Rabu, 08 Januari 2014

ISYARAT KEWAFATAN SAYYID MUHAMMAD BIN ALWI AL-MALIKI

a.      Detik-detik Kewafatan Abuya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki

Al-Habib Hamid bin Zaid pernah menempuh pendidikan di Pesantren Darul Mustafa (Hadramaut Yaman) dan telah menikah dengan adik perempuan istri Sayyid Muhammad al-Maliki. Seminggu sebelum Ramadhan 1425 H, Habib Hamid menerima telepon dari Sayyid Muhammad al-Maliki di Mekah dan memintanya supaya datang ke Mekah untuk umrah dan menemuinya. Habib Hamid memenuhi undangan tersebut dan bersama istrinya segera mempersiapkan segala keperluan untuk keberangkatannya. Tiket dan visa sudah diurus oleh biro perjalanan yang ditunjuk Abuya (panggilan hormat untuk Sayyid Muhammad al-Maliki).

“Saya hanya mengurus paspor. Seluruh biaya juga ditanggung Abuya”, kata Habib Hamid.

Hari kedua Ramadhan, Sayyid Muhamad al-Maliki kembali meneleponnya. Beliau meminta Habib Hamid untuk segera terbang ke Mekah. “Kamu harus cepat menyelesaikan urusanmu, segeralah terbang ke Mekah”, pinta Sayyid Muhammad al-Maliki terkesan agak cemas.

Hari keempat Ramadhan, kembali beliau menelepon untuk memastikan Habib Hamid dan istrinya jadi berangkat. “Ketika itu Abuya bilang agar saya langsung saja terbang ke Madinah untuk berziarah ke Makam Rasulullah Saw. dan shalat di Masjid Nabawi. Sekali lagi, saat itu, beliau meminta agar secepatnya sampai di Mekah.”

Tepat pada 5 Ramadhan 1425 H, Habib Hamid dan istri terbang menuju Madinah. Di bandar udara, dijemput oleh salah seorang murid Sayyid Muhammad al-Maliki dan membawanya ke hotel yang telah disediakan. Dua hari di Madinah, kemudian terbang ke Mekah. “Saya sampai di Mekah pada tanggal 8 Ramadhan dan langsung istirahat di hotel yang disediakan Abuya. Sorenya baru dijemput oleh Habib Isa bin Abdul Qadir, salah satu murid beliau untuk menemui orang yang paling saya kagumi, Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani. Sungguh tegang dan jantung berdetak lebih keras dari biasanya.”

Sore itu, seusai sholat Asar, Abuya menerima Habib Hamid di ruang kerjanya. “Beliau memelukku, mengucap selamat datang dan bertanya kabar teman dan muridnya di Indonesia, seperti Habib Abdurrahman Assegaf (Bukit Duri), Habib Abdullah al-Kaf (Tegal), KH. Abdullah Faqih (Langitan) dan ulama lainnya. Saya jawab semua baik-baik saja. Setelah itu saya kembali ke hotel. Beliau pesan, agar nanti berbuka puasa bersama dengannya”, kenang Habib Hamid.

Ketika saat berbuka puasa hampir tiba, utusan Sayyid Muhammad al-Maliki menjemput Habib Hamid. “Hamid, apa yang kau bawa dari Indonesia?” Tanya Abuya tiba-tiba, saat Habib Hamid masuk ke ruang kerjanya.

“Saya membawa dodol durian kesukaan Abuya.” jawab Habib Hamid.

Wajah Sayyid Muhammad al-Maliki tampak gembira sekali. Beliau langsung membagikan oleh-oleh itu kepada teman-teman dan muridnya yang ada di situ. Beliau juga langsung mencicipinya saat buka puasa tiba.

“Ada titipan lagi buat saya?” tanya Abuya lagi.

“Ya, saya membawa buah mangga dan kelengkeng”

Dahi Abuya berkerut. “Kelengkeng? Buah apa itu?” tanya beliau.

Habib Hamid menjelaskan buah kelengkeng dan meminta beliau mencobanya. “Abuya tampak suka sekali buah itu, dan memakannya sampai menjelang shalat Isya.” Tutur Habib Hamid.

Malam itu, tepat malam tanggal 9 Ramadhan 1425 H, Habib Hamid berkesempatan shalat Isya dan Tarawih berjamaah bersama Sayyid Muhammad al-Maliki. Saat itu ikut berjamaah beberapa ulama dari Turki, Mesir dan beberapa negara lain. Tiba-tiba Sayyid Muhamad al-Maliki memanggil Habib Hamid.

