Kamis, 31 Oktober 2013

Sayyidah Fathimah Azzahra Rha

Nama : Fathimah
Gelar : Az-Zahra
Julukan : Ummu al-Aimah, Sayyidatu Nisa’, al-‘Alamin, Ummu Abiha
Ayah : Muhammad Rasulullah saww
Ibu : Khadijah al-Kubra
Tempat/Tgl Lahir : Makkah, Hari Jum’at, 20 Jumadi al-Tsani (jamadil akhir)
Hari/Tgl Wafat : Selasa, 3 Jumadi al-Tsani Tahun 11 H
Jumlah Anak : 4 orang; 2 laki-laki dan 2 perempuan
Laki-laki : Hasan dan Husein
Perempuan : Zainab dan Ummu Kaltsum

Riwayat Hidup

    Di antara anak wanita Rasulullah s.a.w, Fathimah Az-Zahra , merupakan wanita paling utama kedudukannya. Kemuliannya itu diperoleh sejak menjelang kelahirannya, yang didampingi wanita suci sebagaimana yang diucapkan oleh Khadijah:
"Pada waktu kelahiran Fathimah , aku meminta bantuan wanita-wanita Quraish tetanggaku, untuk menolong. Namun mereka menolak mentah-mentah sambil mengatakan bahwa aku telah menghianati mereka dengan mendukung Muhammad. Sejenak aku bingung dan terkejut luar biasa ketika melihat empat orang tinggi besar yang tak kukenal, dengan lingkaran cahaya disekitar mereka mendekati aku. Ketika mereka mendapati aku dalam kecemasan salah seorang dari mereka menyapaku: ‘Wahai Khadijah! Aku adalah Sarah, ibunda Ishaq dan tiga orang yang menyapaku adalah Maryam, Ibunda Isa, Asiah, Putri Muzahim, dan Ummu Kultsum, Saudara perempuan Musa. Kami semua diperintah oleh Allah untuk mengajarkan ilmu keperawatan kami jika anda bersedia". Sambil mengatakan hal tersebut, mereka semua duduk di sekelilingku dan memberikan pelayanan kebidanan sampai putriku Fathimah lahir."
    Meningkat usia 5 tahun, beliau telah ditinggal pergi ibunya. Tidak secara langsung beliau mengantikan tempat ibunya dalm melayani, membantu dan membela Rasulullah s.a.w, sehingga beliau mendapat gelar Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Dan dalam usia yang masih kanak-kanak, beliau juga telah dihadapkan kepada berbagai macam uji coba. Beliau melihat dan meyaksikan perlakuan keji kaum kafir Quraish kepada ayahandanya, sehingga seringkali pipi beliau basah oleh linangan air mata kerana melihat penderitaan yang dialami ayahnya.
    Ketika Rasulullah pindah ke kota Madinah beliau ikut berhijrah bersama ayahnya. Selang beberapa tahun setelah hijrah tepat pada tanggal 1 dzulhijjah, hari jum’at, tahun 2 Hijrah, beliau menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Krw
Dari pernikahannya suci yang diberkati oleh Allah SWT, beliau dikaruniai dua orang putra; Hasan dan Husein serta dua orang putri, Zainab dan Ummi Kaltsum, mereka semua terkenal sebagai orang yang sholeh, baik dan pemurah hati.
    Fathimah bukan hanya seorang anak yang paling berbakti pada ayahnya, tapi sekaligus sebagai seorang istri yang setia mendampingi suaminya disegala keadaan serta sebagai pendidik terbaik telah berhasil mendidik anak-anaknya.
    Masa-masa indah bagi beliau adalah ketika hidup bersama Rasulullah s.a.w. Beliau mempunyai tempat agung disisi Rasulullah sehingga digambarkan di kitab Thabari Hal 40, Siti Aisah berkata: “Aku tidak melihat orang yang pembicaraannya mirip dengan Rasulullah s.a.w seperti Fathimah. Apabila datang kepada ayahanya, beliau berdiri, menciumnya, menyambut gembira dan mengiringnya lalu didudukkan di tempat duduk beliau. Apabila Rasulullah datang kepadanya, ia pun berdiri menyambut ayahandanya dan mencium tangan beliau s.a.w".
    Tidak heran, jika setelah kepergian baginda Rasulullah, beliau sangat sedih dan berduka cita, hatinya menangis dan menjerit sepanjang waktu. Namun perlu diketahui bahwa kesedihan dan tangisannya itu bukanlah semata-mata kehilangan Rasulullah s.a.w tapi juga beliau melihat kelakukan umat sesudahnya yang sudah banyak menyimpang dari ajaran ayahnya, dimana penyimpangan itu akan membawa kesengsaraan bagi kehidupan mereka.
    Sejarah mencatat bahwa Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s setelah kepergian Rasulullah s.a.w tidak penah terlihat senyum apalagi tertawa. Sejarah juga mencatat bahwa antara beliau dengan khalifah pertama dan kedua terjadi perselisihan tentang tanah Fadak dan tentang masalah lainnya. Menurut Sayyidah Fathimah a.s tanah itu adalah hadiah dari ayahnya untuk dirinya, namun khalifah berkata: "Bahwa nabi tidak meninggalkan sesuatau dari keluarganya, sedangkan warisan nabi berubah statusnya menjadi sedekah yang digunakan untuk kemaslahatan kaum muslimin".
    M.H. Shakir berpendapat: "Wafat Rasulullah s.a.w sangat mempengaruhinya, ia sangat sedih, berduka dan tangis hatinya memekik sepanjang masa. Sayang sekali, setelah wafat nabi, pemerintah mengambil alih tanah fadak dan menyerahkannya sebagai milik negara".
Kehidupan Fathimah az-Zahra a.s, wanita agung sepanjang masa adalah kehidupan yang diwarnai kesucian, kesederhanaan, pengabdian, perjuangan dan pengorbanan bukan kehidupan yang diwarnai kemewahan yang ramah dan lembut.
    Fathimah hanya hidup tidak lebih dari 75 hari setelah kepergian ayahnya. Pada tanggal 14 Jumadil Ula, tahun 11 Hijriyah wanita suci, wanita agung dan mulia sepanjang masa, menutup mata dalam usia yag relatif muda yaitu 18 tahun.
Namun sebelum wafatnya beliau mewasiatkan keinginan kepada Imam Ali Krw yang isinya:
1.      Wahai Ali, engkau sendirilah yang harus melaksanakan upacara pemakamanku.
2.      Mereka yang tidak membuat aku rela/ridha, tidak boleh menghadiri pemakamanku.
3.      Jenazahku harus dibawa ke tempat pemakaman pada malam hari.
    Fathimah Az-Zahra ," Putri bungsu Rasulullah sa.w, telah tiada. Tidak ada ungkapan yang mampu mengambarkan keagungan Fathimah Az-Zahra yang sebenarnya. 


Karomah Fathimah Rha

Abu Sai'd al-Khudri berkata: “Pada suatu hari Ali Krw berkata bahwa beliau Sayyidatina Fathimah Az Zahra berasa amat lapar. Beliau kemudian meminta Fatimah  menyediakan makanan. Fatimah  bersumpah bahwa tidak ada makanan yang tinggal untuk menghilangkan kelaparan Ali Krw. Imam Ali Krw bertanya mengapa Fatimah  tidak memberitahukan kepadanya bahwa di rumah mereka sudah tidak ada makanan lagi. Fatimah  menyatakan bahwa dia merasa malu untuk menyatakan perkara itu, dan dia juga tidak mau menuntut apa-apa dari Imam Ali Krw. Imam Ali Krw keluar dari rumah dengan rasa tawakal kepada Allah SWT. Beliau meminjam uang sebanyak satu dinar dengan hasrat untuk membeli makanan untuk penghuni rumahnya. Dalam perjalanan pulang, beliau bertemu Miqdad ibn Aswad sedang terbaring di atas jalan pasir yang panas terik oleh sinar matahari yang membakar. Miqdad kelihatan sedih dan muram. Lalu Imam Ali Krw bertanya kepadanya apa yang terjadi tetapi dia enggan menyatakan perkara yang berlaku kepada Imam Ali Krw. Tetapi akhirnya dia menyatakan juga rahasia itu dan berkata:

“Wahai Abul Hasan! Aku bersumpah bahwa ketika aku keluar rumah tadi, penghuni rumahku berada di dalam kelaparan yang amat sangat. Anak-anakku kelaparan dan aku tidak sanggup menonton keadaaan mereka menangis itu. Lalu aku meninggalkan mereka, dan berusaha mencari jalan untuk mengatasi masalah tersebut."

Air mata Ali Krw jatuh bercucuran dan mengenai janggutnya apabila mendengar kisah tersebut. Ali Krw berkata kepadanya:

" Aku bersumpah bahwa aku juga mengalami keadaan yang sama seperti engkau."

          Ali Krw lalu menyerahkan uang yang dibawanya kepada Miqdad. Ali Krw kemudian pergi ke masjid di mana pada ketika itu Nabi S.A.W sedang shalat. Ali Krw bershalat di tempat suci itu, dan selepas selesai menunaikan kewajibannya, beliau menemui Nabi S.A.W di pintu masjid. Rasulullah S.A.W bertanya Ali Krw tentang makanan apa yang akan dia siapkan untuk makam malam karena Nabi S.A.W hendak ikut makan malam di tempat putrinya..

          Ali Krw tunduk dan tidak berkata apa-apa. Beliau tidak tahu apa yang harus dikatakan. Kelihatannya Rasulullah S.A.W tahu tentang kisah uang satu dinar itu. Telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad S.A.W bahwa hendaklah beliau S.A.W bersama Ali AS pada petang itu." Mengapa anda tidak berkata sesuatu..?," tanya Nabi Muhammad S.A.W. Ali Krw dengan menjawab:" Diriku di tanganmu."

          Nabi Muhammad S.A.W memegang tangan Ali Krw dan dua orang yang agung ini berjalan bersama-sama ke rumah Fatimah . Apabila sampai di sana, Fatimah baru selesai menunaikan kewajibannya (sholat), dan di atas tungku ada satu periuk masakan sedang di masak dan ketika ia sedang mendidih. Fatimah  kemudian keluar apabila mendengar bunyi tapak kaki ayahnya datang dan menyambut kedatangan mereka. Nabi S.A.W mengucapkan salam dengan lembut." Semoga Allah SWT memberi rahmat ke atas kamu berdua, dan semoga kamu dapat menyediakan kami hidangan makan malam!" sambung Rasulullah S.A.W.

          Fatimah mengambil periuk tersebut dan meletakkan di hadapan ayahnya S.A.W dan suaminya, Ali Krw, yang terkejut dan bertanya isterinya bau makanan yang lezat di dalam periuk itu. Fatimah berkata:" Apakah anda marah dengan memandangku dengan pandangan yang demikian! Apakah aku telah melakukan sesuatu yang salah menyebabkan aku layak menerima kemarahanmu!?"

          Ali Krw berkata:" Mengapa tidak..? Semalam engkau bersumpah bahwa engkau tidak mempunyai sedikit makanan pun untuk kita hidup selama beberapa hari! Apa artinya ini semua..?"

