Musibah

Khotbah Habib Umar bin Hafidz

Segala madah bagi Allah SWT, penghimpun manusia di hari kiamat yang telah dipastikan. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah SWT, satu-satunya, yang tiada sekutu bagi-Nya. Dialah yang bakal meletakkan seluruh manusia di hadapan-Nya, guna diberi pahala atau siksa. Ketika itu, beruntunglah manusia-manusia beriman yang pandai memanfaatkan waktu hidupnya dengan menghadiri majelis kebajikan, ketaatan dan zikir, dan menyesallah mereka yang telah menghabiskan umurnya untuk berbuat maksiat. Aku bersaksi bahwa sang panutan, Nabi Muhammad SAW adalah rasul yang diutus oleh-Nya untuk menabur hidayah di muka bumi. Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada Baginda Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan orang-orang yang patuh kepada beliau hingga hari akhir nanti.

Wahai hamba Allah
Dalam majelis ini, aku berwasiat kepada kalian samua, sekaligus kepada diri sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Ketahuilah, barangsiapa bertakwa kepada Allah SWT, ia akan hidup penuh kekuatan dan berjalan di bumi-Nya dengan rasa aman dan tentram

Wahai hamba Allah
Ada dua perkara yang menyebabkan umat Rasulullah SAW ini kerap kali dilanda musibah dan bencana, dan sayang sekali, mereka tidak menyadari, atau bahkan tidak mempedulikanya sama sekali, sekalipun beliau SAW dan para ulama telah sering mengingatkan.
Dua perkara itu adalah, pertama, tiadanya penghargaan akan waktu, kesempatan dan umur yang telah dianugerahkan Allah Subhanahu Wata'ala. Sekarang ini, umumnya umat telah menyia-nyiakan waktu dan membuangnya untuk hal-hal yang kosong. Sebagian lagi menghabiskan waktu dalam perbuatan makruh, dan, bahkan kemaksiatan. Perbuatan ini setianya memancing amarah Allah SWT. Namun mereka abai serta tak mengindahkan. Maka tidaklah mengherankan apabila bencana demi bencana mulai merebak di negeri muslimin.

Kedua, pergaulan dan persaudaraan yang tidak lagi dilandasi itikad baik. Ketika umur dan waktu terbengkalai, ketika perkawanan tidak lagi dilandasi niat baik, maka kerusakan merajalela, fitnah dan cobaan bakal mendera umat, tak peduli di desa maupun di kota. Baginda Nabi SAW, dalam sabda-sabdanya, telah banyak mengingatkan umat agar memanfaatkan waktu dengan maksimal dan mendasari pergaulannya dengan niat soleh. Semua itu demi kebaikan umat sendiri. Akan tetapi sayang, orang-orang sudah tutup telinga dan mata. Mereka tak lagi berminat mendengarkan seruan beliau SAW.

Sadarlah wahai muslimin. Waktu adalah esensi kehidupanmu. Umur adalah peluang yang diberikan kepadamu. Berharga atau tidaknya hidupmu bergantung pada bagaimana kau memanfaatkan usiamu itu.

Rasulullah SAW bersabda, Di hari pembalasan nanti, dua telapak kaki seorang hamba akan tertahan dijembatan sirat. Takkan beranjak sampai ia ditanya mengenai empat hal. untuk apakah seluruh umur hidupnya..? Dikemanakan usia mudanya..? Dari mana ia mendapatkan harta dan digunakan untuk apakah harta itu..? Sudahkah ilmunya diamalkan..?

Wahai hamba Allah
Kita wajib kembali ke jalur yang telah digariskan Rasulullah SAW. Beliau adalah insan yang selalu berkata jujur. Beliau adalah sang petunjuk, penyeru kebenaran, suluh umat, dan pemberi kabar-kabar dari Ilahi. Beliau sangat cinta kepada umatnya. Kasih beliau kepada kita lebih besar dari kasih orang tua kita sendiri kepada kita. Allah SWT berfirman,

"Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri"

Kembali ke dua hal di atas. Beliau SAW pernah mengabarkan, "Di dalam surga, para penghuninya masih merasakan suatu kerugian besar, yakni mengenai waktu yang telah berlalu—di kehidupan dunia—yang tidak mereka gunakan untuk berzikir kepada Allah SWT."

Beliau juga mewanti-wanti, "Ketika suatu kaum duduk bersama-sama, akan tetapi tidak mengingat Allah SWT sama sekali, maka mereka bakal merasakan penyesalan di hari kiamat nanti."

Pergunakanlah waktu dengan aktifitas yang baik. Ikatlah persaudaraan dengan asas yang bagus serta tujuan yang penuh manfaat. "Ketika seseorang menjalin kawan, meskipun sejenak di siang hari, kelak ia akan ditanya mengenai perkawanan itu: telahkan ia melaksanakan hak-hak Allah SWT atau mengalpakannya?" begitulah yang dinarasikan Rasulullah SAW.