“Hamid bin Zaid, kamu jadi imam Tarawih!” kata Sayyid Muhammad al-Maliki. Habib Hamid tidak merasa namanya yang dipanggil, sebab ia merasa tidak mungkin ditunjuk menjadi imam. Sementara di situ banyak ulama besar yang pasti lebih layak menjadi imam shalat Tarawih.

Sekali lagi Sayyid Muhammad al-Maliki memanggil Habib Hamid. “Hamid bin Zaid, kamu yang akan menjadi imam.”

“Sulit dipercaya, saya yang masih muda ini ditunjuk menjadi imam. Sementara di belakang saya ada Abuya dan ulama-ulama besar yang disegani. Sungguh, saya gemetar. Membaca surah al-Fatihah yang biasanya lancar di luar kepala pun, menjadi terasa sangat sulit. Alhamdulillah, saya mampu melewati ujian berat itu dengan baik, meskipun harus gemetaran.” Habib Hamid melanjutkan ceritanya.

Selesai shalat Tarawih, Sayyid Muhammad al-Maliki membaca shalawat dan qasidah. “Menurut murid-muridnya, setiap Ramadhan, seusai shalat, beliau selalu membaca Qasidah Sayyidah Khadijah al-Kubra. Beliau juga sering berziarah ke makam istri pertama Nabi Saw. bersama keluarganya. Sebelum meninggalkan masjid, beliau memanggil dan menyuruh saya umrah malam itu juga.”

“Sebelum saya berangkat umrah, Abuya sempat menanyakan keadaan Indonesia. Beliau ingin berkunjung ke Indonesia, bertemu dengan para ulama dan murid-muridnya. Tapi wakyunya belum tepat, beliau bilang, kesibukan menulis buku dan pertemuan dengan para ulama Mekah, sangat menyita waktunya.”

Pada 10 Ramadhan, kembali Abuya memanggil Habib Hamid untuk shalat Tarawih bersama dan untuk kedua kalinya menyuruhnya umrah. “Ajaklah istrimu untuk umrah dan kembalilah untuk shalat Shubuh berjamaah, pesan Abuya sebelum saya berangkat umrah. Saya pun berpamitan sambil meminta izin untuk pergi ke Jeddah, sekadar silaturrahim ke saudara-saudara istri saya. Abuya hanya memberi izin dengan isyarat tangan dan wajah menunduk. Saya merasa, beliau tidak ingin mengizinkan saya pergi, tapi juga tidak ingin mencegah. Saya akhirnya memutuskan untuk tidak pergi ke Jeddah.”

Pagi hari tanggal 11 Ramadhan, Habib Hamid shalat Shubuh bersama bersama Sayyid Muhamad al-Maliki. Beliau terkejut saat saya berada di sampingnya. “Kamu tidak jadi pergi ke Jeddah?” tanyanya.

“Tidak Abuya”, sahut Habib Hamid.

“Bagus!” jawab Abuya sambil memeluknya.

Malamnya, seperti hari sebelumnya, Habib Hamid berjamaah shalat Tarawih yang diakhiri dengan membaca qasidah Sayyidah Khadijah al-Kubra. Malam itu juga, Habib Hamid mendapat perintah Sayyid Muhammad al-Maliki untuk umrah yang ketiga kalinya.

“Pada 12 Ramadhan, selesai shalat Isya, Abuya menyuruhku untuk umrah yang keempat kalinya. Katanya, itu adalah umrah terakhir atas perintahnya. Perasaan saya memang tak enak saat beliau mengatakan itu. Ah, mungkin beliau punya rencana lain untuk saya besok.”

Rabu 13 Ramadhan, untuk kedua kalinya, Habib Hamid ditunjuk menjadi imam Tarawih oleh Sayyid Muhammad al-Maliki. Saat itu jamaahnya sekitar 200 orang, sebagian besar adalah tamu-tamu Abuya. “Malam itu, beliau merasa letih dan kakinya kesemutan.”

Di luar kebiasaan pula, kali ini, Abuya tidak membaca sholawat dan qasidah. Beliau meminta murid-muridnya, Bilal, Burhan, Aqil al-Aththas dan satu murid asal Kenya, membacakan secara bergantian. Sayyid Muhammad al-Maliki kelihatan sangat lelah. Maklum terkadang selama hampir 24 jam terjaga. Tamunya tak pernah berhenti mengalir, dan di sela waktu luangnya, masih tekun menulis dan membaca buku. Perpustakaan di rumah tinggalnya sampai membutuhkan tiga lantai. Kamarnya juga penuh dengan buku. Selain itu, beliau juga suka berkebun, tanahnya luas. “Abuya juga punya kebun buah yang cukup luas.” Kata Habib Hamid.