          Dengan memandang ke langit Fatimah menyambung:" Tuhanku yang berkuasa ke atas langit dan bumi akan menjadi saksi bahwa apa yang akan aku katakan ini adalah benar."

          Ali Krw menambah:" Wahai Fatimah! Sudikah engkau menyatakan kepada kami kisah sebenarnya. Sudikah engkau dengan jujur menyatakan kepada kami siapakah yang mengantarkan hidangan yang lezat ini yang menjadi makanan kita!"

          Rasulullah S.A.W dengan lembut meletakkan tangannya ke atas bahu Ali Krwdan berkata:" Wahai Ali! Semua sebenarnya ini adalah anugerah dari Allah SWT karena kemurahan yang kamu tunjukkan ketika memberikan uang dinar tersebut.

Fathimah az-Zahra Pemimpin Wanita di Surga

Fatimah al-Zahra adalah puteri Rasulullah SAW. Ibunya Khadijah adalah isteri Rasulullah S.A.W yang pertama dan amat dikasihinya. Tentang Khadijah, Rasulullah S.A.W pernah bersabda yang bermaksud: "Empat wanita yang terbaik ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim isteri kepda Firaun." [Muhibuddin al-Tabari, Dhakha'ir al-Uqba fi Manaqib Dhawi al-Qurba, hl.42; Al-Hakim alam al-Mustadrak, Juzuk 3, hlm.157].

          Fatimah mempunyai nama-nama timangan seperti Ummal Hasan, Ummal Husayn, Ummal Muhsin, Ummal A'immah dan Umma Abiha [Bihar al-Anwar' Juzuk 43, hlm.16]

          Rasulullah SAW menggelarkannya Fatimah sebagai "Ummu Abiha" bermaksud ibu kepada ayahnya. Ini kerana Fatimah AH sentiasa mengambil berat tentang ayahandanya yang dikasihi itu. Selain daripada itu gelaran-gelaran lain ialah Zahra, Batul, Siddiqah Kubra Mubarakah, Adhra, Tahirah, dan Sayyidah al-Nisa [Bihar al-Anwar, Juzuk 43, hlmn.16]

          Fatimah dilahirkan pada 20 Jamadil Akhir di Mekah yaitu pada Hari Juma'at, tahun kelima selepas kerasulan Nabi Muhammad S.A.W [Manaqib Ibn Shahrashub, (Najaf), Juzuk 3, hlm.132; al-Kulaini, al-Kafi; Misbah al-Kaf'ami; Syeikh al-Mufid, Iqbal al-Amal]. Tempat beliau dilahirkan ialah di rumah ayahanda dan ibundanya iaitu Rasulullah S.A.W dan Khadijah al-Kubra. Beliau AH wafat pada tahun ke-11 hijrah iaitu selepas enam bulan kewafatan ayahandanya Rasulullah S.A.W [al-Bukhari, Sahih, Juzuk 5, Hadith 546]

          Kelahiran Fatimah AH amat menggembirakan Rasulullah SAWA. Beliau S.A.W bersabda tentang Fatimah AH: " Dia adalah daripadaku dan aku mencium bau syurga dari kehadirannya."[Kasyf al-Qummah, Juzuk 2, hlm.24].

          Mengapa diberikan Nama Fatimah? Menurut Imam Ali al-Ridha  nama "Fatimah" diberikan oleh Rasulullah S.A.W Fatimah dan para pengikutnya terpelihara dari api neraka. Imam Ja'far al-Sadiq AS berkata: " Rasulullah S.A.W bersabda kepada Ali Krw : Tahukah kamu nama mengapa nama Fatimah diberikan kepadanya? Ali menjawab: Mengapa dia diberikan nama itu? Dia (Rasulullah S.A.W) bersabda: Kerana dia dan shiahnya akan diperlihara dari api neraka."


Keperibadian Fathimah Az Zahra

Fatimah termasuk dalam Ahlul Bayt Rasulullah S.A.W sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat al-Tathir dalam surah al-Ahzab: 33. Dalam Surah Al-Ahzab:33 bermaksud:

"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kalian daripada kekotoran (rijsa), wahai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya."
          Ayat di atas mengisahkan Sayyidina Hasan dan Husayn AS sedang dalam keadaan sakit. Rasulullah S.A.W dengan beberapa orang sahabat menziarahi mereka. Rasulullah S.A.W mencadangkan kepada Ali AS bernazar kepada Allah SWT bahawa dia dan keluarganya akan berpuasa selama tiga hari apabila anak mereka sembuh dari penyakit tersebut. Ali, Fatimah, dan pembantu mereka, Fizzah bernazar kepada Allah SWT. Apabila Hasan dan Husayn AS sembuh, mereka pun berpuasa. Pada waktu berbuka datang seorang pengemis meminta makanan kepada mereka. Pada hari itu mereka hanya berbuka dengan air saja. Keesokan hari ini datang seorang anak yatim meminta makanan daripada mereka pada waktu berbuka dan sekali lagi mereka hanya berbuka dengan air saja. Pada hari ketiga, datang pula seorang tawanan perang meminta makanan. Selepas memberikan makanan, Ali Krw membawa anak-anaknya ke rumah Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W berasa sedih melihat keadaan cucunya itu. Ali Krw membawa Rasulullah S.A.W ke rumah mereka. Sampai di sana Rasulullah S.A.W. melihat Fatimah sedang berdoa dengan keadaan yang amat lemah. Rasulullah S.A.W berasa amat sedih. Turun malaikat Jibril berkata kepada beliau S.A.W," Wahai Muhammad ambillah dia (Fatimah). Allah memberikan tahniah pada Ahl Bayt kamu." Lalu Jibril membacakan ayat tersebut.[Al-Hakim al-Haskani, Shawahid al-Tanzil, jld.II, hlm.298; al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, jld.XXIX, hlm.157; Fakhur al-Razi, Jild.XIII, hlm.395]


Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud:
" Fatimah adalah sebahagian daripadaku. Barang siapa yang membuat dia marah, akan membuat aku marah." [a-Bukhari, Jilid II, hlm.185]
Imam Ali al-Redha Krw berkata bahwa Rasulullah S.A.W bersabda 
" Hasan AS dan Husayn AS adalah makhluk yang terbaik di dunia selepasku dan selepas bapa mereka (Ali Krw) dan ibu mereka (Fatimah ) adalah wanita yang terbaik di kalangan semua wanita."[Bihar, Jilid 43, hlm. 19 dan 20]
Dari Imam Ali Krw dari Rasulullah S.A.W berkata kepada Fatimah bermaksud:
“Sesungguhnnya Allah marah kerana kemarahanmu dan redha kerana keredhaanmu." [Mustadrak al-sohihain, juzuk 3, hlm152]

Dari Aisyah berkata bahawa:
" Tidak pernah aku melihat seorang pun yang lebih benar dalam berhujah daripadanya melainkan ayahnya (Rasulullah S.A.W)."[Mustadrak al-Sohihain, Juzuk 3, hlm.160]

Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadith dari Aisyah berkata bahwa Rasulullah S.A.W bersabda:
".....Tidakkah engkau redha (wahai Fatimah) bahawa engkau adalah saidati-nisa fil-Jannah(pemimpin wanita di syurga) atau pemimpin wanita seluruh alam..." [Sahih Bukhari, Jld. IV, hadith 819]

Dalam hadith yang lain al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah sebuah hadith yang panjang dan di sini dinyatakan sebahagiannya:
"....Wahai Fatimah! Tidakkah engkau redha bahawa engkau adalah saidati-nisa il-mu'minin (pemimpin wanita mu'minin) atau saidanti-nisa-i hadzhihi il-ummah (pemimpin wanita umah ini)?"[Al-Bukhari, Jilid 8, hadith 301]

          Al-Bukhari meriwayatkan hadith dari Imam Ali Krw bahwa pada suatu ketika Fatimah  mengadu tentang kesusahannya mengisar tepung. Apabila beliau mendengar berita ada beberapa orang hamba dari rampasan perang telah dibawa kepada Rasulullah S.A.W, beliau lalu pergi (ke rumah Rasulullah S.A.W) untuk menemui baginda S.A.W bagi mendapatkan pembantu tersebut, tetapi pada ketika itu (Rasulullah S.A.W tidak ada di rumah) Aisyah tidak dapat mencari baginda S.A.W. Lalu Fatimah menceritakan hasratnya kepada Aisyah. Apabila Rasulullah S.A.W pulang, Aisyah menyatakan kepadanya perkara tersebut. Rasulullah S.A.W kemudian pergi ke rumah kami....Maukan kamu aku nyatakan suatu perkara yang lebih baik daripada apa yang kamu minta? (Iaitu) apabila kamu hendak masuk ke tempat tidurmu, maka ucapkanlah Allahu Akbar 34 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Subhan Allah 33 kali. Ini adalah lebih baik daripada yang kamu pohonkan."[ Al-Bukhari, Jld. VI, hadith 344]

Amru bin Dinar meriwayatkan dari Aisyah berkata:
" Tidak pernah aku melihat seseorang pun yang lebih benar daripada Fatimah salamullah 'alaiha selain daripada ayahnya."[Hilyatul-awliya, Juzuk 2, hlm. 41]

Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud:
"Pada malam aku diangkat ke langit (mi'raj), aku melihat di pintu syurga tertulis bahwa Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasulullah, Allah mengasihiku, dan Hasan, dan Husayn sofwatullah (sari yang terbaik dari Allah) , Fatimah Khiratullah (sesuatu yang terbaik dari pilihan Allah), laknatullah ke atas mereka yang membenci mereka."[Tarikh al-Baghdadi, Juzuk 1, hlm. 259]

          Fatimah al-Zahra mempunyai sifat-sifat berikut seperti ayahnya dan suaminya serta anggota keluarganya :(1) menemukan jalan yang benar (ihtida') (2) mentaati prinsip-prinsip Islam (iqtida'), dan (3) berpegang teguh serta menyakini kewajiban'' nya (tamassuk)." [ Nasa'i dalam Khashais Alawiyyah]

Sikap Rasulullah terhadap Fathimah Rha

Rasulullah mengaitkan Fatimah dengan dirinya S.A.W. Justru Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud:
     
“Fatimah adalah daripadaku dan barang siapa yang membuat dia marah, akan membuat aku marah." [Al-Bukhari, Jilid V, hadith 111]

Imam Ali Krw suatu ketika bertanya kepada Rasulullah S.A.W:
" Wahai Rasulullah! Siapakah di kalangan keluargamu yang paling dekat denganmu? Fatimah binti Muhammad," jawab baginda S.A.W.
[Al-Tabari, Dhakair al-Uqba; Al-Tirmidzi, Sunan. hlm.549; Al-Mustadrak, Jilid 3, hlm.21 dan 154] 


Kezuhudan Fathimah as

Imam Hasan AS meriwayatkan," Aku belum pernah melihat seorang wanita yang lebih alim daripada ibuku. Ia selalu melakukan solat dengan begitu lama sehingga kakinya menjadi bengkak." Imam Hasan AS juga meriwayatkan:

“Aku melihat ibuku, Fatimah berdiri sholat pada malam Jumaat. Beliau meneruskan sholatnya dengan rukuk dan sujud sehingga subuh. Aku mendengar beliau berdoa untuk kaum mu'minin dan mu'minat dengan menyebut nama-nama mereka. Beliau berdoa untuk mereka semua tetapi beliau tidak berdoa untuk dirinya sendiri. "Ibu," Aku bertanya kepada beliau "Mengapa ibu tidak berdoa untuk diri sendiri sebagaimana ibu berdoa untuk orang lain..?" Beliau menjawab," Anakku, (berdoalah) untuk jiran-jiranmu diutamakan dan kemudian barulah dirimu sendiri."[Bihar al-Anwar, Jilid 43, hlm.81-82; Abu Muhammad Ordooni, Fatimah The Gracious, hlm.168-169;Sayyid Abdul Razak Kammoonah Husseini, Al-Nafahat al-Qudsiyyah fi al-Anwar al-Fatimiyyah, Juzuk 13, hlm.45]

Kehidupan Politik Sayyidah Fathimah as

Kehidupan Fatimah a.s. bukan hanya melakukan tugas sebagai suri rumah tangga dan beribadat saja tetapi juga meliputi soal-soal politik sejak dari zaman ayahandanya Rasulullah S.A.W di Mekah hingga selepas wafat ayahandanya S.A.W. Beliau dengan gigih menyokong keras perjuangan ayahandanya Rasulullah S.A.W dan berpegang teguh kepada prinsip-prinsip Islam yang telah dididik oleh ayahandanya Rasulullah S.A.W.
Pada tahun kesepuluh kerasulan, Khadijah ibu Fatimah meninggal dunia. Fatimah kehilangan ibundanya yang tercinta. Pada tahun yang sama, beliau kehilangan bapa saudara ayahnya Abu Thalib yang selalu melindungi Rasulullah S.A.W. Dengan kewafatan dua orang insan mulia ini, para musyirikin Quraish mulai berani menentang dan menyakiti Rasulullah S.A.W secara terbuka. Sehingga pada suatu saat mereka sanggup memutuskan untuk membunuh Rasulullah S.A.W. Justru, Rasulullah S.A.W membuat keputusan berhijrah ke Madinah. Malam itu Ali AS tidur di tempat tidur Rasulullah S.A.W demi untuk mengelirukan musuh-musuh Allah itu. Pada malam itu juga Fatimah menginap di rumah ayahandanya dan mengetahui semua kejadian tersebut. Fatimah bertahan pada malam itu dengan penuh perjuangan, kesabaran, dan keberanian segala kemungkinan yang akan berlaku kepada mereka.

Fatimah a.s. kemudian berhijrah ke Madinah dengan rombongan hijrah di ketuai oleh Ali Krw. Dalam perjalanan ke Madinah, beberapa orang kafir mencoba untuk menghalang mereka tetapi dengan keberanian dan tekad Ali Krw, maka mereka ketakutan dan membiarkan rombongan hijrah itu meninggalkan Mekah. Akhirnya setelah menempuh segala kesulitan, mereka pun sampai ke Madinah.

Fatimah  turut menjadi saksi Perang Badar dan Perang Uhud. Dalam Perang Uhud, dahi, dan gigi Nabi S.A.W luka parah. Dan yang lebih menyedihkan ialah ketika tersebarnya berita palsu bahwa Rasulullah S.A.W telah terbunuh. Fatimah  berangkat ke Uhud untuk menyaksikan medan pertempuran, dan juga melihat ayahandanya yang dikasihi Rasulullah S.A.W. Setelah perang berakhir, Fatimah menemui ayahandanya Rasulullah S.A.W, dan membersihkan wajah baginda dari luka-luka. Dalam peperangan ini juga, Fatimah menyaksikan bapa saudara ayahnya, Hamzah syahid di medan perang.




Joko Tingkir

Dalam tradisi Jawa Jaka/Joko Tingkir atau Mas Karèbèt atau ejaan China Peng King Kang, adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Pajang yang memerintah tahun 1549-1582 dengan nama Hadiwijaya.
Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, putra Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga. Ketika ia dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir.[2] Kedua ki ageng ini adalah murid Syekh Siti Jenar. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.
Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kerajaan Demak. Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus. Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula. Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir).
Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang gemar bertapa, dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan Kalijaga. Ia juga berguru pada Ki Ageng Sela, dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng yaitu, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.
Silsilah Jaka Tingkir :
Andayaningrat (tidak diketahui nasabnya) + Ratu Pembayun (Putri Raja Brawijaya)→ Kebo kenanga (Putra Andayaningrat)+ Nyai Ageng Pengging→ Mas Karebet/Jaka Tingkir
Babad Tanah Jawi selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Di sana ia tinggal di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir pandai menarik simpati raja Demak Trenggana sehingga ia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.
Beberapa waktu kemudian, Jaka Tingkir bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji kesaktiannya dan Dadungawuk tewas hanya dengan menggunakan Sadak Kinang. Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.
Jaka Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro (saudara tua ayahnya / kakak mendiang ayahnya). Setelah tamat, ia kembali ke Demak bersama ketiga murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.
Rombongan Jaka Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit. Muncul kawanan siluman buaya menyerang mereka namun dapat ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu mendorong rakit sampai ke tujuan.
Saat itu Trenggana sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang dinamakan sebagai Kebo Danu yang sudah diberi mantra (diberi tanah kuburan pada telinganya). Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan raja, di mana tidak ada prajurit yang mampu melukainya.
Jaka Tingkir tampil menghadapi kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.
Kisah dalam babad tersebut seolah hanya kiasan, bahwa setelah dipecat, Jaka Tingkir menciptakan kerusuhan di Demak, dan ia tampil sebagai pahlawan yang meredakannya. Oleh karena itu, ia pun mendapatkan simpati raja kembali.
Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempaka, putri Trenggana.
Sepeninggal Trenggana tahun 1546, puteranya yang bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian ia tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya Penangsang membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya juga membunuh ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen sewaktu ia menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan Sore. Pangeran Sekar merupakan adik kandung Trenggana sekaligus juga merupakan murid pertama Sunan Kudus. Pembunuhan-pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan Keris Kiai Setan Kober. Selain itu Aryo Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri suami dari Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara.
Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi gagal. Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang.
Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto) mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak dan merupakan saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus.
Maka, Adiwijaya pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan mentaok/Mataram sebagai hadiah.
Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya Penangsang setelah menusukkan Tombak Kyai Plered ketika Aryo Penangsang menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai Kuda Jantan Gagak Rimang.
Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut, Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Hadiwijaya sebagai raja pertama. Demak kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak Sunan Prawoto yang menjadi Adipatinya
Hadiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi.
Sesuai perjanjian sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki Ageng Pati. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena seolah-olah Hadiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.
Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ternyata, alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan itu didengarnya saat ia dilantik menjadi raja usai kematian Arya Penangsang.
Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang. Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu.
Tanah Mataram adalah bekas kerajaan kuno, bernama Kerajaan Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram. Meskipun hanya sebuah desa namun bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Ageng Mataram, hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti.
Saat naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah saja, karena sepeninggal Trenggana, banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan diri.
Negeri-negeri di Jawa Timur yang tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya. Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi ancaman invansi dari berbagai penjuru, yaitu Pajang, Madura, dan Blambangan.
Pada tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri Kedaton menjadi mediator pertemuan antara Hadiwijaya raja Pajang di atas negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya.
Selain itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi menantunya.
Dalam pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut.
Mendengar ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir.
Sutawijaya adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat Hadiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575, Sutawijaya menjadi penguasa baru di Mataram, dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun penuh.
Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya tidak datang menghadap. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram. Mereka menemukan Sutawijaya bersikap kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat senior itu pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang disampaikan secara halus.
Tahun demi tahun berlalu. Adiwijaya mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali mengirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kali ini yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban), serta Patih Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya. Di tengah keramaian pesta, putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban yang didesak Arya Pamalad. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya sekeluarga.
Maka sesampainya di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya, sedangkan Pangeran Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan tersebut hanya kecelakaan saja. Hadiwijaya menerima kedua laporan itu dan berusaha menahan diri.
Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya.
Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya pun mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang.
Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Hadiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, namun menderita kekalahan. Adiwijaya semakin tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung tersebut.
Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan Tembayat namun tidak mampu membuka pintu gerbangnya. Hal itu dianggapnya sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba.
Adiwijaya melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, sehingga harus diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, membuat sakitnya bertambah parah.
Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua. Pada cerita rakyat dinyatakan bahwa sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung Adiwijaya dengan anak Ki Ageng Sela.
Adiwijaya alias Jaka Tingkir akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya.
Hadiwijaya memiliki beberapa orang anak. Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya, Raden Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban. Adapun putri yang paling tua dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak. Arya Pangiri sebenarnya adalah anak raja Demak Sunan Prawoto, yang seharusnya memang Arya Pangiri sebagai penerus garis suksesi Sultan Demak dahulu.
Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus (pengganti Sunan Kudus) untuk menjadi raja. Pangeran Benawa sang "putra mahkota" disingkirkan menjadi bupati Jipang. Arya Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang dengan nama tahta Ngawantipura
Berikut ini silsilah dari Garis Syaikh Jumadil Kubro yang saya petikan dari sumber sumber sukapura dan ditambah dengan keterangan dari r-tb nurfadhil azmatkhan

Rasulullah Muhammad S.A.W
1. Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti
2. Al-Husain bin
3. Ali Zainal Abidin bin
4. Muhammad Al-Baqir bin
5. Ja’far Shadiq bin
6. Ali Al-Uraidhi bin
7. Isa bin Muhammad bin
8. Ahmad Al-Muhajir bin
9. Ubaidillah bin
10. Alwi bin
11. Muhammad bin
12. Alwi bin
13. Ali Khali’ Qasam bin
14. Muhammad Shahib Mirbath bin
15. Alwi Ammil Faqih bin
16. Abdul Malik Azmatkhan bin
17. Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin
18. Husain Jamaluddin bin
19. Maulana Ahmad Jumadil Kubra bin
20. Muhammad Kabungsuan/Andayaningrat bin
21. Sayyid Shihabudin / Ki Ageng Pengging Bin
22. Sayyid Abdurrahman / Jaka Tingkir bin
23. Sayyid Abdul Halim / Pangeran Benawa


Ir. AS-SAYID AL HABIB AHYAD BIN ABDULLAH BANAHSAN

la masih muda, tapi semangat dakwahnya luar biasa. la berhasil meyakinkan masyarakat akan bahaya kemaksiatan. Dan para preman pun segan, tak berani membuka tempat-tempat maksiat.

Kalau Anda lewat di Jln. Pahlawan Revolusi, Jakarta Timur, mulai dari Klender sampai perempatan Pangkalan Jati menuju Pondok Gede, Bekasi, perhatikanlah sebelah kiri dan kanan jalan dengan cermat. Di sana Anda tidak akan menemukan tempat-tempat perjudian, narkoba, biliar, penjual minuman keras, dan tempat-tempat hiburan lain yang akrab dengan maksiat.