Wahai hamba Allah
Kita sudah sering membuang-buang waktu. Di antara kita bahkan ada yang lebih banyak mengisi waktu untuk maksiat. Marilah kita renung-kan bersama. Ke manakah malam-malam kita? Untuk apakah umur-umur kita? Apa yang kita kerjakan antara Maghrib dan Isyak? Bagaimana kabar majelis muslimin, pasar-pasar dan warung-warung? Tempat-tempat itu telah menjadi ajang melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ingatlah, bagaimana Baginda Rasul senantiasa zikir kepada Allah di setiap waktunya. Dulu, kaum muslimin tak pernah lalai untuk berzikir, di mana saja, siang dan malam. Akan tetapi kini, umat Islam, baik yang muda maupun yang tua, sudah menganggap remeh zikir. Mereka malas mengingat Allah dan lebih suka membicarakan yang lain. Ketika di dalam masjid sekalipun, mereka menganggap membaca Al-Quran tidak lebih asyik daripada bicara omong kosong. Hingga kita kerap menyaksikan mereka bicara tak tentu arah di dalam rumah Allah. Bahkan tak segan mereka meletakkan Al-Quran yang tengah dibaca hanya demi bisa mengobrol bersama rekan-rekan mereka. Sungguh, Betapa genting keadaan muslimin.

Tak hanya itu, umat Islam sekarang cenderung menjauhi majelis taklim. Ketika majelis pengajian diadakan di suatu desa, pesertanya selalu tak banyak. Orang-orang enggan datang dan lebih memilih kumpulan-kumpulan yang kurang baik. Mereka adalah manusia yang rugi. Mereka bakal menyesal. Keberadaan mereka sudah dinubuatkan Rasulullah SAW, "Manusia yang paling besar penyesalannya di akhirat kelak adalah mereka yang punya kesempatan untuk mengaji akan tetapi mereka sia-siakan kesempatan itu."

Masa keemasan telah berlalu, yakni masa sahabat, tabiin, dan tabiin-tabiin. Masa ketika zikir, baca Al-Quran dan hadis menjadi kebiasaan, baik ketika makan, minum, tidur, dan segala rutinitas.

Wahai hamba Allah
Ketahuilah, suatu majelis yang dilandasi niatan baik dan tujuan yang mulia, yakni ridha Allah dan Rasulullah, akan membuahkan kebajikan-kebajikan. Di antaranya menangguhkan musibah, meredam permusuhan, dan mencegah perbuatan munkar, Semua itu lantaran sikap saling membantu di antara anggota. Dan mereka semua pasti memperoleh pahala-pahala dan anugerah yang tak kecil nilainya dari Allah SWT. Sebab itulah Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan perhatian yang agung kepada majelis zikir dan majelis tak-lim.

Ya Allah, bimbinglah kami kepada kebaikan. Tambahkanlah rahmat-Mu untuk kami. Siramkan anugerah-anugerah-Mu kepada kami. Elokkanlah dhahir dan bathin kami, serta niat dan tujuan kami. Sirnakan kesulitan dari kaum muslimin. Dengan kasih-Mu, wahai Yang Maha Kasih Sayang.

Sumber: Majalah Cahaya Nabawiy edisi No. 77 Th VII Dzulqaidah 1430 H / Nopember 2009 Hal. 44-47

http://sufiroad.blogspot.com/2010/12/sufi-road-dua-hal-yang-memantik-musibah.html


Berdo’a Perantara Orang Sholeh

Bolehkah meminta tolong orang lain untuk menyampaikan maksud kita kepada Allah Azza wa Jalla

Menurut pemahaman kita kenapa kita tidak berdo’a langsung kepada Allah Azza wa Jalla..?
Kenapa harus melalui perantara..?
Sedangkan sebagian ulama berpendapat bahwa kita bisa minta tolong orang lain (yang menurut mereka mempunyai kelebihan didalam berdo’a atau termasuk orang-orang sholeh) sehingga mereka berkeyakinan bahwa do’anya orang tersebut lebih “didengar” oleh Allah Azza wa Jalla daripada do’a yang disampaikan oleh kita sendiri.
Ada kisah menarik berkaitan dengan pertanyaan tersebut
Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :
“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”.
Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.
“Siapa namamu?” tanya Umar.
“Aku Uwais”, jawabnya datar.
“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup..?, tanya Umar lagi.
“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.
Umar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).
“Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.
“Mintakan aku ampunan kepada Allah”.
Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan
penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih berhak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”
Lalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah”
Uwais lalu mendoa’kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah.
(H.R. Muslim dan Ahmad)
Mungkin ini cukup dijadikan tauladan bahwa orang setingkat Umar yang termasuk orang yang mendapat jaminan masuk sorga, diperintahkan oleh Rasulullah untuk meminta tolong kepada seorang Tabiin bernama Uwais agar memintakan ampunan kepada Allah Azza wa Jalla. Meminta ampunan adalah bagian dari do’a, karena do’a tidak lain adalah meminta sesuatu kepada Allah Azza wa Jalla.
Firman Allah, yang artinya,
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)“. (QS al Maaidah [5]: 55 )
“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang“. (QS al Maaidah [5] : 56 )

Wassalam

http://almahabbah89.wordpress.com/2011/05/04/berdoa-perantara-orang-sholeh/