Akhirnya, Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki masuk rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Menurut dokter, kondisinya cukup baik, hanya perlu istirahat di rumah sakit. Pada kamis 14 Ramadhan, istri dan keluarga beliau menjenguk. “Apa kabar Hamid bin Zaid, kamu betah di sini?” tanya Abuya ambil memandangku. Seperti biasanya, wajahnya kelihatan gembira, tidak seperti orang yang sedang sakit.

“Kami tidak lama di rumah sakit, karena istri dan anak-anak Abuya akan berziarah ke Ma’la, ke makam Sayyidah Khodijah al-Kubra. Ziarah kali ini aneh. Biasanya istri Abuya tidak pernah turun dari mobil. Beliau membaca sholawat dan qasidah dari dalam mobil. Eh, hari itu beliau dan semua anggota keluarga bersama-sama membaca al-Fatihah di makam istri pertama Rasulullah Saw.” ungkap Habib Hamid.

Malamnya, murid dan kerabat beliau berkumpul di rumah akit. Wajah beliau tidak berubah, tetap gembira, seperti tidak sedang sakit. “Sekitar jam 20.00. dokter datang, dan mengatakan Abuya sudah sembuh. Kami semua memekik, Allahu Akbar!”

b.      Saat Bulan Purnama Tersaput Awan

Di luar rumah sakit sesaat kemudian, Sayyid Muhammad al-Maliki meminta izin kepada dokter untuk menengok keluarga dan murid-muridnya. Tepat jam 00.00, beliau keluar dari rumah sakit. Sebelum masuk ke mobil, Abuya menghadap ke langit selama dua menit. Bilal, salah satu muridnya bertanya: “Ada apa, Abuya?”

Abuya al-Maliki menjawab: “Tidak ada apa-apa.”

Saat itu, seharusnya bulan sedang purnama sangat indah, namun malam itu justru tertutup awan. “Sebelumnya dalam beberapa hari terakhir, beliau selalu meminta agar murid-muridnya melihat bulan, dan bertanya apakah bulan sudah kelihatan?”

Dari rumah sakit, beliau tidak langsung ke rumah, tapi ke pondok pesantren, untuk menemui murid-murinya. Saat itu jam 03.00. “Saya sendiri yang membukakan pintu gerbang. Setelah itu, datang Sayyid Abbas, adiknya, bersama keluarga yang lain. Kami bersama-sama membaca qasidah, lalu terlibat dalam obrolan yang sesekali diselingi dengan tertawa lebar”, cerita Habib Hamid sambil mengenang peristiwa penting itu.

Pertemuan malam itu, katanya, diakhiri dengan sahur bersama. Sebelumnya, Abuya sempat bertemu kakaknya dan bikin perjanjian untuk berbuka puasa hanya dengan tiga buah kurma dan air zamzam. “Pas jam 04.00, beliau meminta semuanya istirahat dan bersiap shalat Shubuh. Beliau sendiri masuk ke kamar kerjanya.”

Di kamar itu, beliau ditemani Bilal dan Burhan. Tapi Bilal diminta keluar kamar. Saat itulah, Sayyid Muhammad al-Maliki tiba-tiba bertanya kepada Burhan. “Hai, Burhan. Aku sebaiknya istirahat di kursi atau di bumi (maksudnya karpet)?”

“Terserah Abuya.” Sahut Burhan bingung, karena tidak tahu harus menjawab Abuya. Bagaimana mungkin seorang murid memutuskan sesuatu untuk gurunya?

“Saya akan istirahat di bumi saja.” Kata Sayyid Muhammad al-Maliki.

Beliau kemudian duduk menghadap kiblat dan bersandar. Sesaat, sempat mengambil buku dari tangan Burhan. Tapi kemudian, diletakkan di meja, lalu beliau menengadah menyebut, “Lailaaha illallah….”

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un...” hanya itu yang terucap dari mulut Burhan. Hari tepat tanggal 15 Ramadhan 1425 H atau 29 Oktober 2004, saat pagi mulai membuka kehidupan, Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani wafat. Jenazah almarhum langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter menyuruh semua keluarga dan murid-murid beliau untuk pulang ke Pondok Pesantren.