Apalagi jika Anda masuk ke dalam perkampungan di dalam. Secara sembunyi-sembunyi, mungkin saja ada orang yang membuka tempat-tempat seperti itu. Tapi, jangan harap mereka berani terang-terangan melakukannya. Mengapa? Sebab, jika hal itu terdengar oleh Habib Ahyad bin Abdullah Banahsan, dalam tempo singkat ia bersama masyarakat Pondok Bambu dan sekitarnya akan segera menggusurnya. Tak peduli siapa yang membuka tempat maksiat dan yang menjadi backing-nya. Ketokohan Habib Ahyad Banahsan dan kekompakan masyarakat Islam setempat membuat lingkungan tersebut relatif bersih dari maksiat – hal yang cukup sulit dilakukan di tempat-tempat lain di Jakarta.

Kaum muslimin, khususnya yang bermukim di Pondok Bambu dan sekitarnya, patut bersyukur. Sebab, anak-anak mereka relatif lebih aman dari pengaruh yang dapat merusak masa depan mereka, meskipun hal itu tidak menjamin mereka tidak akan terpengaruh sama sekali. Sebab, bisa saja mereka melakukannya di tempat lain atau secara sembunyi-sembunyi. Tapi, upaya seperti itu setidaknya bisa menjadi pagar yang cukup penting buat melindungi mereka.

Habib Ahyad memang dikenal sangat keras – bahkan ada yang menilainya nekat – dalam memberantas kemaksiatan. Jika membasmi tempat-tempat maksiat, ia tidak seperti jenderal di medan tempur yang mengerahkan pasukan sementara ia hanya menonton di belakang. Tidak. la selalu maju memimpin murid-murid dan para pengikutnya dalam memperjuangkan kebenaran menurut keyakinannya. Bahkan, terkadang ia sendiri tampil melakukannya, sementara yang lain cuma mengamati dari jauh.

Sikapnya yang konsisten dan keberaniannya memberantas kemaksiatan didasari keyakinannya yang kuat bahwa Allah SWT niscaya akan membantu dan menolong orang-orang yang berjuang di jalan-Nya. Keyakinan itu semakin mantap, terutama karena langkahnya tidak hanya didukung oleh para santrinya, melainkan juga berbagai elemen masyarakat di sekitarnya, termasuk para tokohnya.

Meski demikian, tidak berarti ia bersikap semena-mena atau serampangan tanpa pertimbangan dan perhitungan matang. Sebelum bertindak, ia selalu menjalin komunikasi dengan berbagai pihak. Selain itu, ia terlebih dahulu juga memberikan peringatan kepada mereka yang menggelar praktik-praktik kemaksiatan. Jika peringatan itu tidak diindahkan, barulah ia mengambil tindakan. Memang tidak semua orang setuju. Terhadap orang-orang yang tak sepakat, jawaban Habib Ahyad singkat saja, “Anda lebih sayang kepada anak-anak Anda, atau kepada mereka yang membuka tempat-tempat seperti itu?”

Dalam melakukan dakwah dan mendidik masyarakat, ulama ini bukan tak pernah mengalami kendala. “Kadang-kadang kami didatangi bos – bos biliar yang membawa segepok duit,” tuturnya. Bukan hanya dengan cara halus, caracara keras pun sering dihadapinya. “Ini Arab sialan! Nanti kita bawain pistol aja, Bos,” katanya menirukan ucapan seorang preman kepada bosnya.

Itu semua hanya salah satu dari beberapa aktivitasnya. Itu pun terbatas di wilayah yang masuk dalam pengaruh-nya. la tak mau mencampuri wilayah orang lain. Paling-paling, ia mengingatkan dan memberi saran kepada para tokoh masyarakat yang bersangkutan. Selebihnya, ia serahkan kepada kebijaksanaan masing-masing. Dan sampai sejauh ini aktivitas – utama insinyur lulusan Institut Pertanian Bogor kelahiran 7 Juli 1969 ini ialah berdakwah dan mendidik masyarakat.

Menurut warga setempat , mereka merasa terayomi oleh kehadiran habib muda ini. Hal itu tiada lain disebabkan oleh upayanya yang sungguh-sungguh agar perbuatannya senantiasa sejalan dengan ucapannya. “Kalau saya menulis se suatu yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat, saya minta murid saya membaca dulu, lalu saya bertanya, “Menurut ente saya ini bagaimana?” Setelah membaca, muridnya bilang, `Ya, seperti yang antum tulis.’ Jadi, saya menghindari menulis atau menyampaikan sesuatu yang saya sendiri tidak mampu melaksanakannya. Kalau kita mengajarkan sesuatu yang kita enggak laksanakan, ilmu kita tidak bermanfaat, dan jauh dari hidayah. Kalau kita memberikan ilmu yang biasa kita amalkan, Insya Allah murid bisa menerimanya. Tapi kalau ceramah tidak disertai amal saleh, tentu tidak berwibawa”, katanya.

Siapakah tokoh muda yang disegani, yang selalu menjaga keseimbangan dalam berbagai hal ini? Ia, anak sulung dari lima bersaudara, putra-putri pasangan Habib Abdullah bin Umar bin Utsman Banahsan dan Syarifah Husna binti Ahmad bin Utsman Banahsan. Ayahnya, yang masih gagah dan energik dalam usia 60-an, juga dikenal sebagai ulama yang disegani. Ayah dan anak ini memang pasangan serasi, mereka berjalan beriringan dalam membina dan mengayomi masyarakat. Jika Habib Abdullah menjadi sesepuh bagi orang-orang tua, Habib Ahyad menjadi pemimpin anak-anak muda. Pada hari-hari tertentu, sang ayah menggelar pengajian untuk kaum bapak dan di hari lainnya untuk kaum ibu.

Habib Abdullah bin Umar Banahsan adalah orang yang sangat mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka semua, termasuk putri-putrinya, dibekali pendidikan yang memadai agar dapat menjalani kehidupan dan menghadapi tantangan zaman dengan baik. Semua didorong untuk menguasai ilmu. Uniknya, tidak seperti sebagian habib yang lebih cenderung memasukkan anak-anaknya ke sekolah agama, Habib Abdullah lebih memilih pendidikan umum bagi putra-putrinya, terutama untuk tingkat dasar. Salah seorang adik Habib Ahyad, Sayid Kamil, setelah menyelesaikan pendidikannya di jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UI menjadi dosen di almamaternya. Kini ia sedang menyelesaikan program doktornya di Jerman. Adik-adik Habib Ahyad yang lain semuanya juga menempuh pendidikannya dengan baik hingga jenjang perguruan tinggi. Mereka adalah Syarifah ‘Abidah, Syarifah Mahmudah, dan Sayid Syafiq.

Meskipun pendidikan anak-anaknya adalah pendidikan umum, tidak berarti ia tidak peduli akan bekal pendidikan agama bagi mereka. Justru ia benar-benar mengarahkan dan membina mereka secara langsung agar dapat menguasai ilmu agama, minimal untuk kebutuhan pribadi. Khusus bagi anak-anaknya yang diharapkan dapat berperan mendidik masyarakat, dorongan dan arahan yang diberikan lebih besar lagi.

Di antara anak-anak Habib Abdullah Banahsan, Habib Ahyad sejak masih duduk di bangku sekolah menengah memang telah menunjukkan kecenderungan yang kuat sebagai calon penerus kepemimpinan Ma’had AI-`Abidin, baik dari segi kecerdasan, minat keilmuan, semangat perjuangan, bakat kepemimpinan, maupun aspek-aspek lainnya.

Sejak kecil, di samping menjalani sekolah formalnya, ia juga terus membekali diri dengan ilmu-ilmu agama. Ketika masih duduk di bangku SD, tepatnya di SD PR V Pondok Bambu, Jakarta Timur, ia telah mulai serius mempelajari AI-Quran dan kitab-kitab dasar, seperti :

Kitab Sifat Dua Puluh, Irsyadul-Anam, Adabul-Insan, dan sebagainya kepada Ustaz H. Sanusi dan H. Musa. Kemudian ia belajar kepada guru-guru lain, termasuk kepada ayahnya sendiri dan kepada pamannya, Habib Fadhil bin Umar Banahsan.

Kepada ayahnya, ia mengaji kitab-kitab dasar yang menjadi standar di lembaga-lembaga pendidikan tradisional, di antaranya kitab Jurumiyah, Mukhtashar Jiddan, Kailani, Kafrawi, Kasyifatus-Saja, Kifayatul`Awam. Sebelumnya, kepada pamannya ia mempelajari berbagai kitab Maulid dan kitab Safinatun-Naja di samping terus mem-pelajari AI-Quran. Selain kepada mereka, di waktu kecil ia juga belajar kepada kakeknya, Habib Umar bin Utsman Banahsan dan kepada Syekhah Salamah binti Soleh (guru perempuan).

Di samping dari ayahnya, kitab-kitab dasar menengah ia pelajari juga dari Ustaz H. Abdullah, antara lain kitab Fathul-Qarib, Fathul-Majid, IbnuAqil. Setelah itu ia menimba ilmu dari K.H. Mundzir Tamam dengan mempelajari Shafwatut-Tafasir dan Asybah wan-Nazhair dan kepada Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaf dengan membaca Qaidah al-Asasiyah dan Tarikh Ibn Hisyam. Antara tahun 1996 sampai tahun 2000, ia mengaji kitab-kitab kepada K.H. Rodhi Soleh, yang pernah menjadi wakil rais am. Kepada ipar K.H. M.A. Sahal Mahfudh ini ia mempelajari kitab-kitab al-Manhalul-Lathif, Adabul – Alim wal-Muta`allim, Lathaiful-Isyarah, LubbulUshul, dan Faraidul-Bahiyyah.

Syafi’I Hadzami sejak tahun 1996 hingga kini, Habib Ahyad, yang menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMPN 51 dan kemudian SMAN 12 Jakarta, belajar kepada K.H. Drs. Saifuddin Amsir, yang kini menjadi salah seorang rais PBNU periode sekarang. Kepadanya ia mempelajari beberapa kitab, diantaranya Qawaidul-Lughah al-Arabiyyah dan Ushul al-Fiqh al-Islamiy. Sejak tahun 1983 ia juga menghadiri majelis Habib Syekh bin Ali Al-Jufri, yang memberikan pelajarannya di Masjid Al-Abidin.

Di samping itu, ia pun sering mengikuti majelis-majelis K.H. Syafi’i Hadzami, seorang ulama terkemuka, panutan kaum muslimin di Jakarta dan sekitarnya, utamanya pada pengajian-pengajian pasarannya di bulan Ramadan, di antaranya ketika membaca kitab Idhahul-Mubham dan kitab Jauharul-Maknun.

Ketika ditanya siapa di antara para gurunya yang paling berpengaruh dan berjasa baginya, ia menjawab, “Semua guru sama berjasa dan berpengaruhnya bagi perkembangan diri saya. Tetapi yang paling banyak membantu saya tentu saja aba saya.”

Habib Ahyad dibesarkan dalam dua kultur yang berkaitan erat, habaib dan nahdliyin. Sejak muda ayahnya adalah aktivis Anshor, bahkan sang kakek juga memiliki kedekatan dengan salah satu pendiri NU, K.H. A. Wahab Hasbullah, yang juga menjadi rais am sepeninggal K.H. Hasyim Asy’ari.