Tepat seusai shalat Shubuh, ambulan rumah sakit yang membawa jenazah Abuya, tiba di kediaman beliau. “Saya pingsan. Ya, sepertinya, pertemuan saya dengan beliau hanya untuk mengantarkan jenazahnya ke Ma’la, tempat beliau dimakamkan, dekat dengan makam Sayyidah Khadijah al-Kubra, yang qasidahnya dibaca setiap kali selesai shalat Tarawih.”

c.       Berkah Doa Al-Fatihah

Mari kita hadiahkan al-Fatihah untuk Guru kita al-‘Allamah al-Muhaddits Prof. Dr. as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani. Beliau wafatnya pada hari Jum’at, malam 15 Ramadhan di waktu sahur, wafat di saat beliau beristighfar di waktu Sahur, pada malamnya beliau tidak mengajar kitab-kitab namun banyak menceritakan perihal surga dan menyatakan hasratnya untuk bertemu dengan ayahnya, Sayyid Alawi al-Maliki.

Beliau wafat hari Jumat 15 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2004 M dan dimakamkan di pemakaman al-Ma’la di samping makam istri Rasulallah Saw. Khadijah binti Khuailid Ra. dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al- Hasan dan al-Husein dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu di sini.

Ilaa hadhrotinnabiyil musthofa rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, wa ila ruuhi sayyid muhammad bin alawi al-maliki qoddasallahu sirrohu wanawwaro dloriihahu, al-Fatihah...

http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/07/isyarat-kewafatan-sayyid-muhammad-bin.html

Al Habib Mustofa bin Soleh Al-Haddad

Gigih Beramar Ma’ruf Nahi Munkar


Usianya telah merambat senja, namun semangatnya dalam menegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar tetap membara. Itulah sosok dai Habib Mustofa bin Soleh Al-Hadad dari Pontianak yang juga dikenal sebagai Ketua Front Pembela Islam (FPI) Kalimantan Barat


Pria berumur 58 tahun ini gigih membrantas segala bentuk kemunkaran di mana tempat. Kerap ia berurusan dengan aparat keamanan dan pemerintah di Pontianak karena kevokalannya menyuarakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Bahkan ia sempat ditahan oleh kepolisian karena sikapnya yang berlawanan dengan sikap pemerintah. Tapi itu dulu, sekarang ia banyak berkecimpung dalam barisan Front Pembela Islam (FPI) Kalimantan Barat dan juga kesibukannya banyak diisi dengan berdakwah baik di Pesantren yang ia pimpin atau pun menghadiri majelis-majelis taklim yang mengundangnya.

Habib Mustofa bin Soleh Al-Haddad, kelahiran Pontianak 17 Agustus 1949 ini adalah putra 3 dari 6 bersaudara dari Habib Soleh Al-Haddad. Ia mengenyam pendidikan dasar sampai kelas III Sekolah Rakyat (SR). Kemudian ia melanjutkan ke Pondok Pesantren Darul Hadits, Malang (Jawa Timur) yang diasuh oleh Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih selama 10 tahun (1957-1967).

Selama di Darul Hadits, ia seangkatan dengan Habib Syekh bin Ali Al-Jufri, Habib Abdul Qadir Al-Hadad (Condet, Jakarta Timur), Habib Mustofa bin Abdul Qadir Alaydrus (Sabilal Muhtadin, Jakarta Selatan), Habib Ahmad Habsyi (Palembang), Habib Abdullah Abdun (Malang), Habib Abdullah bin Alwi Al-Kaff (Cirebon), Habib Ali bin Ahmad Al-Jufri (Pekalongan) dan lain-lain.

Habib Mustofa mengaku sangat terkesan selama menempuh pendidikan di Pesantren yang banyak menghasilkan ahli hadits itu. ”Banyak ilmu yang diajarkan kepada saya sehingga saya bisa seperti ini. Ini semua berkat bimbingan beliau dan putranya Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih.”

Pesan dari Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih kepadanya dan selalu dipegangnya sampai sekarang:”Belajarlah kamu hati-hati dan kamu sebagai seorang ulama; jaga sikap tawadhu, jangan sombong dan takabur. Gunakanlah ilmu ini untuk menegakan kalimat tauhid dan sampaikan ilmumu untuk mendidik umat Nabi Muhammad SAW supaya menjadi umat yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.”

Setelah dari Darul Hadits pada tahun 1967, ia pulang ke Pontianak dan belajar dengan abahnya sekitar 10 tahun sampai meninggal. Abah Habib Mustafa, Habib Soleh bin Alwi bin Abubakar Al-Haddad adalah seorang ulama yang wafat pada bulan Muharam 1403 H.

Pada tahun 1994, ia mendirikan pesantren pada tahun 1994. “Sekarang ada 300 santri, yang menetap sekitar 100 santri dan 60 diantaranya adalah anak-anak yatim piatu,” kata Bapak 19 putra (10 laki-laki, 9 putri) ini kepada alKisah.