Mereka berdua juga menggerakkan kegiatan Ma’had AI-`Abidin, lembaga pendidikan di masjid dengan nama sama di Jalan Kol. Sugiyono, Sawah Barat, Duren Sawit, Jakarta Timur. Kegiatan utamanya pengajian anak-anak dan remaja yang diselenggarakan setiap malam, kecuali malam Jumat. Meskipun dilangsungkan di masjid, pelajarannya tidak kalah dibanding pelajaran di madrasah atau pondok-pondok pesantren. la berusaha mempertahankan tradisi dan sistem yang telah diwariskan oleh kakeknya, Habib Umar Banahsan. Beliau berasal dari daerah Mesteer Cornelis, yang sekarang lebih dikenal sebagai Jatinegara. Kemudian pada tahun 1935, oleh Ki Demang, beliau diminta pindah ke daerah Sawah Barat untuk mengajar warga setempat. Sawah Barat adalah sebuah wilayah yang masih masuk Kelurahan Pondok Bambu.

Murid-murid di pengajian ini sekarang jumlahnya sekitar 500 orang putra-putri di bawah bimbingan 50 orang guru. Mereka dibagi ke dalam kelas athfal (kanak-kanak) dan kelas lanjutan yang dibagi lagi menjadi lima tingkatan.

Untuk kelas-kelas athfal, para murid dibimbing oleh seorang guru; sedangkan untuk kelas-kelas berikutnya, mereka dibimbing oleh banyak guru, tergantung pelajarannya. Jadi, ada guru yang khusus mengajar fikih, tauhid, nahu, saraf, tarikh, dan sebagainya.

Selain melestarikan pendidikan agama yang memadukan sistem halakah dengan sistem madrasah, AI-Abidin juga menyelenggarakan pendidikan umum untuk jenjang TK dan SD dengan kurikulum Depdiknas, dan sudah berjalan hampir 10 tahun. Mengapa tidak membuka sekolah agama saja? “Kalau ada anak-anak yang mau mendalami agama, silakan datang ke Masjid Abidin. Jika pendidikan umum dan agama disatukan dibawah sebuah lembaga pendidikan, biasanya ada salah satu yang kalah,” kata Habib Ahyad.

Selain itu, menurutnya, sistem halakah punya kelebihan tersendiri. “Pendidikan halakah di masjid punya beberapa kelebihan. Kalau diadakan di kelas, kita kan harus membangun ruang kelas dulu. Kedua, murid-murid dengan bebas mengenakan kain sarung dan kopiah, sehingga bisa langsung salat berjemaah, bisa langsung mengikuti Maulid atau berzikir. Jadi, ilmu dan amal bisa berlangsung sekaligus. Sebab, masjidlah laboratorium yang sebenarnya. Kalau mereka sudah di situ, kan bisa langsung praktik,” katanya lagi.

Sasaran dakwahnya memang generasi muda. Apalagi, katanya, pemikiran orang tua sudah sulit diubah. “Saya baru 15 tahun terjun di masyarakat. Kebanyakan orang tua itu kan agak sulit kita ubah. Tapi, kalau anak-anak muda, setelah beberapa tahun kita ajak mengaji, Insya Allah ada perubahan. Lebih mudah lagi kalau kita menggarap anak-anak kecil, yang memang bisa menjadi lahan dakwah. Anak-anak kecil itu, seperti kata orang Betawi, pegimane maunye kite,” tambahnya.

Menurut perhitungannya, untuk mendidik anak muda diperlukan waktu 10 tahun agar mereka punya sebuah kesadaran, merasakan, dan menyadari ajaran agama sebagai kewajiban. Sedangkan untuk mendidik anak-anak, perlu waktu sekitar 20 tahun.

Namun, di lain pihak, cara Habib Ahyad yang keras dan berdisiplin dalam mendidik terkadang diprotes oleh sebagian orangtua murid. Tapi, karena orangtua yang mendukungnya lebih banyak, dan yakin bahwa cara yang ditempuhnya benar, ia tetap pada kebijakannya. “Sebenarnya ada sebagian orangtua murid yang pusing melihat kebijakan saya. Tapi, Alhamdulillah, Ayah, yang cukup berpengaruh di lingkungan sini, mendukung saya,” ujarnya.

Meskipun keras dalam mendidik, Habib Ahyad – ayah dua putri dari pernikahannya dengan Syarifah, Yuli Atikah Yahya pada 1994 – selalu mencoba mencari cara yang pas agar murid-muridnya tetap dekat dengannya. Salah satunya dengan menyelenggarakan kegiatan yang disukai anak-anak muda tapi tidak bertentangan dengan agama.

“Di Jakarta ini musuh dalam mendidik anak-anak ialah lingkungan dan pergaulan bebas. Untuk benar-benar memutuskan hubungan mereka dari hal-hal negatif itu, tentu cukup berat. Akhirnya, saya melakukan kan beberapa kegiatan yang ngepop. Misalnya, kompetisi sepak bola antar majelis taklim, juga camping setiap akhir tahun. Kalau tahun baru, kami biasanya ke pantai. Setelah salat Magrib dan Isya, kami ke pantai hingga pukul 02.00 dini hari. Itulah antara lain yang kami coba lakukan agar mereka tidak jenuh,” tuturnya.

Ulama dan mubalig muda ini tidak alergi politik. “Politik itu bagian dari perjuangan Islam, sebab Nabi dulu juga menjadi kepala negara. Kalau orang Islam enggak ngerti politik, berarti ada salah satu sisi ilmu Islam yang tidak ia ketahui. Islam kan lengkap, di dalamnya termasuk ilmu politik dan ilmu perang. Selain itu, kaum muslimin kan sudah memiliki jemaah. Baik NU, Muhammadiyah, maupun partai-partai Islam. Menurut saya, semua partai berbasis Islam itu bagus. Tinggal kita memilih mana yang paling tepat dan paling sesuai dengan jemaah kita,” ujarnya.

Habib Ahyad, dalam bidang ilmu, agama, dan dakwah, mengidolakan Sayid Muhammad bin Alwi AI-Maliki, Dr. Yusuf Qaradhawi, dan Syekh Muhammad AlGhazali. Sedangkan dalam politik dan perjuangan, tokoh favoritnya adalah pemimpin Revolusi Iran, Ayatullah Khomeini. “Saya mengidolakan beliau karena keberaniannya menegakkan kebenaran dan menentang negara adi-awwa daya yang zalim. Meski orang alim saat ini banyak, yang berani berjuang kan enggak banyak.”

Berbeda dengan banyak ulama dan mubalig muda, Habib Ahyad lebih banyak ber-dakwah dengan tindakan. Di samping memberi contoh, ia juga dikenal tegas bersikap ketika sesuatu yang menurutnya tidak benar.

“Saya cuma tidak ingin jarkoni,” katanya merendah. “MisaInya masa, saya nyuruh teman-teman tidak merokok sementara saya sendiri merokok?”

Bagaimana ia memandang kondisi Indonesia saat ini, khususnya kota Jakarta, yang sudah sarat dengan kemaksiatan? Bagaimana resep menghadapinya? “Menurut saya, setiap orang mendapat beban dari Allah SWT sesuai kedudukan, kekuatan, dan kemampuan masing-masing. Silakan masing-masing berkaca sampai di mana ruang lingkup yang Allah bebankan kepadanya. Lalu, masing-masing bekerja sesuai kemampuannya. Jika itu sudah dilakukan, selesailah tanggung jawabnya. Di lingkungan yang bagus ada tanggung jawab kita, di lingkungan yang jelek pun ada tanggung jawab kita,” katanya.

Tapi, ia tidak setuju jika dikatakan Jakarta sudah benar-benar rusak. Mengapa? Habib Ahyad menyatakan, “Kita wajib bersyukur karena

di Jakarta ada ribuan masjid, majelis taklim, dengan sekian ribu habib dan kiai. Memang, panti pijat, diskotek, bar, dan tempat-tempat maksiat lain juga banyak. Kalau dihitung, mungkin ada ribuan. Tapi, secara garis besar saya melihat, Jakarta ini bagus. Saya bersyukur dilahirkan di Jakarta. Mau mengaji, banyak gurunya. Mau salat, di mana saja bisa. Jadi, menurut saya, Jakarta itu kota yang bagus. Tapi, itu juga tergantung bagaimana orang memandangnya.”

Disinggung mengenai pola dakwah yang tepat untuk masyarakat Indonesia, ada yang keras tapi ada juga yang lebih toleran, Habib Ahyad dengan arif mengatakan, “Biar saja semua berjalan, karena dua-duanya perlu. Kadang-kadang umat memerlukan figur yang tegas tanpa kompromi seperti Habib Riziq, tapi suatu ketika umat juga memerlukan tokoh dengan pendekatan yang lembut dan toleran seperti Habib Alwi Shihab.”Habib Ahyad sendiri mengaku menempuh kedua jalan itu sesuai situasi dan kondisi yang dihadapi.

http://zulfanioey.blogspot.com/2010/10/ir-as-sayid-al-habib-ahyad-bin-abdullah.html

Habib Zeid bin Abdurrahman Bin Yahya

Upaya Melestarikan Khazanah Hadhramaut
Sampai kini masih banyak tersimpan kitab yang masih dalam tulisan tangan yang belum tercetak dan tersebar luas yang tersimpan di dalam rumah-rumah penduduk Hadhramaut.

Setiap orang hendaknya banyak beristighfar dan selalu mengingat dosa-dosa yang telah lewat dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi bagi setiap langkap kehidupannya ke depan. Betapa tidak. Setiap kali Rasulullah SAW usai mengerjakan shalat, yang pertama kali beliau ucapkan adalah istighfar, permohonan ampunan dari Allah SWT. Padahal, beliau suci dari dosa, setiap saat derajatnya naik di sisi Allah SWT, dan tidak ada yang lebih baik ibadahnya daripada beliau. Tapi beliau masih terus beristighfar terhadap segala sesuatu dari masa yang telah terlewat.

Demikian di antara yang disampaikan Habib Zeid bin Abdurrahman Bin Yahya, ulama muda dari Hadhramaut, saat mengunjungi pondok pesantren Habib Abdurrahman Bahlega Assegaf di Pasuruan, Jawa Timur. Hari itu, Ahad petang, 10 Januari 2010, kru alKisah pun berkesempatan berbincang-bincang panjang dengan salah satu anggota rombongan dakwah Habib Umar Bin Hafidz yang berkunjung ke Indonesia beberapa pekan silam. Kini, lewat lembaga bernama Markaz An-Nur, ia dipercaya untuk mengkoordinasikan upaya-upaya pelestarian khazanah peninggalan Hadhramaut, terutama kitab-kitab yang masih dalam bentuk tulisan tangan yang belum tercetak dan tersebar luas, atau kitab-kitab cetakan lama, termasuk juga majalah-majalah, yang terkait dengan dunia Arab secara umum maupun masyarakat Hadhramaut pada khususnya.

Untuk tujuan itu, ia datang ke Indonesia. Dan karena itu pula, di antara rombongan dakwah Habib Umar tersebut, ia sempat tinggal lebih lama beberapa hari di Indonesia, untuk melihat-lihat sejumlah kitab makhthuthat, atau tulisan-tulisan tangan yang belum tercetak, yang ada di Indonesia, untuk kemudian digandakan, dibawa, dan disimpan di Hadhramaut, demi kepentingan bersama. Apa yang dilakukannya itu memang merupakan aktivitas rutinnya saat ini.

Sekitar 100.000 Kitab
Habib Zeid mengungkapkan, sewaktu Yaman Selatan dikuasai oleh kekuatan komunis, kitab-kitab karya para ulama besar terdahulu yang masih belum tercetak banyak yang diambil dan dibakar oleh mereka. Itulah sebabnya banyak kitab Yaman, khususnya Hadhramaut, yang hilang. Hingga banyak di antara para ulama berpikir: daripada diambil mereka, lebih baik disimpan di dalam rumah-rumah sendiri, yaitu ditanam di dalam tanah.

Di akhir-akhir masa kekuasaan komunis di Yaman, penguasa tampaknya berubah haluan dalam memandang keberadaan kitab-kitab tersebut. Mereka bahkan membangun sebuah perpustakaan dan mengatakan bahwa kitab-kitab tersebut adalah warisan peninggalan orang-orang terdahulu yang harus dilestarikan. Banyak kitab yang kemudian dikumpulkan di perpustakaan, meskipun tak sebanyak kitab yang telah mereka musnahkan.

Yang ada di Hadhramaut saat ini tidak sampai sepersepuluhnya dari peninggalan sebelum masa kekuasaan komunis dulu itu. Sampai kini pun masih banyak tersimpan kitab yang masih dalam tulisan tangan yang belum tercetak dan tersebar luas yang tersimpan di dalam rumah-rumah penduduk Hadhramaut.

Markaz An-Nur, yang didirikan pada Muharram 1423 H/April 2002, saat ini sudah berhasil menyelematkan sekitar 6.000 kitab tulisan tangan karya ulama Hadhramaut. Di perpustakaan yang didirikan oleh pemerintahan komunis saat ini juga tersimpan kitab dengan jumlah yang kurang lebih sama, sekitar 6.000 kitab.

Selain Markaz An-Nur, di Hadhramaut juga banyak terdapat perpustakaan, seperti perpustakaan Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi di Ghurfah. Di perpustakaan itu, ada sekitar 600 kitab. Ada pula perpustakaan-perpustakaan kecil lainnya yang menyimpan ratusan kitab tulisan tangan.

Menurutnya, kitab-kitab tulisan tangan yang ada di Yaman secara keseluruhan – yang terbanyak adalah yang di Hadhramaut – diperkirakan mencapai sekitar 100.000 kitab. Dan ini menjadi tugas bagi Markaz An-Nur untuk mengumpulkannya, agar kelestariannya tetap terjaga.

Ketika ditanyakan kenapa kitab-kitab tersebut kebanyakan terdapat di Hadhramaut, yang notabene berada di Yaman Selatan, ia mengatakan, sekalipun pihak penguasa komunis berhasil menguasai Yaman Selatan dan sempat melakukan aksi-aksi pemusnahan kitab-kitab tersebut, dan tidak sampai berhasil menguasai Yaman Utara, mereka yang di Yaman Utara tidak menjaganya sebagaimana kaum Hadhramaut di Yaman Selatan menjaga kitab-kitab mereka.

Di Yaman Utara juga terdapat kitab-kitab tapi dalam jumlah yang lebih sedikit, seperti yang ada di perpustakaan Imam Zeid di Zabid dan pada sebuah perpustakaan di wilayah Hudaidah.

Kondisi kitab yang saat ini ada di Markaz An-Nur berbeda-beda. Ada yang lengkap, ada pula yang halamannya hilang. Karena itu belum semuanya dapat tercetak, harus dilengkapi bagian-bagian yang hilang itu.

Kitab-kitab yang telah dikumpulkan telah banyak yang dicetak. Tetapi mencetaknya tidak banyak. Untuk menutupi kebutuhan para pelajar di Hadhramaut saja sudah dapat dikatakan cukup.
Kitab-kitab tersebut mencakup berbagai macam bidang ilmu. Dari ilmu tasawuf sampai kedokteran. Hingga saat ini, sudah sekitar 400 judul kitab yang tercetak.

Semuanya Penting

Selain memiliki aktivitas padat untuk terus mengumpulkan khazanah lama peninggalan para ulama terdahulu yang harus terus dilestarikan, pandangan-pandangan sayyid muda yang ramah dan terpelajar kelahiran kota Aden tahun 1971 ini cukup menarik. Khususnya terhadap peran penting media sebagai salah satu alat bantu dakwah di tengah-tengah masyarakat.

Wasilah dalam dakwah adalah wasilah yang penting, termasuk fungsi media di dalamnya. Umat Islam harus dapat mengerahkan segala potensinya dengan menggunakan semua wasilah dalam berdakwah. Sebab, semua wasilah pasti memiliki manfaatnya masing-masing.

Dalam hal ini, cara yang paling utama dalam berdakwah adalah cara-cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Cara beliau adalah cara yang lebih berkah.

Selain cara-cara yang dicontohkan Rasulullah SAW, setiap cara berdakwah tidak diragukan juga memiliki keutamaan, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Kesemuanya penting untuk dilakukan.

Dakwah ala Nabi SAW di antaranya dengan berkhutbah menyampaikan taushiyah di hadapan orang banyak, murasalah (menyampaikan pesan-pesan tertulis kepada pihak-pihak tertentu), berakhlaq dengan akhlaq mulia di tengah-tengah masyarakat. Sementara berdakwah dengan metode baru seperti dengan media teknologi modern, termasuk media cetak dan elektronik.

Orang-orang yang sibuk dengan cara berdakwah yang baru, misalnya lewat jaringan internet dengan berbagai feature-nya seperti website, blog, facebook, jangan sampai meninggalkan cara terbaik dalam berdakwah yang dicontohkan Rasulullah SAW. Tapi juga jangan dilupakan cara-cara baru, karena semua cara dalam berdakwah penting untuk dijalani. Dengan berdakwah lewat metode yang dicontohkan Rasulullah dan juga dengan metode dakwah yang baru, diharapkan aktivitas dakwah dapat tetap berkah dan akan mengena di segala lapisan.

Pintu-pintu Dakwah

Habib Zeid menuturkan, seperti halnya majalah alKisah, kehadirannya adalah bagian dari metode dakwah yang baru. Tidak diragukan lagi, kehadiran majalah seperti alKisah ini adalah sesuatu yang sangat baik. Tinggal tergantung niatnya. Selama niatnya untuk berdakwah di jalan Allah SWT, akan mendapat ganjaran dan keberkahan yang luar biasa, yang akan didapat di dunia dan di akhirat.

Di negara-negara Arab pun terdapat majalah-majalah berisi informasi dakwah, seperti halnya alKisah ,yang menyampaikan kabar-kabar dakwah. Artinya, majalah semacam ini dapat dikatakan sebagai pintu-pintunya dakwah. Pintu-pintu dakwah itu banyak dan luas, serta tidak pernah tertutup.

Salah satu manfaat langsung yang dapat dirasakan, lihat saja, berapa banyak orang yang hadir di satu kesempatan acara tapi tidak mendengarkan ceramah yang disampaikan, atau mendengarkan tapi tidak dapat menangkap isinya. Belum lagi, jumlah orang yang tidak hadir pada sebuah acara yang penting untuk diperdengarkan tentunya jauh lebih banyak dari yang hadir. Alhamdulillah, dengan hadirnya majalah bernuansa dakwah seperti ini, orang yang tak hadir, orang yang tak mendengarkan, atau orang yang tak dapat menangkap isi suatu ceramah, bisa tetap mendapatkan isinya lewat bacaan seperti ini, yang dapat dibaca kapan pun dan di manapun.

Di akhir pembicaraan, Habib Zeid berharap agar majalah alKisah suatu saat nanti memiliki versi berbahasa Arab, tentunya dengan komposisi isi yang tidak harus sama persis dengan yang edisi berbahasa Indonesia. Dengan demikian, mereka yang di negeri Arab pun dapat membacanya. Setidaknya di website alKisah. Mungkin pula dilengkapi dengan bahasa Inggris, agar misi dakwah yang dibawa pun dapat lebih luas lagi cakupannya.

http://www.almuqorrobin-ungaran.blogspot.com/2011/03/habib-zeid-bin-abdurrahman-bin-yahya.html

Habib Umar bin Alawi bin Abi Bakar Al Kaff

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kita segala rahmat-Nya sehingga kita dapat merasakan ni'matnya iman, islam dan ihsan. Dan hanya dengan berkat pertolongan Allah swt saya dapat menyusun sebuah biografi salah seorang ulama yang asal Tarim Hadramaut pada abad ke 14 H, yaitu Habib Umar bin Alwi bin Abi Bakar Al-Kaff yang bergelar "Sibawaihi pada zamannya ", biografi ini saya kutip dari berbagai sumber, besar harapan saya semoga dapat berguna bagi saya pribadi dan pembaca sekalian.
Diantara hikmah ulama mengatakan : "Barangsiapa menulis manaqib atau biografi seorang wali karena Allah, maka dia akan beserta wali itu, dan barangsiapa membaca manaqib waliullah didalam kitab-kitab tarikh karena cinta terhadapnya, maka seakan-akan dia menziarahinya, dan barangsiapa menziarahinya diampuni dosanya selama dia tidak menyakiti wali itu dan menyakiti orang muslim yang ditemuinya dijalan".
Dan kata Mufti diyar al-Hadhramiyah Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (Penulis kitab Bughyah al-Mustarsyidin) : " seorang manusia tidak akan kenal terhadap tuhannya kecuali setelah ia mengenal nabinya,dan tidak akan kenal ia terhadap nabinya kecuali ia mengenal pendahulunya yang saleh wali Allah".
Salawat dan salam semoga tercurah dan terlimpah kepada nabi besar Muhammad SAW, karena dengan peninggalan beliau kita dapat mengambil warisan yang berharga melalui pendahulu kita dan guru-guru kita.
Saya ucapkan terimakasih atas kerjasama teman-teman dalam merealisasikan manaqib ini, dan terimakasih khusus saya ucapkan kepada guru kami yang mulia Al-Habib Idrus bin Umar Al-Kaff yang telah mengijazahkan (memberi ijazah sanad) seluruh kitab karangan ayah beliau kepada kami semoga Allah memanjangkan umur beliau sehingga kita senantiasa mengambil faidah darinya. Dan saya mohon maaf jika dalam penulisan manaqib ini terdapat kesalahan dan kekeliruan karena itulah sudah batas kemampuan saya. Akhirnya hanya kepada ALLAH kita memohon petunjuk, semoga kita dimudahkan jalan menuju kehidupan yang bahagia didunia dan akhirat kelak dan semoga apa yang saya persembahkan ini ikhlas karena Allah semata. Amien ya Robbal 'Alamien.
Hadramaut, 5 Safar 1429 H Penulis
M. Nuruddin (Aidin) bin Nurani al-Banjari MAHASISWA UNIVERSITA AL-AHGAFF AL-ALLAMAH AL-HABIB UMAR BIN ALAWI BIN ABI BAKAR AL-KAFF (Sibawaihi Zamannya)