Latar belakang membuka pesantren yang banyak dihuni oleh anak-anak yatim piatu, ”Karena kita ingin mengikuti jejak Rasulullah SAW. Karena Rasulullah merangkul pada anak-anak yatim, dan kita perlu membina anak-anak yatim ini,” kata ketua Front Pembela Islam (FPI) Kalimantan Barat ini lebih lanjut.

Menurutnya, selama mengasuh Pesantren, tantangan dan hambatan nyaris sangat sedikit, ”Biasa santri-santri ada yang nakal dan ada yang tidak. Cuma itu lainnya tidak ada,” katanya. Lebih lajut, Habib Mustofa menuturkan kalau perjuangan dilandasi dengan semangat keikhlasan akan banyak ditolong oleh Allah SWT. ”Dengan semata-mata berjuang untuk menolong umat Rasulullah SAW supaya bertaqwa kepada Allah. Kami Alhamdulillah tidak kekurangan makanan dan minuman. Banyak donatur yang, mengantarkan kebutuhan santri ke Pesantren.”

Selain itu, di pesantrennya santri-santri mendapat perlakuan yang sama sebagaimana anak-anaknya. “Kami menganggap seluruh santri yang ada di Pesanteen ini seperti anak sendiri. Santri dan anak kita tidak ada perbedaan. Sama seperti anak kita. Kita selalu berdoa kepada Allah, supaya santri-santri ini bisa diberikan ilmu yang bermanfaat dijadikan ulama yang warasatul anbiya (Pewaris para Nabi) supaya kalau kita mati merekalah yang bisa meneruskan pondok pesantren ini. Hanya itu niat kami.”

Selain itu, di pesantren Riyadhul Jannah Pontianak, santri-santri diwajibkan menggunakan bahasa arab sebagai bahasa percakapan bersehari-hari.”Kalau mereka sudah betul-betul fasih berbahasa Arab dan ilmu nahwunya, baru mereka diperbolehkan memperdala bahasa asing lainnya, seperti bahasa Inggris. Sebab kalau kita tak tahu ilmu Nahwu, tidak boleh kita mengartikan Al-Qur’an.”


AIR BEKAS PEMANDIAN JASAD RASULULLAH SAW

Salah seorang santri Rubath Tarim li al-Habib Salim bin Abdullah asy-Syathiri, Ustadz Mochammad Nuzulul Bawwakiel Muttaqien, suatu hari mengkisahkan tentang “Air pemandian Rasulullah Saw.”

Alkisah, asy-Syaikh al-Fadhil Mutwalli asy-Sya’rawi pernah diundang untuk menghadiri sebuah acara muktamar di Arab. Dalam majelis muktamar tersebut, asy-Syaikh mengajukan pertanyaan yang tidak pernah disangka oleh semua hadirin, terutama pimpinan muktamar. Beliau bertanya: “Ke manakah air bekas pemandian jenazahnya Rasulullah Saw.?”

Semua hadirin seperti terbungkam, tidak ada satu pun ulama yang menjawabnya. Hingga pimpinan muktamar berkata: “Ya Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi, pertanyaan ini perlu jawaban dan pembahasan. Aku akan menjawabnya pada pertemuan mendatang.”

Sepulang dari muktamar, pemimpin majelis muktamar itu menjadi gelisah. Dengan segala kemampuannya dicarilah dalalah dan kisah atau riwayat yang menunjukkan tentang “Ghusalah”, air bekas pemandian jasad Rasulullah Saw. itu.

Namun semua kitab pun tanpa bergeming dan enggan memberikan jawban. Di tengah kecapekannya, tertidurlah pemimpin majelis muktamar itu. Dan di dalam mimpinya ia bertemu Rasulullah Saw. yang sedang bersama seorang lelaki agung, membawa sebuah qindil (lentera). Sang pemimpin muktamar sangat senang sekali dan berkata: “Ya Rasulullah, ke manakah air bekas pemandian jasad Tuan Saw.?”

Rasulullah Saw. tersenyum dan menjawab: “Bertanyalah kepada shahibul qindil” (sembari menunjuk lelaki yang membawa lentera).

Maka bertanyalah sang pemimpin majelis muktamar kepada lelaki itu, dan dijawab dengan suara yang halus dan jelas: “Air bekas pemandian jasad Rasulullah Saw. naik ke langit, kemudian turunlah air itu ke bumi. Tidak akan jatuh percikan air itu di bumi kecuali Allah menjadikannya sebuah masjid.”