Contents [hide]
1 Nasab dan Kelahiran beliau
2 Guru-gurunya
3 Akhlak dan Hidup bermasyarakat
4 Karya-karyanya
5 Murid-muridnya
6 Karamahnya
7 Wafatnya
Nasab dan Kelahiran beliau

Nasab beliau as-Sayyid al-Imam al-Allamah al-Habib Umar bin Alwi bin Abi bakar bin Ahmad bin Abdurrahman bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad (al-Kaff) bin Muhammad bin Ahmad bin Abu bakar bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad (Shahib al-Mirbath) bin Ali (Khali' al-Qasam) bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir bin Muhammad bin al-imam Ali al-'Uraidhi bin Ja'far Asshadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal 'Abidin bin Husain as-Sibth bin Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatina Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW.
Beliau dilahirkan di kota Tarim al-Ganna' pada tanggal 8 Rabi'ul awwal 1325 H, dari orang tua yang mulia yang bernama Habib Alwi bin Abu bakar bin Ahmad al-Kaff dan Syarifah Alawiyah binti Ahmad bin Alwi as-Sari.
Pada masa kecilnya beliau ditinggal ayahnya berimigrasi ke wilayah Asia, dan pada masa kanak-kanak beliau ditinggalkan oleh ibunya yang tercinta pergi untuk selamanya, sehingga beliau pertama kalinya dididik dan dibesarkan dibawah asuhan kakek beliau ayah dari ibu yaitu seorang wali yang saleh Habib Ahmad bin Alwi as-Sari (yang menurut keterangan dari kaum shalihin Habib Ahmad as-Sari ini memiliki hal ihwalnya al-Faqih al-Muqaddam). Beliau selalu mengarahkan cucunya untuk belajar mengambil manfaat ilmu dari para guru dan ulama yang saleh di Tarim dan sekitarnya, juga selalu memperhatikan dan membimbing dengan penuh kasih sayang, sehingga beliau ini sangat berkesan dikehidupan cucunya, oleh sebab itu tidak diragukan lagi beliau adalah " Syekh al-Fath " cucunya ini.
Diriwayatkan :
لولا المُربِّي ماعرفتُ ربِّي " jika seandainya tidak ada murabbi (pembimbing) maka aku tidak akan kenal tuhanku " <r> Jalan pendidikan sayyid Umar ini dimulai dari belajar al -Qur'an, membaca dan menulis di salah satu madrasah favorit dikota tarim yaitu "Madrasah 'Ulmah Bagharib" kemudian pindah ke madrasah "Jam'iyatul Haq" (yang dirintis tahun 1334 H), madrasah ini mempunyai metode atau kurikulum pelajaran yang sangat padat dalam konsentrasi keilmuan islam dan bahasa melebihi madrasah lain.
Sebagai ekstrakurikuler, ia berpindah-pindah antara Rubath dan Zawaya dalam rangka mempelajari berbagai ilmu yang berbeda dari para ulama dan pakar terkemuka. Dan demi sebuah penguasaan disipilin ilmu ia tidak jarang berusaha untuk betul-betul Tahqiq dalam suatu pembahasan.
Di masa-masa dahaga akan ilmu hampir seluruh waktunya hanya digunakan untuk ilmu, bergadang adalah suatu rutinitas kesehariannya guna mengulang dan mempelajari kitab. Disamping selalu berdiskusi dengan para ulama, sampai akhirnya beliau mahir dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti Nahwu (Gramatikal Arab), Sharaf, Balaghah, Fiqh, Tafsir, Tarikh, ilmu Nasab sehingga melebihi teman-temannya.

Guru-gurunya

Guru beliau dapat dikatagorikan banyak, sebab sejak masa kecilnya sudah belajar dengan ulama kaliber Tarim, juga dengan para ulama dari berbagai penjuru yang datang ke Tarim untuk ziarah.
Diantara guru-guru beliau:
• Al-Habib Al-Allamah Ahmad bin Alwi as-Sari.
• Al-Habib Al-Allamah Abu Bakar bin Muhammad bin Ahmad as-Sari Jamalullail.
• Syekhul Islam Al-Habib Al-Allamah Abdullah bin Umar bin Ahmad as-Syatiri.
• Al-Habib Al-Allamah Ahmad bin Umar bin Awad as-Syatiri.
• Al-Habib Al-Allamah Alwi bin Abdullah bin Syihab.
• Al-Habib Al-Allamah Alwi bin Abdurrahman al-Masyhur.
• Al-Habib Al-Allamah Ali bin Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur.
• Al-Habib Al-Allamah Abdullah bin Idrus Al-Aydrus.
• Al-Habib Al-Allamah Abdul bari bin syekh Al-Aydrus.
• Al-Habib Al-Allamah Salim bin Hafidz bin Syekh Abi Bakar.
• As-Syekh Al-Allamah Abi Bakar bin Ahmad al-Khatib.
• As-Syekh Al-Allamah Muhammad bin Ahmad al-Khatib.
• As-Syekh Al-Allamah Taufiq Faraj Aman.
Beliau juga mempunyai guru-guru tabarruk (ambil berkah) diantaranya :
• Al-Habib Al-Allamah Ali bin Muhammad al-Habsyi ( shahib simthuddurrar ).
• Al-Habib Al-Allamah Ahmad bin Hasan al-Attas.
• Al-Habib Al-Allamah Muhammad bin Hadi as-Seqqaf.
• Al-Habib Al-Allamah Ahmad bin Abdurrahman as-Seqqaf.
• Al-Habib Al-Allamah Abdurrahman bin Ubaidillah as-Seqqaf dan lain-lain. Sedangkan karirnya sebagai guru di Rubath Tarim di tahun 1340 H setelah Shubuh dan Maghrib, dan tiap pagi di madrasah al-Kaff sampai madrasah ini digabung dengan madrasah al-Ukhuwah Wal Mu'awanah.
Beliau juga memimpin pelajaran di kubah keluarga besar Abdullah bin Syekh al-Aydrus pada tahun 1376 H dalam fan nahwu, fiqih dan tafsir sampai wafat beliau.
Di tengah kesibukan mengajar antara rubath dan madrasah, rumahnya juga selalu terbuka untuk para pelajar, sehingga seluruh waktu digunakannya untuk ilmu dan mengajar dari fajar sampai malam.
Gregetnya yang luar biasa untuk menyebarkan ilmu sehingga tak ayal waktu bepergian pun digunakan untuk mengajar. Tepatnya waktu beliau pergi untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun 1415 H (haji yang kedua kalinya), Sayyid Abdul Qadir bin Salim bin Alwi al-Khirid meminta waktunya untuk mengajarkan sebagian pelajaran nahwu dan fiqih kepada anak dan para muridnya, juga para pelajar yang ada di Jeddah, maka dengan senang hati beliau kabulkan permintaan tersebut tanpa ragu-ragu. Dan mereka berdatangan pada waktu pagi ke kediaman beliau, demikian itu berlangsung selama tiga bulan lebih, sehingga banyaklah yang mereka ambil dari beliau baik ilmu maupun adab.
Mereka yang belajar kepada beliau di Saudi arabia ini sangat banyak, kalangan ulama Makkah lebih khusus kalangan imigran Hadhramaut dan Jeddah yang berdomisili disana, diantara mereka adalah menantunya yang juga putra dari gurunya yaitu As-Sayyid Al-Allamah Muhammad bin Ahmad as-Syatiri (pengarang Syarh Yaqut an-Nafis), Al-Imam Al-Allamah Ahmad bin Masyhur al-Haddad dan Imamnya ulama khalaf pengganti ulama salaf Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad as-Seqqaf.
Pada suatu acara kumpulan ulama di Jeddah, para pemuka dan pemudanya dimana dalam acara itu hadir Al-Habib umar al-Kaff ini, Habib Abu Bakar Aththas bin Abdullah al-Habsyi berkata : Wahai para pemuda (pelajar)….bahwasanya ulama salafushalih yang ada di Tarim telah mengutus sebagian dari mereka yaitu Al-Habib Umar bin Alwi…kepada kalian supaya dapat menikmati dengan memandangnya bagi mereka yang tidak pernah pergi ke Hadramaut, pandanglah beliau dan beliau akan memandang kalian agar terjalin hubungan dengannya, sungguh ulama salaf telah mengirimnya untuk hal yang penting ini bukan karena untuk haji sebab beliau sudah haji pada tahun yang lewat ".
Ketika beliau berada di Jeddah ini juga datang ziarah ke kediaman beliau, Al-Allamah Habib Prof.DR Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani membaca kitab dihadapan beliau juga mengijazahinya.
Cara beliau dalam menyampaikan pelajaran sangat menyenangkan hati dan menarik jiwa pendengarnya, memberikan penjelasan dengan ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits nabawi serta dengan bait-bait sya'ir disamping itu juga diselingi dengan ilmu yang langka dan kisah-kisah yang berkesan. Kepiawaian dalam mentransfer maklumat kepada hati para pendengarnya, ini bisa dilihat ketika beliau menerangkan "Alfiah ibn malik" dalam ilmu nahwu terlihat beliau asyik tenggelam dalam menerangkannya hampir-hampir menetes air liur beliau karena sangat asyiknya menerangkan kitab tersebut, beliau berbicara (mengajar) beberapa jam lamanya tanpa memandang kitab, kiranya tidak ada yang menyainginya dibidang ilmu ini, tidak heran bila beliau digelari "Sibawaihi" pada masanya.
Sayyid Husain bin Idrus Aided bercerita : "Sudah dikenal bahwa guru kami (Habib Umar al-Kaff) menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyebarkan ilmu dengan penuh kemurahan sampai wafatnya, seluruh kegiatannya untuk kajian dan diskusi keilmuan, benar-benar beliau telah menunaikan kewajibannya yang sangat sulit; karena beliau termasuk orang yang berkompeten dalam bidang ilmu bahasa Arab (ilmu alat), meski sangat dalam dan sulitnya ilmu itu beliau mampu menguasainya dan menyajikan kepada murid-muridnya sesuai dengan selera sehingga beliau digelari " Sibawahi " zamannya".
Ia telah mempersembahkan sesuatu yang indah dan mahal harganya dalam menjalankan kepentingan ilmu dengan jalan lebih utama, tidak menjadikan ilmu itu sebagai usaha untuk mencari penghasilan alias sisi materi dunia belaka, bahkan ia menjadikan para pelajar sebagai tamu kehormatan di rumahnya dan menyuguhkan kepada mereka beberapa jamuan, sebagai motivator mereka dalam menuntut ilmu, lebih lagi ketika dipadu dengan hikayat-hikayat serta dan diselingi humor, untuk memberi semangat kepada mereka, metode ini merupakan metodologi pendidikan yang benar dan tepat.
Ketika sudah berusia lanjut ia mengadakan pelajaran nahwu, fiqh dan sejarah di kediamannya pada tiap sore ahad, mayoritas (kebanyakan) ulama, pemuka dan pemuda tarim saat itu ikut serta melahap hidangan intelektual itu.

Akhlak dan Hidup bermasyarakat

Ia dikenal begitu rendah diri, tidak suka pamer dan popularitas, bahkan beliau memandang diri beliau sendiri paling rendahnya manusia dalam ilmu dan amal, tidak menyukai perkataan yang sia sia dan berceloteh. Apabila berkata tidak lain kecuali perkataan yang berfaedah dan dengan susunan kata yang menyenangkan para pendengarnya.
Apabila menegur suatu perbuatan yang jelek maka dengan teguran yang sopan, berbudi dan mendidik. Maksudnya apabila beliau melihat seseorang berbuat sesuatu yang jelek maka beliau tegur (biasanya kalau seorang ayah/guru melihat anak/muridnya berbuat sesuatu kejelekan maka ia akan menegurnya dengan kasih tidak dengan kasar), apabila menasehati maka dengan jalan yang meyakinkan, mempunyai sifat yang terpuji serta lisan yang selalu basah dengan zikir baik di rumah ataupun di jalan, sebagaimana dikatakan murid beliau sayyid Husain Idrus Aided : Habib Umar memiliki akhlak yang tinggi, tidak pernah memberi tahu orang yang duduk bersamanya bahwa ia berilmu yang tinggi atau mempunyai kemuliaan yaitu kemuliaan yang menarik perhatian orang disekitarnya dan mengumpulkan pengikut dibelakangnya (biasanya kalau orang itu mulia dan punya pengaruh ia banyak punya pendukung/pengikut), inilah puncak daripada kerendahan hati.
Sopan santun dan manisnya perkataannya juga diakui oleh para pribadi yang nota bene tidak sepaham dengannya, diceritakan oleh putranya yaitu Sayyid Idrus Umar al-Kaff : " Saat aku bersamanya (Habib Umar) dirumahnya tiba-tiba datang salah seorang pegawai pemerintah dan bersamanya seorang orientalis asal Jerman yang kebetulan seorang sejarawan, bertujuan ingin meminta keterangan tentang sejarah hidup komunitas ibadhiyin di Tarim pra perkembangan golongan alawiyin, maka beliau menjawab dengan jawaban yang ilmiah dan logis, dengan gaya bahasa yang luar biasa dari sisi Nahwu, Sharaf dan Balagah. Sebagaimana beliau juga adalah referensi dalam ilmu sejarah khususnya biografi para ulama salaf bani Alawi dan lainnya".
Walhasil, rendah diri dan kecintaan terhadap penuntut ilmu sekaligus selaku motivator mereka dalam belajar merupakan "warisan" dari keluarga dan salafus shalihnya, tidak heran bila tiap orang yang datang atau duduk bersama beliau menjadi senang. Inilah karakteristiknya yang seyogyanya menjadi cermin teladan bagi generasi sekarang lebih spesifiknya para ulama (jangan hanya karena perbedaan pendapat lalu menjadi ajang perang hina ini bukan ulama sebenarnya, Wallahua'alam)
Sayyid al-Fadhil Abdul Qadir bin Abdurrahman al-Junaid - ketika menyebutkan biografi guru-gurunya dalam kitabnya "Durr al'Uquud al Jahizah" mengkategorikan Habib Umar al-Kaff ini sebagai guru utamanya, dalam kajian kitab Minhaj (fiqh) dan Alfiah (nahwu) : Ketika para guru habib Umar wafat, kepemimpinan ulama di Tarim jatuh ke tangannya dan jadilah beliau sebagai orang yang diutamakan dalam majelis ilmu dan aktifitas relegius (keagamaan) lainnya.
Adapun kegiatan sosialnya sangat banyak, seperti mendamaikan orang yang berseteru, menikahkan orang, menuliskan wasiat, membagi harta warisan dan membantu melepaskan segala kesusahan umat dsb. Beliau memimpin majelis fatwa di kota Tarim dari tahun 1410 – 1411 H.
Beliau mempunyai jangkauan yang luas dalam silaturrahim, membantu orang yang berhajat, menolong orang yang memohon pertolongan, menjenguk orang yang sakit dan yang lanjut usia, tidak pernah terlambat kalau diundang dalam suatu perkumpulan ataupun acara penting, selalu aktif menghadiri majelis khusus atau umum walaupun usia beliau sudah lanjut, dengan dibantu murid-murid beliau atau ulama Tarim untuk menghadiri tersebut seperti al-Allamah Syekh Fadhl bin Abdurrahman Bafadhal, Sayyid Abdullah bin Muhammad bin Syihab dan Sayyid Ali Masyhur bin Muhammad bin Hafizh.
Karya-karyanya

Beliau menguasai berbagai bidang ilmu sebagaimana telah tersebut sehingga banyak pula karangan beliau diantaranya : Khulashat al Khabar, al-Faraid al Jauhariah, Tuhfata al Ahbab, Assharhul Mumarrad Wafakhrul Muabbad, Mawahib al Quddus, al Khabaya Fi az-Zawaya, Irsyad at-Thalib an-Nabiih, Atthib al Anbari, dan Ta'liqat 'Ala Alfiah ibnu Malik.
Murid-muridnya

Muridnya terhitung sangat banyak karena tidak ada dari ulama Tarim yang tidak pernah belajar kepadanya, bahkan bukan dari Tarim saja yang belajar kepada beliau, melainkan juga dari berbagai kota di Hadramaut khususnya dan Yaman pada umumnya dan luar Yaman.
Diantara mereka yang termasuk murid mutaqaddimin (terdahulu) adalah:
• Al-Allamah Habib Salim bin Thalib al-'Athas.
• Al-Allamah Habib Muhammad bin Salim bin Hafizh.
• Al-Allamah Habib Muhammad bin Alwi bin Syihab.
• Al-Allamah Habib Salim bin Alwi al-Khirid.
• Al-Allamah Habib Hamid bin Abdul Hadi al-Jailani dan lain-lain.
Diantara murid beliau yang termasuk mutaakhirin (masanya dibelakang dari masa mereka diatas) adalah :
• Habib Abdullah bin Muhammad bin Syihab (sesepuh ulama Tarim).
• Anak beliau sendiri as Sayyid al-Fadhil Idrus bin Umar al-Kaff (Ketua umum administrasi fakultas Syari'ah Universitas al-Ahqaff Tarim).
• Almarhum mufti Tarim Syekh Fadhl bin Abdurrahman Bafadhal (Guru di Rubath dan Dosen fakultas Syari'ah Universitas al-Ahgaff).
• Al-Allamah Habib Prof.DR.Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani Makkah.
• Al-Allamah al-Mufti Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Hafizh (Ketua majelis fatwa Tarim sekarang dan pendiri sekaligus pengasuh pesantren Darul Mustafa).
• Habib Umar bin Muhammad bin Hafizh (Dekan Pondok Pesantren Darul Mustafa).
• Habib Zein bin Ibrahim bin Smith (Pengasuh Rubath di Madinah Saudi Arabia).
• Habib Salim bin Abdullah bin Umar as-Syatiri (Pengasuh Rubath Tarim).
• Habib Abdul Qadir Jailani bin Salim al-Khirid Jeddah.
• Habib Husain bin Idrus Aided (Dosen fakultas Syari'ah Universitas al-Ahqaff) dan lain-lain.
Karamahnya

Bagi tiap-tiap amaliah dan mujahadah itu ada buahnya, dan buahnya amal adalah istiqamah dan nampaknya karamah. Sebagaimana dikatakan oleh ulama salaf : الإستقامة أعظمُ الكرامة "Istiqamah adalah sepaling besar karamah "
Mereka para ulama seperti Habib Umar bin Alwi al-Kaff ini sejak lahirnya sampai wafatnya sudah mencapai tingkatan pendidikan, ilmu, amal dan pergaulan dengan para ulama yang saleh serta menjauhi kemewahan duniawi.
Karamah atau sesuatu yang tidak sesuai dengan adat kebiasaan manusia bukanlah tuntutan juga bukanlah puncak dari amal yang dikerjakan, akan tetapi sebagai tanda kebenaran hubungan mereka dengan tuhannya. Sehingga jika seandainya tidak nampak pada mereka suatu karamah, maka jalan hidup mereka menuju keridhaan Allah yang maha kuasa dengan adab dan akhlak yang baik sudah merupakan kemulian yang besar melebihi karamah.
Dalam manaqib yang singkat ini tidak disebutkan karamahnya, karena tidaklah tujuan kita dalam menulis manaqib ini untuk memasyhurkan atau memperkenalkan seorang wali dengan karamahnya, melainkan untuk memperkenalkan kepada anak cucu kita tentang pemeliharan dasar-dasar syari'at islamiyah dan menekankan tingkatan edukatif (pengajaran atau pendidikan), sebagaimana yang dijalani oleh mereka karena itulah tujuan dari syari'at Nabi Muhammad SAW.
Wafatnya

Pada hari senin 26 Jumadil Awwal 1412 H, beliau berpulang ke rahmatullah dalam keadaan sehat tanpa diawali sakit, karena waktu itu beliau mau bersiap-siap untuk menyambut tamu dalam acara tasmiyah (pemberian nama) salah satu cucu beliau, maka setelah bersuci, memakai pakaian dan harum-haruman, ruh beliau diambil oleh yang Maha Kuasa dalam keadaan syahadah dan zikir.
Wafatnya beliau merupakan suatu kesedihan yang amat mendalam bagi rakyat Yaman dan umat islam umumnya. Surat dan telegram datang dari berbagai tempat sebagai ucapan bela sungkawa. Jenazah beliau dishalatkan di Jabanah yang diimami oleh Habib al-Quthb Abdul Qadir bin Ahmad as-Seqqaf, seluruh masyarakat Tarim ikut menshalatinya dan juga masyarakat sekitarnya seperti Seiyun, Syibam dan lain-lain. Kemudian jenazah beliau diantar keperistirahatan terakhir yaitu maqbarah Zambal (pemakaman para sadah bani Alawi dan para wali) dengan meninggalkan anak dua putra dan empat putri. Sebelumnya diceritakan bahwa Habib Abdul Qadir bin Ahmad as-Seqqaf ingin berangkat ke Aden tatkala beliau berada di Seiyun tapi selalu ada halangan tidak jadi berangkat, sehingga beliau menerima berita duka wafatnya Habib Umar al Kaff, barulah setelah itu beliau bisa berangkat ke Aden untuk kembali ke Jeddah Saudi Arabia setelah menghadiri pemakaman habib Umar ini. Kemudian masyarakat Tarim mengadakan acara tahlilan dan Ta'bin (kenang jasa) terhadap beliau setelah 40 hari dengan besar-besaran.
Sekian sekapur sirih tentang biografi salah seorang ulama Tarim, semoga kita dapat mengambil intisarinya dan bermanfaat untuk kehidupan kita. Aamiin ya Rabbal 'alamin. 

Disarikan dari berbagai sumber.

http://wiki.aswajanu.com/Habib_Umar_bin_Alawi_bin_Abi_Bakar_Al_Kaff