Terbangunlah sang pemimpin muktamar itu dengan wajah berseri dengan ditemukannya jawaban dari pertanyaan Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi. Dan ketika pertemuan muktamar dilanjutkan, sang pimpinan muktamar itu berkata kepada Syaikh asy-Sya’rawi: “Aku telah menemukan jawaban dari pertanyaan Anda ya Syaikh.”

Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi menyahut: “Apakah itu jawaban dari shahibul qindil?”

Pemimpin muktamar itu bertanya: “Apakah Anda mengetahuinya?”

Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi berkata: “Akulah shahibul qindil itu.”

http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/12/air-bekas-pemandian-jasad-rasulullah-saw.html

IBADAH 500 TAHUN Hanya Sebanding dengan Satu kenikmatan penglihatan

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju kami, lalu bersabda, 'Baru saja kekasihku Malaikat Jibril keluar dariku dia memberitahu, 'Wahai Muhammad, Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran. Sesungguhnya Allah memiliki seorang hamba di antara sekian banyak hambaNya yang melakukan ibadah kepadaNya selama 500 tahun, ia hidup di puncak gunung yang berada di tengah laut. Lebarnya 30 hasta dan panjangnya 30 hasta juga. Sedangkan jarak lautan tersebut dari masing-masing arah mata angin sepanjang 4000 farsakh. Allah mengeluarkan mata air di puncak gunung itu hanya seukuran jari, airnya sangat segar mengalir sedikit demi sedikit, hingga menggenang di bawah kaki gunung.

Allah juga menumbuhkan pohon delima, yang setiap malam mengeluarkan satu buah delima matang untuk dimakan pada siang hari. Jika hari menjelang petang, hamba itu turun ke bawah mengambil air wudhu’ sambil memetik buah delima untuk dimakan. Kemudian mengerjakan shalat. Ia berdoa kepada Allah Ta’ala jika waktu ajal tiba agar ia diwafatkan dalam keadaan bersujud, dan mohon agar jangan sampai jasadnya rusak dimakan tanah atau lainnya sehingga ia dibangkitkan dalam keadaan bersujud juga.

Demikianlah kami dapati, jika kami lewat dihadapannya ketika kami menuruni dan mendaki gunung tersebut.

Selanjutnya, ketika dia dibangkitkan pada hari kiamat ia dihadapkan di depan Allah Ta’ala, lalu Allah berfirman, 'Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu.' Hamba itu membantah, 'Ya Rabbi, aku masuk Surga karena perbuatanku.'
Allah Ta’ala berfirman, 'Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu.' Hamba tersebut membantah lagi, 'Ya Rabbi, masukkan aku ke surga karena amalku.'
Kemudian Allah Ta’ala memerintah para malaikat, 'Cobalah kalian timbang, lebih berat mana antara kenikmatan yang Aku berikan kepadanya dengan amal perbuatannya.'
Maka ia dapati bahwa kenikmatan penglihatan yang dimilikinya lebih berat dibanding dengan ibadahnya selama 500 tahun, belum lagi kenikmatan anggota tubuh yang lain. Allah Ta’ala berfirman, 'Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke Neraka!'
Kemudian ia diseret ke dalam api Neraka. Hamba itu lalu berkata, 'Ya Rabbi, benar aku masuk Surga hanya karena rahmat-Mu, masukkanlah aku ke dalam SurgaMu.'
Allah Ta’ala berfirman, 'Kembalikanlah ia.'
Kemudian ia dihadapkan lagi di depan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala bertanya kepadanya, 'Wahai hambaKu, Siapakah yang menciptakanmu ketika kamu belum menjadi apa-apa?'
Hamba tersebut menjawab, 'Engkau, wahai Tuhanku.'
Allah bertanya lagi, 'Yang demikian itu karena keinginanmu sendiri atau berkat rahmatKu?'
Dia menjawab, 'Semata-mata karena rahmatMu.'
Allah bertanya, 'Siapakah yang memberi kekuatan kepadamu sehingga kamu mampu mengerjakan ibadah selama 500 tahun?'
Dia menjawab, 'Engkau Ya Rabbi.'
Allah bertanya, 'Siapakah yang menempatkanmu berada di gunung dikelilingi ombak laut, kemudian mengalirkan untukmu air segar di tengah-tengah laut yang airnya asin, lalu setiap malam memberimu buah delima yang seharusnya berbuah hanya satu tahun sekali? Di samping itu semua, kamu mohon kepadaKu agar Aku mencabut nyawamu ketika kamu bersujud, dan aku telah memenuhi permintaanmu!?'
Hamba itu menjawab, 'Engkau ya Rabbi.'
Allah Ta’ala berfirman, 'Itu semua berkat rahmatKu. Dan hanya dengan rahmatKu pula Aku memasukkanmu ke dalam Surga. Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga! HambaKu yang paling banyak memperoleh kenikmatan adalah kamu wahai hambaKu.' Kemudian Allah Ta’ala memasukkanya ke dalam Surga."
Jibril ‘Alaihis Salam melanjutkan, "Wahai Muhammad, sesungguhnya segala sesuatu itu terjadi hanya berkat Rahmat Allah Ta’ala." (HR. Al-Hakim, 4/250.)

http://simtuddurorkebumen.blogspot.com/

Kamis, 02 Januari 2014

Menabur Benih Gandum Sembari Berdzikir

Di sebuah desa, di dekat kota Thus tinggallah seorang hamba Allah yang saleh. Imam Ghazali yang telah kembali ke kota Thus pun segera mengunjunginya. Menyaksikan kedatangan Imam Ghazali, orang saleh yang sedang menabur benih gandum di kebunnya tersebut, serta merta menyambutnya. Salah seorang teman orang saleh itu bermaksud menggantikannya menabur benih gandum sementara dia menemui Imam Ghazali, namun orang saleh tersebut menolak permintaannya.
Dalam hati, Imam Ghazali bertanya-tanya, mengapa ia tidak mau digantikan? Beberapa waktu kemudian beliau pun menanyakan alasan orang saleh itu tidak membiarkan temannya menggantikannya menabur benih gandum tersebut. Orang saleh itu pun menjawab, “Aku selalu menabur benih gandum ini dengan hati yang khusyuk dan lisan yang berdzikir kepada Allah. Aku berharap agar setiap orang yang memanen gandum ini nantinya memperoleh keberkahan. Karena itulah aku tidak menyerahkan benih ini kepada seseorang yang akan menaburnya dengan hati yang tidak khusyuk dan lisan yang tidak berdzikir kepada Allah.
Orang-orang saleh terdahulu selalu menanamkan niat yang baik dalam setiap gerak dan diam mereka. Karena itulah, kehidupan orang-orang saleh terdahulu diliputi keberkahan. Lain halnya dengan kita yang hidup di zaman sekarang. Saat ini, jangankan ketika menanam benih, dalam shalat pun kita sering lupa dan tidak mengingat Allah. Yang teringat adalah dunia; anak, pasangan hidup, pekerjaan, dan berbagai kegiatan duniawi yang mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Alangkah indahnya jika kita dapat mencontoh akhlak orang saleh dalam kisah di atas. Bagaimana kiranya jika ketika menanak nasi, memasak di dapur, menyuapi anak, dan sejenisnya, semua itu dilakukan sembari berdzikir kepada Allah….?
« Ta’riful Ahya Bifadhailil Ihya, Darul Fikr, Beirut, Juz.I, Hal.172


Membangun Surga Di Muka Bumi

Dalam kisah jaman dahulu kala ternyata di bumi ini pernah bertengger 4 penguasa penuh, yg 2 orang muslim yakni Nabi Sulaiman as bin Dawud as dan Iskandar Dzulqornain, 2 orang lagi kafir yakni Namrudz bin Kan’an bin Nuh as, dan Syidad (bin ‘ Ad bin ‘Aush bin Irom bin Sam bin Nuh as).
Konon Syidad ini ukuran tubuhnya lebih besar dari rata-rata manusia biasa, usianya mencapai 1000 tahun, memiliki 1000 orang istri dan 4000 anak. Dengan kekuasaan penuh di muka bumi dia bisa melakukan apa saja yang diinginkan. Kabar tentang sifat-sifat surga yang dia baca dari kitab-kitab para nabi tergugah hatinya untuk membuat surga di muka bumi.
Mulailah dia mengumpulkan menteri-menterinya yang berjumlah 1000 orang, para pembesar, para ahli dan arsitek, dikerahkan seluruh manusia untuk mencari, menggali dan mengumpulkan seluruh benda-benda barang tambang berharga, seperti emas, perak intan, zamrud, zabarjud, marjan dan mutiara. Marmer terbaik yang ada di bumi ini diangkut, juga tak ketinggalan bahan-bahan  parfum dan misik pun dikumpulkan.
Setelah terkumpul dalam jumlah besar dan terus sambil mencari, Syidad mendelegasikan pakar-pakar geografi dan arsitek untuk menelusuri lokasi-lokasi di penjuru bumi. Mereka mendapati sebuah kawasan luas ada dataran rendah dan tinggi yang banyak sumber airnya.
Kawasan terindah masa itu adalah daerah Yaman. Mereka mengambil kawasan 80 km x 80 km dan dibuatnya benteng seputarnya dengan marmer yang sangat tinggi dan di atasnya dibuat dinding bata dari emas. Setelah selesai bangunan benteng tersebut mulailah membangun istana inti dengan bahan mas bertatahkan batu-batu permata yang berkilauan, di sekeliling istana dibangun bungalau2 untuk istri-istri dan anak-anak mereka, serta kawasan taman rekreasi yang sangat indah dan berbagai bangunan lainnya
Di sekitar istana dibangunlah sungai-sungai yang bertebing batu-batu mulia dan pohon-pohon berdaun emas berbatang zamrud dan zabarjud. Negeri indah ini selesai pembangunannya dalam waktu 300 tahun, Imam Wahab bin Munbih mengatakan kota indah seperti ini tak akan dijumpai lagi di muka bumi,
Firman Allah :” Bangsa Irom yang memiliki bangunan-bangunan megah yang tak dibuat di negeri-negeri lainnya”.
Setelah usai sempurna pembangunan tersebut raja Syidad memerintahkan untuk memboyong kekayaannya ke istana baru tersebut dan mengusungnya memakan waktu 10 tahun. Mulailah Syidad boyong menuju istana baru dengan keluarga besarnya serta para menteri dan pembesar kerajaan. Namun apa yg terjadi ?
Hanya kehendak Allahlah yang berlaku pada setiap makhluk-NYA. Sesampainya Syidad di gerbang istana tiba-tiba datang seorang malaikat dan berkata :  ” Hai Syidad jika kamu mengakui bahwa Allah adalah Tuhan Yang Esa, aku persilahkan kamu tinggal di istana ini, jika tidak maka aku cabut nyawamu sekarang juga “
Mendengar perkataan itu Syidad menjadi marah dan bengis serta bertambah tambah kesesatannya, maka berteriaklah malaikat tersebut hingga Syidad dan rombongannya mati seketika, dan tak seorangpun yang masuk ke kota megah tsb, ada yang berpendapat kota itu ikut hancur seluruhnya, ada juga yang berpendapt kota itu tetap dalam keindahannya hingga masa-masa berikutnya, wallahu a’lam
(Sumber : Kitab Badai’uz zuhur)


http://www.sarkub.com/2012/membangun-surga-di-muka-bumi/

makanan orang mulia adalah obat

Suatu hari Imam Syafii berkunjung ke rumah Imam Ahmad Ibn Hanbal.  Setelah usai dijamu oleh Imam Ahmad, dengan makanan-makanan, Imam Syafii tidur di kamarnya.
Saat pagi menjelang, putri Imam Ahmad Ibn Hanbal berkata pada ayahnya: “wahai ayah, benarkah ini Imam Syafii yang sering kau ceritakan?”
.
Imam Ahmad menjawab: “benar putriku!”
“Ada tiga hal yang saya perhatikan darinya, pertama saat kami suguhkan makanan kepadanya, dia makan banyak sekali,
Kedua saat dia masuk kamar dia tidak menjalankan shalat malam,
Ketiga saat shalat subuh dengan kita, dia tidak berwudlu.” kata sang putri.
Tiba-tiba saat Imam Syafii berpapasan dengan Imam Ahmad Ibn Hanbal, Imam Syafii menjawab tiga hal yang dipertanyakan putrinya.
“Wahai, Ahmad!” tegur Imam Syafii, “aku makan banyak sekali, karena tahu bahwa makan-makananmu dari harta yang halal, sesungguhnya engkau adalah orang mulia, dan makanan orang mulia adalah obat, dan makanan orang kikir adalah penyakit. saya tidak makan untuk sekedar kenyang, sesungguhnya aku memakan  makananmu untuk obat.”
“Adapun mengenai aku tidak shalat malam, karena setiap aku meletakkan kepalaku untuk tidur, saya melihat seakan didepanku ada al-quran dan al-hadits, Allah membukanya untukku dengan 72 masalah ilmu fiqh. saya berharap ummat memanfaatkannya, dan saya tidak menemukan kesempatan untuk shalat malam.”
“Terkait dengan shalat subuh yang tanpa wudlu’, Demi Allah saya tidak tidur kecuali sebelumnya saya memperbarui wudlu”, sepanjang malam saya tidak tidur, maka saya shalat subuh dengan kalian dengan wudlu’ shalat isya’”
Referensi Fawaidul Mukhtaroh hal. 171-172 berdasar Anis al Mu’minin hal. 80